MALANGPARKWARA.COM – Universitas Brawijaya (UB) kembali memperkuat inovasi di bidang pertanian.
Dosen Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) UB mengembangkan teknologi induksi poliploidi pada bawang merah menggunakan kolkisin yang kini telah memperoleh perlindungan Paten Sederhana Nomor IDS000013797 dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Teknologi tersebut dikembangkan oleh Dr. Darmawan Saptadi, S.P., M.P., Dr. Budi Waluyo, S.P., M.P., dan M. Alif Kaisar Syahrir, S.P. Sertifikat paten mencatat permohonan diajukan pada 4 Juni 2025 dan hak paten diberikan pada 26 Mei 2026.
Inovasi ini menjadi langkah penting dalam pengembangan pemuliaan bawang merah.
Melalui induksi poliploidi, peneliti berupaya menciptakan keragaman genetik baru yang selanjutnya dapat diseleksi untuk memperoleh tanaman dengan karakter agronomis yang lebih potensial.
Kolkisin Jadi Kunci Induksi Poliploidi
Dalam prosedur yang dipatenkan, kolkisin digunakan sebagai agen untuk menginduksi perubahan jumlah set kromosom tanaman.
Tahapannya dimulai dari persiapan umbi bawang merah, pemberian perlakuan kolkisin dengan konsentrasi tertentu, perendaman, hingga penanaman material hasil perlakuan.
Dokumen paten mencantumkan empat tingkat konsentrasi kolkisin, yakni 500, 750, 1.000, dan 1.250 ppm. Umbi diberikan perlakuan melalui metode perendaman selama 12 jam sebelum ditanam.
Material tanaman yang dihasilkan kemudian dapat dikaji melalui karakter morfologi dan fisiologi untuk mengetahui perubahan yang terjadi serta potensi pengembangannya dalam program pemuliaan.
Dr. Darmawan Saptadi menjelaskan, teknologi tersebut dikembangkan untuk memperluas sumber keragaman yang dapat dimanfaatkan dalam pemuliaan bawang merah.
“Induksi poliploidi membuka peluang untuk menghasilkan keragaman genetik baru yang selanjutnya dapat diseleksi dalam program pemuliaan,” ujarnya.
Menurut Darmawan, keragaman genetik merupakan modal penting dalam menghasilkan tanaman yang memiliki karakter sesuai dengan kebutuhan produksi dan tantangan budidaya di masa depan.
Peningkatan produksi pertanian, kata dia, tidak selalu cukup dilakukan dengan menambah input budidaya. Perbaikan karakter genetik tanaman menjadi salah satu strategi jangka panjang untuk mendapatkan bahan tanam dengan karakter agronomis yang lebih baik.
Bawang Merah Butuh Basis Genetik yang Lebih Luas
Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berpengaruh terhadap kebutuhan pangan masyarakat. Fluktuasi produksi, perubahan kondisi lingkungan, hingga tuntutan peningkatan produktivitas membuat inovasi pemuliaan semakin dibutuhkan.
Di titik inilah teknologi induksi poliploidi memiliki peluang strategis. Teknik tersebut bukan semata-mata menghasilkan tanaman dengan perubahan jumlah kromosom, tetapi membuka sumber keragaman baru yang dapat menjadi bahan bagi pemulia untuk diseleksi.
Dr. Budi Waluyo menegaskan bahwa keberhasilan pemuliaan sangat bergantung pada ketersediaan keragaman genetik.
“Semakin luas keragaman genetik yang dapat kita hasilkan dan identifikasi, semakin besar pula peluang mendapatkan individu tanaman dengan karakter yang unggul,” kata Budi.
Ia menyebut induksi poliploidi sebagai salah satu pendekatan yang dapat memperbesar basis keragaman tersebut.
Namun, perolehan paten bukan berarti penelitian berhenti. Material tanaman hasil induksi masih membutuhkan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui kestabilan sifat serta potensi agronomisnya.
Paten Bukan Titik Akhir
Tahap berikutnya menjadi bagian penting untuk memastikan apakah material hasil induksi benar-benar memiliki karakter yang prospektif untuk dikembangkan.
Pengujian dapat mencakup karakter morfologi, pertumbuhan, produktivitas, kualitas umbi, hingga kajian genetik dan sitogenetik untuk memastikan perubahan tingkat ploidi pada tanaman.
“Paten memberi perlindungan terhadap metode yang telah kami kembangkan, tetapi pekerjaan ilmiahnya tentu terus berjalan,” ujar Darmawan.
Menurutnya, penelitian selanjutnya diarahkan untuk melihat sejauh mana material hasil induksi mampu menunjukkan karakter yang stabil dan memberikan nilai tambah bagi program pemuliaan bawang merah.
Dengan demikian, inovasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai teknologi laboratorium, tetapi dapat menjadi fondasi untuk menghasilkan material genetik baru yang memiliki prospek pengembangan lebih luas.
Dari Riset UB Menuju Pertanian Berkelanjutan
Sertifikat paten menetapkan Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi Universitas Brawijaya sebagai pemegang paten. Perlindungan paten sederhana tersebut berlaku selama 10 tahun sejak tanggal penerimaan sesuai ketentuan perundang-undangan.
Bagi FBiPK UB, capaian ini menunjukkan bagaimana riset perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan sektor pertanian, khususnya penguatan teknologi pemuliaan tanaman.
Di tengah tekanan perubahan iklim, keterbatasan lahan, peningkatan kebutuhan pangan dan tuntutan efisiensi produksi, pengembangan sumber daya genetik menjadi bagian penting dalam membangun pertanian yang lebih adaptif.
Riset induksi poliploidi bawang merah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi perguruan tinggi tidak berhenti pada publikasi ilmiah.
Perlindungan kekayaan intelektual menjadi salah satu jembatan untuk membawa hasil penelitian menuju pemanfaatan yang lebih luas.
Dari laboratorium, inovasi itu kini memiliki pijakan untuk dikembangkan lebih jauh menuju material tanaman yang berpotensi mendukung pemuliaan dan penguatan produktivitas bawang merah Indonesia.
Pengembangan teknologi ini juga sejalan dengan kontribusi UB terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada bidang pendidikan berkualitas, inovasi dan infrastruktur, serta perlindungan ekosistem daratan melalui SDG 4, SDG 9, dan SDG 15.( Djoko W)









