MALANGPARIWARA.COM, KEPANJEN – Bahasa dan aksara Jawa menghadapi tantangan serius di tengah perubahan pola komunikasi generasi muda. Di sekolah, pelajaran bahasa Jawa tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan waktu dan tenaga pengajar, tetapi juga stigma siswa yang menganggap aksara Jawa sebagai materi sulit dan menakutkan.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Penguatan Literasi Aksara Jawa bertajuk “Menjaga Warisan, Merawat Identitas: Penguatan Bahasa dan Aksara Jawa bagi Generasi Muda Kabupaten Malang” yang digelar bersama para guru bahasa Jawa se-Kabupaten Malang di Kafe Swara Alam, Kepanjen, Sabtu (5/9/2026).
Anggota DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., yang menjadi keynote speaker, menilai pelestarian bahasa dan aksara Jawa bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu.
Lebih dari itu, bahasa merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Bahasa dan aksara Jawa adalah kekuatan dan jati diri kita. Ini bukan berarti menafikan bahasa Indonesia, melainkan menjaga warisan budaya agar tetap hidup,” tegas Sri Untari di hadapan para pendidik.
Menurutnya, modernisasi tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan akar budaya.
Sejumlah negara seperti Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Rusia, Thailand hingga India, kata dia, tetap mempertahankan aksara dan bahasa lokal meskipun perkembangan teknologi dan globalisasi berlangsung sangat cepat.
Karena itu, penguatan literasi bahasa dan aksara Jawa perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan karakter generasi muda.
Guru Mengungkap Persoalan di Sekolah
Persoalan pelestarian bahasa Jawa ternyata tidak berhenti pada rendahnya minat siswa. Dalam sesi dialog, para guru mengungkap berbagai kendala yang mereka hadapi secara langsung di sekolah.
Salah satunya adalah terbatasnya alokasi waktu pembelajaran. Mata pelajaran bahasa Jawa rata-rata hanya memperoleh dua jam pelajaran. Jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan sejumlah mata pelajaran lain yang mendapatkan tiga hingga empat jam pelajaran.
Kondisi tersebut semakin kompleks ketika jam pelajaran bahasa Jawa harus berhadapan dengan berbagai agenda sekolah lainnya.
Tantangan berikutnya berkaitan dengan ketersediaan guru yang memiliki kompetensi khusus bahasa dan sastra Jawa. Para guru menyebut masih terdapat pengajar yang harus mengampu bahasa Jawa meskipun latar belakang pendidikannya bukan dari bidang tersebut.
Ada guru yang berasal dari bidang Fisika, Olahraga dan disiplin ilmu lainnya. Kondisi itu terjadi karena ketersediaan tenaga pendidik dengan latar belakang Sastra Jawa masih terbatas.
Di sisi lain, materi pembelajaran bahasa Jawa juga dinilai belum memiliki standardisasi yang kuat. Perubahan pola komunikasi anak-anak dan remaja semakin memperlebar tantangan.
Bahasa sehari-hari siswa kini lebih banyak dipengaruhi bahasa pergaulan atau prokem. Akibatnya, penggunaan bahasa Jawa yang sesuai konteks, unggah-ungguh dan tata bahasa semakin jarang digunakan dalam komunikasi keseharian.
Yang lebih mengkhawatirkan, persoalan tersebut mulai melahirkan jarak psikologis antara siswa dan aksara Jawa.
Sejumlah guru bahkan mengungkapkan bahwa ada siswa yang menyebut aksara Jawa sebagai “monster” karena dianggap rumit, penuh aturan dan sulit dipelajari.
Aksara Jawa Didorong Masuk dengan Cara yang Menyenangkan
Persoalan itu mendorong lahirnya gagasan untuk mengubah cara siswa berinteraksi dengan aksara Jawa. Sri Untari bersama Paguyuban Aksara Jawa yang dipimpin Taufik Monyong memperkenalkan media pembelajaran berbentuk kartu edukatif.
Media tersebut mengadaptasi konsep permainan kartu sehingga aksara maupun angka Jawa tidak lagi diperkenalkan sebagai materi yang kaku. Siswa dapat belajar melalui aktivitas yang lebih interaktif, komunikatif dan menyenangkan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena tantangan terbesar pembelajaran aksara Jawa bukan hanya bagaimana siswa mampu menghafal bentuk huruf, melainkan bagaimana mereka memiliki ketertarikan untuk mengenal, menggunakan dan akhirnya merasa memiliki warisan budaya tersebut.
Jika aksara Jawa terus diperkenalkan dengan metode yang dianggap sulit dan monoton, jarak antara siswa dengan budaya lokal berpotensi semakin lebar.
Sebaliknya, ketika pembelajaran dikemas melalui permainan, kreativitas dan pengalaman langsung, aksara Jawa memiliki peluang untuk kembali menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
MGMP hingga Pentas Seni Jadi Jalan Pelestarian
Para guru juga mendorong agar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa kembali dihidupkan dan diperkuat. Forum tersebut dinilai penting sebagai ruang berbagi pengalaman, peningkatan kompetensi guru sekaligus menyusun strategi pembelajaran yang lebih relevan dengan karakter peserta didik saat ini.
Tidak berhenti di ruang kelas, para guru mengusulkan agar setiap kecamatan di Kabupaten Malang memiliki pentas seni budaya berbasis bahasa Jawa.
Kegiatan tersebut diharapkan mampu menciptakan ruang bagi siswa untuk menggunakan bahasa Jawa dalam suasana yang lebih natural sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya daerah.
Sebab, pelestarian bahasa dan aksara tidak cukup hanya dilakukan melalui buku pelajaran atau ujian sekolah. Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan, sementara budaya akan bertahan ketika generasi mudanya merasa bangga menjadi bagian di dalamnya.
Di tengah derasnya pengaruh budaya global dan perubahan bahasa komunikasi anak muda, tantangan terbesar bukan sekadar membuat siswa bisa membaca aksara Jawa.
Lebih jauh, bagaimana membuat mereka tidak merasa asing dengan identitas budayanya sendiri.
Dan dari ruang kelas, guru bahasa Jawa memiliki posisi strategis untuk memastikan warisan tersebut tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi tetap hidup dan digunakan oleh generasi masa depan.(Djoko W)






