Kampung Bungas Balikpapan Jadi Teladan Nasional, Bambang Rianto: Pembangunan Lingkungan Harus Holistik dan Berkelanjutan

BALIKPAPAN,

Malangpariwara.com – Di tengah pesatnya perkembangan kawasan perkotaan, Kampung Bungas (Bunga, Buah, dan Sayur) di Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan, membuktikan bahwa pembangunan lingkungan tidak hanya soal mempercantik kawasan permukiman.

warga Kampung Bungas (Bunga, Buah, dan Sayur) di Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan terus bergotong royong bangun kampung.(Djoko W)

Melalui semangat gotong royong yang terus dipelihara selama bertahun-tahun, kampung ini berhasil menjelma menjadi kawasan hijau yang produktif, mandiri, sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Bambang Irianto saat melakukan pembinaan kampung (Djoko W)

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Bambang Irianto, penerima Kalpataru kategori Pembina Lingkungan tingkat nasional sekaligus  Koordinator Nasional Jaringan Kampung Tematik Indonesia, saat melakukan kunjungan ke Kampung Bungas (8/7/26).

Menurut Bambang Ir, Kampung Bungas telah menunjukkan konsep pembangunan kampung yang utuh atau holistik.

Tidak hanya berfokus pada penghijauan, tetapi juga menyentuh aspek infrastruktur lingkungan, konservasi air, pengelolaan sampah, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan usaha mikro.

kunjungi komposer .( Djoko W)

“Ini kampung yang sudah layak mendapat predikat kampung terbaik karena dibangun secara holistik, mulai dari infrastruktur lingkungan, konservasi air, pengelolaan sampah, estetika kampung hingga pemberdayaan UMKM,” ujar Bambang. Senin ( 20/7/26) kepada Malangpariwara.com.

Ia menilai konsep yang diterapkan warga Kampung Bungas layak menjadi referensi bagi daerah lain yang ingin mengembangkan kampung tematik berbasis partisipasi masyarakat.

Keberhasilan Kampung Bungas sendiri bukanlah proses yang instan.

Kanan, Suwanto, founder Kampung Bungas, anggota DPRD Kota Balikpapan bersama Bambang Irianto .(Djoko W)

Perjalanan perubahan dimulai sekitar tujuh tahun lalu ketika kawasan tersebut masih terdiri dari dua rukun tetangga, yakni RT 68 dan RT 69.

Berkat komitmen warga yang terus terjaga, gerakan tersebut berkembang hingga kini mencakup lima RT dengan berbagai program pemberdayaan lingkungan.

Menikmati hasil panen sayuran ( Djoko W)

Semangat gotong royong menjadi fondasi utama perubahan. Warga secara konsisten menanam beragam bunga, tanaman buah, dan sayuran di hampir setiap sudut kampung.

Berbagai metode budidaya diterapkan sesuai karakteristik lahan perkotaan, mulai dari sistem hidroponik, tabulampot (tanaman buah dalam pot), hingga media tanam sederhana yang mudah diterapkan masyarakat.

Program penghijauan tersebut tidak hanya menghadirkan suasana kampung yang lebih asri, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan yang sebelumnya kurang produktif.

Di sisi lain, Kampung Bungas juga membangun budaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Bank Sampah. Warga menyediakan titik-titik pengumpulan sampah plastik yang kemudian ditimbang secara berkala oleh petugas.

Sampah yang terkumpul memiliki nilai jual sehingga mampu memberikan tambahan pendapatan bagi warga.

Upaya tersebut diperkuat dengan pembangunan lubang biopori di sejumlah titik permukiman.

Selain meningkatkan daya resap air, biopori menjadi bagian dari strategi konservasi lingkungan sekaligus mengurangi potensi genangan saat musim hujan.

Kolaborasi antara penghijauan, pengelolaan sampah, konservasi air, dan pemberdayaan ekonomi inilah yang menjadikan Kampung Bungas tidak sekadar bersih dan indah dipandang, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

Keberhasilan itu pun menarik perhatian berbagai kalangan.

Kampung Bungas kini kerap menjadi tujuan studi banding pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, hingga berbagai organisasi yang ingin mempelajari praktik baik pengembangan kampung tematik, urban farming, dan pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kampung Bungas juga berhasil menorehkan sejumlah prestasi di bidang lingkungan serta dipercaya mewakili Kota Balikpapan dalam berbagai ajang penilaian tingkat provinsi.

Menutup kunjungannya, Bambang Irianto mengajak masyarakat dari berbagai daerah untuk datang langsung melihat keberhasilan yang dibangun melalui kolaborasi warga tersebut.

Kampung ini punya Gerakan Pemanenan Air Hujan ( Rain Water Harvesting), dari sinilah program urban farming bisa berkelanjutan.

“Kalau datang ke Balikpapan tetapi belum berkunjung ke Kampung Bungas, rasanya belum lengkap. Silakan datang untuk belajar bersama bagaimana membangun kampung yang hijau, produktif, dan mandiri,” pungkasnya.( Djoko W)