Mahasiswa FBiPK UB Raih Gold Medal dan Juara Umum PENA 3 Lewat Gagasan GEMS

BANDUNG, Malangpariwara.com – Mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) menorehkan prestasi nasional dengan meraih Gold Medal, Juara 1, sekaligus Juara Umum dalam ajang Pekan Essay Nasional 3 (PENA 3) yang digelar Pena Competition bersama Politeknik TEDC Bandung, 3–4 Oktober 2026.

Prestasi tersebut diraih lima mahasiswa FBiPK UB melalui gagasan inovatif bertajuk “GEMS: Optimalisasi Tata Kelola Kesejahteraan Guru Honorer Berbasis Merit System dan Good Governance Guna Mendukung Indonesia Emas 2045.”

Tim yang terdiri atas Revand Christ Zomen Simanjuntak, Maria Tetania Simanjuntak, Nabil Muhammad Ridwan Rustandi, Hanif Fathurrohmat, dan Yeka Vanly Kusumaningati itu mendapat bimbingan dari Dr. Wisynu Ari Gutama, S.P., MMA.

GEMS berangkat dari persoalan yang masih dihadapi guru honorer, terutama terkait tata kelola kesejahteraan yang membutuhkan penguatan dari aspek transparansi, akuntabilitas, keadilan, serta sistem penilaian berbasis kinerja.

Tim FBiPK UB tidak berhenti pada identifikasi persoalan. Mereka menawarkan sebuah kerangka tata kelola yang menggabungkan prinsip merit system dan good governance untuk mendorong pengelolaan kesejahteraan guru honorer yang lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam konsep tersebut, pemberian kesejahteraan tidak semata dilihat dari aspek administratif, tetapi diarahkan agar memiliki dasar penilaian yang jelas, transparan, dan berbasis kinerja.

Padukan Tata Kelola dan Teknologi

Salah satu aspek yang menjadi kekuatan GEMS adalah pemanfaatan teknologi digital. Konsep tersebut dirancang dalam bentuk sistem berbasis website yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Distributed Ledger Technology (DLT).

Integrasi ketiga teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung pengelolaan data secara sistematis, membantu proses pengambilan keputusan berbasis data, sekaligus memperkuat transparansi dan keterlacakan informasi.

Dengan pendekatan tersebut, persoalan kesejahteraan guru honorer tidak hanya ditempatkan sebagai isu kebijakan, tetapi juga dilihat dari perspektif bagaimana sistem dapat dibangun agar pengelolaannya lebih terbuka, terukur, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Gagasan inilah yang kemudian membawa tim FBiPK UB meraih tiga capaian sekaligus dalam PENA 3. Bagi para mahasiswa,

penghargaan tersebut bukan sekadar capaian kompetisi, tetapi menjadi momentum untuk menguji sejauh mana gagasan yang mereka bangun mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Salah satu anggota tim menilai pengalaman mengikuti kompetisi menjadi ruang penting untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, bekerja secara kolaboratif, sekaligus menyusun solusi berdasarkan persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Prestasi ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan GEMS agar tidak berhenti sebagai sebuah gagasan dalam kompetisi. Kami berharap konsep ini dapat terus disempurnakan dan memberi kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan guru honorer di Indonesia,” ujarnya.

Guru dan Agenda Indonesia Emas 2045

Tim FBiPK UB memandang isu kesejahteraan guru memiliki hubungan erat dengan agenda pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Guru merupakan salah satu komponen penting dalam membentuk kualitas generasi masa depan. Karena itu, menurut tim, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dilepaskan dari bagaimana negara dan pemangku kepentingan membangun ekosistem kerja serta tata kelola kesejahteraan guru yang adil.

Dari perspektif tersebut, GEMS mencoba menempatkan kesejahteraan guru bukan hanya sebagai persoalan pemberian insentif, tetapi bagian dari tata kelola sumber daya manusia pendidikan yang membutuhkan sistem penilaian, transparansi data, akuntabilitas, dan pemanfaatan teknologi.

Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa FBiPK UB mampu membawa perspektif lintas disiplin. Meskipun berada dalam lingkungan akademik yang berfokus pada bio-industri, pertanian, dan kehutanan, mereka mampu mengembangkan gagasan yang bersinggungan dengan tata kelola pemerintahan, kebijakan publik, teknologi digital, dan pembangunan sumber daya manusia.

Pembimbing Dorong Gagasan Tak Berhenti di Kompetisi

Pembimbing tim, Dr. Wisynu Ari Gutama, S.P., MMA., mengapresiasi capaian tersebut.

Menurutnya, kompetisi ilmiah menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengidentifikasi persoalan, membangun argumentasi, sekaligus merancang solusi yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

“Kompetisi seperti ini menjadi ruang yang baik bagi mahasiswa untuk belajar mengidentifikasi masalah, membangun argumentasi, serta merancang solusi yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Capaian ini patut diapresiasi dan diharapkan menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya yang memiliki manfaat lebih luas,” ujarnya.

Ia menilai capaian dalam PENA 3 menunjukkan kemampuan mahasiswa menggabungkan sejumlah perspektif dalam satu gagasan, mulai dari tata kelola, kebijakan, teknologi hingga persoalan sosial.

Keberhasilan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kompetisi essay dapat menjadi laboratorium akademik bagi mahasiswa untuk menguji gagasan sebelum dikembangkan lebih jauh.

Bagi tim FBiPK UB, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar mempertahankan prestasi kompetisi. Mereka berharap GEMS dapat dikembangkan melalui kajian yang lebih mendalam, penyempurnaan model implementasi, serta pengembangan sistem digital yang semakin aplikatif.

Dengan pengembangan tersebut, GEMS diharapkan tidak berhenti sebagai karya yang membawa pulang Gold Medal, Juara 1, dan Juara Umum PENA 3, tetapi dapat berkembang menjadi alternatif gagasan dalam membangun tata kelola kesejahteraan guru honorer yang lebih transparan, akuntabel, berbasis kinerja, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.(Djoko W)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *