Konflik AS–Iran Belum Usai, Pakar Ilmu Komunikasi UM Soroti Perebutan Pengaruh Geopolitik Dunia

Malangpariwara.com  – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian dunia internasional. Meski kedua negara mulai memasuki fase gencatan senjata, situasi tersebut dinilai belum sepenuhnya menjamin berakhirnya konflik.

Di balik meredanya serangan terbuka, perebutan pengaruh geopolitik global disebut masih terus berlangsung dan berpotensi memunculkan ketegangan baru.

Dosen Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang yang memiliki fokus kajian komunikasi politik, Dr. Akhirul Aminulloh, menilai konflik tersebut tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer semata.

Menurutnya, pertarungan yang terjadi juga menyangkut dominasi politik, kepentingan strategis, hingga perebutan pengaruh negara-negara besar dalam menentukan arah tatanan dunia.

“Konflik seperti ini tidak hanya berbicara tentang perang dalam arti fisik, tetapi juga mengenai bagaimana negara mempertahankan pengaruh dan kepentingannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, fase gencatan senjata dapat dimaknai dari dua perspektif berbeda. Di satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang deeskalasi dan menjadi pintu masuk menuju perdamaian. Namun di sisi lain, gencatan senjata juga dapat dimanfaatkan masing-masing pihak untuk melakukan konsolidasi strategi sebelum menentukan langkah politik dan keamanan berikutnya.

Menurut Akhirul, kemenangan dalam konflik internasional tidak selalu ditentukan oleh kekuatan militer semata.

Stabilitas pemerintahan, dukungan publik domestik, hingga kemampuan menjaga legitimasi politik di mata dunia juga menjadi faktor penting yang menentukan posisi suatu negara dalam percaturan global.

“Dalam konflik modern, kekuatan narasi dan legitimasi politik memiliki pengaruh besar terhadap posisi suatu negara di tingkat internasional,” jelasnya.

Ia menilai, di era globalisasi yang semakin terhubung, konflik di satu kawasan dapat memicu efek domino terhadap berbagai negara lain, termasuk Indonesia.

Salah satu sektor yang paling rentan terdampak ialah ekonomi global, terutama pada distribusi energi dan jalur perdagangan internasional.

“Ketika terjadi gangguan pada jalur distribusi energi atau perdagangan internasional, dampaknya tidak hanya dirasakan negara yang berkonflik, tetapi juga negara lain yang memiliki keterkaitan ekonomi,” katanya.

Gangguan tersebut, lanjutnya, berpotensi memicu kenaikan harga energi, terganggunya rantai pasok global, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Situasi itu sekaligus menjadi pengingat bahwa stabilitas geopolitik memiliki keterkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat internasional.

Selain dampak ekonomi, konflik berkepanjangan juga dinilai mampu mengubah keseimbangan politik global.

Akhirul menyoroti semakin dinamisnya peta kekuatan dunia, terutama dengan keterlibatan Rusia dan Tiongkok yang memiliki kepentingan strategis masing-masing dalam menjaga pengaruhnya di kawasan maupun dunia internasional.

“Perubahan fokus dan prioritas negara-negara besar dapat memunculkan dinamika baru dalam tatanan global,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai jalur diplomasi tetap menjadi instrumen paling rasional untuk menekan eskalasi konflik.

Keterlibatan berbagai negara dalam mendorong mediasi dan membuka ruang dialog diyakini dapat menciptakan peluang penyelesaian yang lebih konstruktif dibandingkan pendekatan konfrontatif.

“Semakin banyak pihak yang mendorong ruang dialog, maka semakin besar peluang untuk mencapai penyelesaian damai,” tegasnya.

Sebagai Kepala Komite Laboratorium Pancasila (Lapasila) UM, Akhirul juga menekankan pentingnya konsistensi politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi prinsip Indonesia.

Di tengah memanasnya dinamika geopolitik dunia, Indonesia dinilai perlu mempertahankan posisi strategis sebagai negara yang mendorong perdamaian internasional tanpa terjebak dalam kepentingan blok tertentu.

“Indonesia sejak awal memiliki tradisi untuk mendorong perdamaian dan menjaga posisi yang tidak terjebak pada kepentingan blok tertentu,” jelasnya.

Menurutnya, tantangan terbesar Indonesia ke depan bukan hanya mempertahankan prinsip bebas aktif, tetapi juga memperkuat kapasitas diplomasi agar mampu mengambil peran lebih aktif dalam merespons berbagai isu global yang terus berkembang.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, kata Akhirul, menjadi bukti bahwa stabilitas dunia saat ini semakin rapuh.

Dalam situasi global yang saling terhubung, ketegangan geopolitik tidak lagi berdampak secara lokal, melainkan turut memengaruhi ekonomi, keamanan, hingga hubungan antarnegara di berbagai belahan dunia.( Djoko W)