Malangpariwara.com – Universitas Brawijaya (UB) mengangkat kearifan lokal sebagai fondasi pendidikan karakter sekaligus penguatan identitas di kancah internasional melalui pagelaran Wayang Kulit Kontemporer Mutiara Kerang Kencana.
Pertunjukan yang mengusung Karakter Brawijayan ini menjadi media penanaman nilai integritas, kebajikan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan bagi generasi muda.
Pagelaran yang digelar di Gedung Samantha Krida UB, Sabtu (3/10/2026) malam, merupakan bagian dari rangkaian PINISHI hasil kolaborasi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB, sekaligus rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Sebanyak 979 mahasiswa baru dari kedua fakultas tersebut mengikuti pertunjukan yang memadukan seni pewayangan kontemporer dengan filosofi budaya Nusantara.
Melalui lakon Mutiara Kerang Kencana, UB berupaya menghadirkan pendidikan karakter yang tidak hanya dipahami secara akademis, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Pelaksana, Dr. Fuad, S.Pi., M.T., mengatakan, wayang dipilih sebagai media untuk mendekatkan nilai-nilai Karakter Brawijayan kepada mahasiswa melalui pendekatan budaya yang komunikatif dan sarat makna.
“Harapannya, Karakter Brawijayan tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi juga dapat ditanamkan dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari,” ujarnya.
Pagelaran ini sekaligus menandai tahun ketiga pengembangan Wayang Karakter Brawijayan. Program tersebut dimulai pada 2024 melalui pementasan Dewa Ruci di UB yang mengangkat pencarian jati diri dan penyucian hati. Pada 2025, program ini merambah ranah internasional melalui pementasan di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Malaysia.

Tahun ini, UB kembali menghadirkan pertunjukan di lingkungan kampus dengan mengangkat kebajikan, tanggung jawab, keberagaman, dan kesadaran spiritual sebagai nilai utama pembentukan karakter mahasiswa.

Wakil Rektor IV UB, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., menegaskan bahwa upaya internasionalisasi perguruan tinggi harus tetap berpijak pada identitas dan kekuatan budaya bangsa. Menurutnya, keterbukaan terhadap dunia global tidak boleh membuat perguruan tinggi kehilangan akar lokalnya.
“Menjadi bagian dari komunitas global bukan berarti harus meninggalkan jati diri bangsa. Justru budaya dan nilai-nilai lokal merupakan fondasi penting dalam membangun karakter dan memperluas kontribusi Universitas Brawijaya di tingkat internasional,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Karakter Brawijayan merupakan upaya membangun jati diri insan akademik dengan menjadikan budaya sebagai sumber pembelajaran, baik dalam memahami ilmu pengetahuan maupun menjalani kehidupan. Dengan demikian, nilai-nilai lokal dapat menjadi kekuatan dalam mencetak generasi yang mampu bersaing sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat global.
Sementara itu, salah satu penggagas konseptual Karakter Brawijayan, Prof. Dr. Iwan Triyuwono, menguraikan filosofi tersebut melalui pemaparan bertajuk Filosofi Air: Menghidupkan Kehidupan melalui Karakter Brawijayan.
Ia menjelaskan, Karakter Brawijayan berlandaskan filosofi “Jiwa Suci yang Selalu Menang”, dengan air sebagai metafora utama. Air memiliki sifat mengalir, memberi kehidupan, mampu beradaptasi, serta membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Air menjadi metafora utama dalam Karakter Brawijayan. Air mengalir, memberi kehidupan, menyesuaikan diri, dan membawa manfaat bagi sekitarnya,” jelasnya.
Filosofi tersebut merefleksikan karakter insan akademik yang diharapkan memiliki integritas, kepedulian, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu tidak berhenti sebagai pemikiran, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.
Pesan tersebut diterjemahkan ke dalam lakon Mutiara Kerang Kencana yang dibawakan Ki Tri Sulo dan Ki Daniswara, berkolaborasi dengan Sanggar Seni Gumelaring Sasangka Aji (GSA) pimpinan Rachmad Dian Kuncoro, M.Ling. Perpaduan wayang kontemporer dan filosofi budaya Nusantara menghadirkan refleksi tentang kebajikan, tanggung jawab, serta hubungan manusia dengan sesama dan alam.
Pagelaran ini juga terintegrasi dengan rangkaian World Water Monitoring Day (WWMD) 2026 UB. Filosofi air tidak hanya menjadi simbol pembentukan karakter, tetapi juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya air sebagai penopang kehidupan.
Melalui program Globalizing Universitas Brawijaya (GUB) di bawah koordinasi Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, UB berupaya memperluas pengenalan budaya Nusantara sekaligus memperkuat identitas institusi di tingkat global.
Pagelaran yang dihadiri jajaran pimpinan universitas, akademisi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, serta perwakilan fakultas ini menegaskan bahwa internasionalisasi tidak semata-mata diukur dari jejaring dan reputasi akademik.
Lebih dari itu, penguatan karakter dan kemampuan membawa nilai luhur budaya lokal menjadi bagian penting dari kontribusi perguruan tinggi di tingkat dunia.
Melalui Mutiara Kerang Kencana, UB ingin menanamkan pesan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan keterbukaan global harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya serta pembentukan karakter yang berintegritas dan berorientasi pada kemaslahatan.( Djoko W)







