MALANGPARIWARA.COM – Universitas Ma Chung menorehkan catatan penting dalam Wisuda XVI dengan meluluskan angkatan perdana Program Studi D3 Optometri.
Di tengah terbatasnya tenaga ahli optometri di Jawa Timur, kehadiran lulusan baru ini menjadi bagian dari kontribusi kampus dalam memperkuat layanan kesehatan mata sekaligus menegaskan komitmen Ma Chung mencetak lulusan yang mampu memberi dampak nyata.
Tentu. Saya tambahkan keterangan Rektor tersebut sekaligus memperkuat angle lulusan perdana D3 Optometri, kelangkaan tenaga optometri, dan visi Ma Chung sebagai pencetak job creator. Berikut versi yang lebih tajam dan mengalir.
Judul
Wisuda XVI Ma Chung Kukuhkan 306 Lulusan, Cetak Tenaga Optometri Perdana dan Perkuat Tradisi Job Creator
Lead
MALANG — Universitas Ma Chung menorehkan catatan penting dalam Wisuda XVI dengan meluluskan angkatan perdana Program Studi D3 Optometri. Di tengah terbatasnya tenaga ahli optometri di Jawa Timur, kehadiran lulusan baru ini menjadi bagian dari kontribusi kampus dalam memperkuat layanan kesehatan mata sekaligus menegaskan komitmen Ma Chung mencetak lulusan yang mampu memberi dampak nyata.
Sebanyak 306 wisudawan Program Magister, Sarjana, dan Diploma Tahun Akademik 2025/2026 dikukuhkan dalam prosesi wisuda di kampus Universitas Ma Chung, Malang, Sabtu (5/9/2026).
Wisuda XVI mengusung tema “Fostering Transformative Convergence: Adapting to the World, Advancing the Future.”
Tema tersebut merefleksikan semangat Universitas Ma Chung dalam menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan sekaligus menghadirkan kontribusi konkret bagi masyarakat.
Dengan tambahan 306 lulusan tersebut, Universitas Ma Chung kini telah menghasilkan hampir 4.000 alumni yang berkarya di berbagai bidang, baik di dalam maupun luar negeri.
D3 Optometri, Lulusan Perdana Setelah Proses Panjang
Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc., mengatakan kelulusan perdana D3 Optometri menjadi salah satu momentum strategis dalam perjalanan Universitas Ma Chung.
Menurutnya, kehadiran program studi tersebut sangat penting karena tenaga ahli optometri masih tergolong langka, khususnya di Jawa Timur.

Saat ini, program studi optometri di Jawa Timur baru tersedia di dua perguruan tinggi, yakni Universitas Ma Chung dan AROS Surabaya.
Secara nasional, jumlah institusi penyelenggara pendidikan optometri juga masih sangat terbatas dan belum mencapai 16 perguruan tinggi.
“Ini merupakan proses yang panjang. Perizinan program studi ini membutuhkan waktu hingga delapan tahun sejak 2015,” ujar Prof. Yufra.
Ia menjelaskan, lulusan D3 Optometri memiliki posisi penting dalam layanan kesehatan mata. Mereka dipersiapkan sebagai refraksionis yang menjadi bagian penting dalam layanan optik dan kacamata.
Keberadaan tenaga refraksionis juga berkaitan dengan persyaratan layanan optik yang ingin bekerja sama dan memberikan pelayanan kepada pasien BPJS Kesehatan.
Karena itu, pengembangan Program Studi D3 Optometri menjadi bagian dari komitmen Universitas Ma Chung untuk ikut menjawab kebutuhan tenaga profesional di sektor kesehatan mata dan penglihatan, terutama di wilayah Malang dan sekitarnya.
Untuk memastikan kualitas lulusannya, mahasiswa D3 Optometri diwajibkan mengikuti dan lulus Ujian Kompetensi Nasional yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Optik Indonesia sebelum dinyatakan layak diwisuda.
Pada angkatan perdana, seluruh mahasiswa D3 Optometri Universitas Ma Chung berhasil lulus ujian kompetensi atau mencatatkan tingkat kelulusan 100 persen.
Menariknya, minat terhadap program studi ini juga menunjukkan tren peningkatan. Jika pada angkatan pertama hanya terdapat 11 mahasiswa, kini jumlah mahasiswa baru telah mendekati 60 orang.
Tingginya minat tersebut turut didorong kebutuhan industri. Sejumlah perusahaan bahkan memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi calon tenaga optometri untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang tersebut.
Bukan Sekadar Pencari Kerja
Di luar pengembangan bidang kesehatan, Prof. Yufra menegaskan Universitas Ma Chung tetap memegang visi pendiriannya sejak 2007 untuk melahirkan lulusan yang mampu menjadi pencipta lapangan kerja (job creator), bukan sekadar pencari kerja atau pemburu ijazah.
Komitmen tersebut terlihat dari hasil survei pelacakan alumni. Sekitar 10 persen dari total alumni Universitas Ma Chung tercatat telah mendirikan dan mengelola usaha mandiri.
Sebagian di antaranya bahkan berkembang menjadi pelaku usaha di berbagai sektor, termasuk bisnis kuliner yang cukup dikenal di Malang.
Semangat kewirausahaan tersebut juga ditanamkan melalui kurikulum. Universitas Ma Chung menyediakan konsentrasi Family Business bagi mahasiswa yang ingin meneruskan sekaligus mengembangkan bisnis keluarga.
Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, misalnya, mahasiswa dapat mengambil skema tugas akhir Business Creation sejak semester lima sebagai bagian dari proses membangun dan mengembangkan usaha.
Kampus juga memberikan pilihan tugas akhir yang bersifat aplikatif, tidak terbatas pada skripsi konvensional. Mahasiswa dapat mengembangkan Business Plan, proyek, maupun Business Creation sesuai bidang yang diminati.
Salah satu bentuk penerapannya adalah perancangan studi kelayakan bisnis karoseri kendaraan towing yang diarahkan pada kebutuhan nyata dunia usaha.
Menurut Prof. Yufra, pola pendidikan tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki entrepreneurial mindset dan kemampuan melihat peluang.
Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan mampu bekerja secara efisien dan profesional, baik ketika memilih jalur sebagai pengusaha, profesional maupun aparatur pemerintah.
“Keberhasilan seorang lulusan tidak hanya diukur dari jabatan atau pendapatan, tetapi juga dari nilai dan dampak yang ditinggalkan bagi masyarakat,” tegasnya.
Prestasi Akademik dan Pengalaman Global
Selain momentum kelulusan D3 Optometri, Wisuda XVI juga mencatat sejumlah capaian akademik dan non akademik.
Capaian individu tertinggi di antaranya IPK 3,94 dari skala 4,00, skor HSK Level 6 sebesar 253 dari skala 300, skor TOEIC sempurna 990 dari skala 990, serta Skor Kredit Keaktifan Mahasiswa (SKKM) tertinggi mencapai 11.044.
Pengalaman pembelajaran di luar kampus juga cukup luas. Sebanyak 117 wisudawan mengikuti magang industri, enam orang menjalani magang penelitian, 11 orang mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri, dan satu mahasiswa mengikuti asistensi mengajar di lembaga ternama.
Pada tahun akademik yang sama, Universitas Ma Chung juga memberangkatkan 28 mahasiswa melalui 11 program mobilitas internasional ke China, Korea Selatan, Jepang, dan sejumlah negara lainnya.
Sebaliknya, Universitas Ma Chung juga menerima mahasiswa asing dari Australia, Jepang, China, Kamboja, dan Taiwan.
Dari sisi kesiapan kerja, hasil sementara exit survey terhadap 88 persen wisudawan menunjukkan sebagian lulusan telah bekerja tanpa masa tunggu, sebagian lainnya tengah menjalani proses rekrutmen, melanjutkan studi di dalam maupun luar negeri—sebagian besar melalui beasiswa—serta memilih jalur kewirausahaan.
Prestasi mahasiswa juga datang dari berbagai kompetisi nasional dan internasional, mulai dari riset, penulisan artikel, investasi saham, akuntansi, fotografi dan desain poster hingga olahraga seperti wushu, karate, taekwondo dan basket.
Karya Mahasiswa yang Berdampak
Semangat menghasilkan karya yang memberikan manfaat nyata juga tercermin dari sejumlah tugas akhir mahasiswa.
Salah satunya adalah KIAI TANI (Kelompok Tani Organik Bumiaji) karya Andik Kurniawan dari Program Studi S2 Manajemen Inovasi, di bawah bimbingan Prof. Yufra.
Inovasi tersebut mengintegrasikan pertanian organik dengan kearifan lokal Pitu Gegayuhan di Dusun Sawahan, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Kini, konsep tersebut telah diadopsi 133 petani organik dengan cakupan 19,86 hektare lahan bersertifikat. Jejaring pemasarannya bahkan berkembang hingga menghasilkan 15 kontrak pasar luar kota.
Karya berdampak lainnya datang dari bidang desain melalui Redesain Visual Identity Bundar Kitchen karya Sebastian Saksono dari Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual.
Karya yang dibimbing Bintang Pramudya Putra P., S.Sn., M.Ds., dan Amar Maruf Stya Bakti, S.Pd., M.Pd., itu menghasilkan sistem identitas visual baru bagi UMKM kuliner Bundar Kitchen di Kota Malang.
Mulai dari logo, media sosial hingga merchandise, identitas baru tersebut telah digunakan langsung oleh pemilik usaha untuk memperkuat brand awareness di kalangan konsumen usia 18–30 tahun.
Rektor Universitas Ma Chung pun mengingatkan para wisudawan bahwa prosesi wisuda bukanlah garis akhir perjalanan pendidikan.
“Ijazah yang Saudara terima hari ini bukanlah tanda bahwa proses belajar telah selesai. Sebaliknya, ijazah tersebut merupakan pengakuan bahwa Saudara telah memiliki fondasi untuk terus belajar. Jadilah pembelajar sepanjang hayat,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa lulusan Universitas Ma Chung diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik. Mereka dituntut terus belajar, beradaptasi, menciptakan peluang dan menghadirkan manfaat.
Dari inovasi pertanian organik, penguatan UMKM, pengembangan kewirausahaan hingga lahirnya tenaga profesional perdana di bidang optometri, Wisuda XVI Universitas Ma Chung menjadi penanda bahwa pendidikan tinggi diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan lulusan, tetapi juga manusia yang mampu memberi dampak bagi masyarakat.(Djoko W)









