MALANGPARIWARA.COM – Upaya mengubah limbah rumah tangga menjadi produk bernilai guna diperkenalkan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang (Polinema) kepada anggota PKK Desa Pajaran, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Melalui pelatihan yang digelar di Balai Desa Pajaran, Sabtu (8/8/2026), sekitar 10 anggota PKK diajak mempraktikkan pembuatan sabun cuci dengan menerapkan konsep green process atau proses yang lebih memperhatikan efisiensi bahan, keamanan, serta keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan yang dipimpin Ernia Novika Dewi tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Pajaran.
Kepala Desa Pajaran, Nursodik, mengapresiasi keterlibatan Polinema dalam memberikan pengetahuan yang dapat langsung diterapkan masyarakat.
Menurutnya, pelatihan semacam ini tidak hanya menambah keterampilan warga, tetapi juga membuka peluang agar kegiatan produktif di tingkat PKK dapat berkembang menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi.
“Kami berharap kerja sama Polinema dengan Desa Pajaran dapat terus berlanjut melalui program pendampingan lainnya, sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam pelatihan, peserta tidak sekadar diperkenalkan pada teknik pembuatan sabun. Mereka juga diajak memahami bagaimana prinsip ramah lingkungan dapat diterapkan sejak pemilihan bahan baku, formulasi, proses pencampuran, sanitasi peralatan, hingga menghasilkan produk siap digunakan.
Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pemanfaatan kulit jeruk sebagai sumber pewangi alami.
Kulit jeruk yang selama ini berpotensi menjadi limbah rumah tangga diperkenalkan sebagai bahan yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai tambah.
Tim PPM memperkenalkan teknologi Microwave-Assisted Extraction (MAE) untuk mengekstraksi minyak atsiri dari kulit jeruk.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari penerapan konsep green process karena mendorong pengolahan bahan sisa menjadi material yang memiliki manfaat baru.
Minyak atsiri hasil ekstraksi kemudian dimanfaatkan sebagai pewangi alami dalam formulasi sabun cuci.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya belajar membuat produk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memperoleh wawasan mengenai pemanfaatan limbah organik melalui teknologi sederhana dan aplikatif.
Suasana pelatihan semakin interaktif ketika peserta mengikuti praktik secara langsung menggunakan metode learning by doing.
Dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Polinema mendampingi anggota PKK mulai dari menyiapkan bahan, melakukan pencampuran, hingga proses akhir pembuatan sabun.
Ketua Tim PPM, Ernia Novika Dewi, berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat dikembangkan lebih jauh, tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga.
“Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi anggota PKK untuk mengembangkan kegiatan produktif secara mandiri,” kata Ernia.
Ia menilai produk sabun cuci ramah lingkungan juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Namun, peluang tersebut perlu didukung dengan konsistensi kualitas, proses produksi yang baik, serta kemasan yang menarik.
Bagi Jurusan Teknik Kimia Polinema, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membawa pengetahuan dan teknologi dari lingkungan kampus agar dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Konsep green process yang diperkenalkan juga menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana, termasuk mengurangi limbah dan mengolahnya kembali menjadi produk yang bermanfaat.
Melalui kegiatan ini, Tim PPM Polinema berharap anggota PKK Desa Pajaran semakin terampil memanfaatkan potensi di sekitar mereka.
Selain menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya kegiatan produktif yang mendukung kemandirian dan peningkatan ekonomi masyarakat.(Djoko W)






