“Berpulang Usai Menyapa Pagi, Okky Satriyo Tinggalkan Kenangan Mendalam bagi Sahabat dan Keluarga”

Malangpariwara.com – Kabar duka menyelimuti keluarga besar alumni SMA Islam 87. Okky Satriyo, 60 tahun, mengembuskan napas terakhirnya pada Senin, 18 Mei 2025, diduga akibat serangan jantung mendadak usai menjalani olahraga jalan kaki pagi.

Almarhum meninggal dunia di kediamannya di Jalan Srani Raya, Sawojajar 2, Kota Malang.

Kepergian Okky begitu mengejutkan banyak pihak. Pagi itu, seperti hari-hari biasanya, ia pamit kepada keluarga untuk berjalan kaki berolahraga. Menurut keterangan Nina, adik almarhum, kakaknya tampak sehat dan semangat saat berangkat.

“Mas Okky tadi pagi seperti biasa olahraga jalan kaki. Pulangnya langsung duduk di teras sambil membuka bajunya karena merasa panas. Tadi juga cerita kalau berjalan cukup jauh sampai ke Sawojajar 1,” tutur Nina dengan mata berkaca-kaca.

Keluarga sebenarnya mengetahui bahwa almarhum telah lama memiliki riwayat sakit jantung. Namun selama ini Okky dikenal sebagai pribadi yang ikhlas dan pasrah menerima penyakit yang dideritanya. Bahkan, menurut keluarga, tidak jarang ia meminta dijemput istrinya ketika merasa tubuhnya sudah tidak kuat melanjutkan perjalanan saat berjalan kaki.

Detik-detik kepergian almarhum berlangsung begitu cepat. Sang istri mulai curiga ketika Okky tiba-tiba mendengkur dan sulit dibangunkan. Saat dicoba dibangunkan, tidak ada respons sama sekali. Tetangga yang juga seorang dokter sempat dipanggil untuk memeriksa kondisinya. Namun saat itu, Okky diduga telah meninggal dunia.

Untuk memastikan, keluarga segera membawa almarhum ke rumah sakit, dan dokter menyatakan bahwa Okky telah berpulang.

Kabar wafatnya Okky membuat warga sekitar terkejut. Pasalnya, hanya beberapa jam sebelumnya ia masih terlihat berjalan kaki dan menyapa hangat warga yang ditemuinya di sepanjang jalan. Sosoknya dikenal sebagai pribadi pendiam, sederhana, namun sangat setia kawan.

Suasana haru menyelimuti rumah duka.(Djoko W)

Suasana haru menyelimuti rumah duka. Handai taulan, sahabat, tetangga, hingga rekan-rekan alumni SMA Islam 87 berdatangan memberikan penghormatan terakhir. Mereka mengantar almarhum hingga ke tempat peristirahatan terakhir di TPU dengan penuh doa dan kehilangan mendalam.

Anak anak almarhum di pemakaman .(Djoko W)

Almarhum meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, serta dua cucu yang kini harus menerima kenyataan pahit ditinggal sosok ayah dan kakek tercinta.

Ketua Alumni SMA Islam 87, H. Hushein, mengaku sangat kehilangan atas kepergian Okky. Ia mengenang almarhum sebagai sahabat lama yang penuh kebersamaan sejak masa sekolah.

“Semasa sekolah dulu, di luar kelas kami sering kumpul bersama di markas dekat sekolah di Jalan Kartini. Okky itu pendiam, tapi sangat peduli dengan teman,” kenangnya.

Teman alumni almarhum mengantar sampai tempat peristirahatan terakhir .(Djoko W)

Hushein juga menyampaikan pesan menyentuh kepada seluruh rekan alumni agar terus menjaga tali silaturahmi di tengah kesibukan dan usia yang terus bertambah.

“Saya berharap teman-teman alumni tetap aktif bersilaturahmi, meski hanya sekadar menyapa lewat pesan atau telepon. Dengan begitu kita bisa tahu kondisi kesehatan teman-teman. Kalau ada yang sakit, minimal kita bisa datang menjenguk dan memberi semangat,” ujarnya.

Kepergian Okky Satriyo menjadi pengingat bahwa hidup begitu singkat dan tak pernah bisa ditebak. Sosoknya mungkin telah pergi, namun kenangan tentang keramahan, kesederhanaan, dan persahabatan yang ia tinggalkan akan tetap hidup di hati keluarga, sahabat, dan teman-temannya.

Suasana di TPU mengantarkan jenasah Okky.(Djoko W)

Selamat jalan, sobat. Semoga tenang di alam barzah dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.(‎Djoko W)