Malangpariwara.com – Musim kemarau tak menyurutkan produktivitas petani jambu merah di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Berkat pengairan yang terjaga dan perawatan rutin, kebun jambu merah milik Matsuri tetap subur dengan hasil panen stabil. Di sisi lain, harga jual buah meningkat hingga Rp8.000 per kilogram.
Matsuri mengatakan, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk menjaga tanaman tetap tumbuh optimal di tengah cuaca panas. Selain memastikan pengairan berjalan lancar, ia rutin melakukan pemupukan dan mengendalikan serangan hama.
“Perawatan tanaman harus tetap diperhatikan, terutama pengairan. Selama sumber air tersedia dan pengairan berjalan lancar, tanaman bisa tetap tumbuh subur,” jelasnya.
Salah satu hama yang menjadi perhatian saat kemarau adalah kutu. Untuk mengatasinya, Matsuri melakukan penyemprotan pestisida secara rutin agar serangan hama tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.
Ia juga memanfaatkan sisa daun dan ranting dari pohon yang tidak berbuah sebagai bahan kompos alami. Sisa tanaman tersebut diletakkan di sekitar pangkal pohon agar terurai dan membantu menambah unsur hara tanah.
Pengelolaan itu dipadukan dengan pemberian pupuk kandang untuk menjaga kesuburan tanah dan mendukung produktivitas tanaman.
Harga Jambu Merah Naik saat Kemarau
Menurut Matsuri, cuaca panas tidak berdampak signifikan terhadap volume maupun kualitas buah yang dihasilkan di kebunnya. Jambu merah yang dipanen tetap memenuhi kebutuhan bahan baku jus.
Di tengah kondisi tersebut, harga jual jambu merah justru meningkat hingga Rp7.000–Rp8.000 per kilogram. Harga ini menjadi peluang bagi Matsuri untuk meningkatkan pendapatan, terutama karena hasil panennya tetap stabil.
Pengalaman Matsuri menunjukkan bahwa produktivitas jambu merah saat musim kemarau dapat dipertahankan melalui pengairan yang memadai, perawatan tanaman secara konsisten, serta pengelolaan kesuburan tanah. Kombinasi tersebut menjadi kunci bagi petani untuk menjaga hasil panen sekaligus memanfaatkan peluang kenaikan harga.(Djoko W)







