Retno Marsudi “Guncang” Wisuda UMM: Dunia Krisis Air, Kampus Putih Diminta Pimpin Solusi Global

Malangpariwara.com  – Panggung Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (28/4/2026), berubah menjadi forum peringatan keras tentang masa depan bumi.

Retno Marsudi, Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, datang membawa kabar genting: dunia tengah menuju krisis air yang kian tak terkendali.(Ist)

Retno Marsudi, Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, datang membawa kabar genting: dunia tengah menuju krisis air yang kian tak terkendali.

Di tengah situasi global yang mengkhawatirkan itu, UMM justru mencuri perhatian. Kampus berjuluk “Kampus Putih” tersebut resmi menyandang mandat prestisius UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026—sebuah pengakuan kelas dunia yang menempatkan UMM di garis depan inovasi pengelolaan air berkelanjutan.

Dalam orasi ilmiahnya, Retno tak hanya memberi selamat, tetapi juga “menantang” UMM untuk mengambil peran lebih besar. Ia menegaskan, langkah-langkah kecil yang dilakukan kampus dalam riset dan pengabdian masyarakat kini telah beresonansi secara global.

“UMM menunjukkan bahwa solusi besar dunia bisa lahir dari aksi nyata di tingkat lokal,” tegasnya di hadapan ribuan wisudawan dan keluarga yang memadati arena.

Namun di balik apresiasi itu, Retno membeberkan fakta mencemaskan. Dunia kehilangan sekitar 600 gigaton gletser pada 2023. Dalam satu dekade terakhir, 80–90 persen bencana alam didominasi banjir. Sepanjang 2024 saja, banjir berdampak pada 400 juta orang dengan kerugian ekonomi mencapai 550 miliar dolar AS.

Tak berhenti di situ, ancaman kekeringan diproyeksikan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030. Bahkan, hingga kini sekitar 2,2 miliar penduduk dunia masih belum memiliki akses air minum yang aman.

“Krisis air bukan sekadar isu lingkungan, tapi ancaman nyata bagi pangan, kesehatan, dan stabilitas global,” ujarnya.

Retno menekankan, sektor pertanian yang menyerap 70 persen air tawar dunia menjadi titik krusial.

Tanpa inovasi, ketahanan pangan global bisa runtuh. Karena itu, ia mendorong UMM untuk mengakselerasi riset teknologi air—mulai dari efisiensi penggunaan, daur ulang, hingga desalinasi dan sistem pendingin hemat air.

Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa capaian UNESCO Chair bukan sekadar prestasi simbolik.

Menurutnya, ini adalah mandat besar yang harus diwujudkan dalam aksi nyata.

“Kami tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan solusi. Pengelolaan air menjadi fokus strategis yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Melalui program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan riset, pembelajaran, dan pengabdian untuk memperkuat ketahanan air, termasuk lewat pemanfaatan energi mikrohidro dan kolaborasi lintas sektor.

Di akhir prosesi, pesan kuat disampaikan kepada para wisudawan: gelar akademik bukan garis akhir, melainkan awal tanggung jawab. Mereka diminta menjadi agen perubahan yang tak hanya cerdas, tetapi juga peduli pada krisis lingkungan yang kian nyata.

Momentum wisuda kali ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Dari Malang, pesan global digaungkan: krisis air adalah ancaman nyata dan solusi harus dimulai sekarang.(Djoko W)