Malangpariwara.com – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin masif membawa perubahan besar dalam dunia komunikasi. Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, kemampuan manusia memahami konteks, empati, dan etika tetap menjadi fondasi utama dalam praktik hubungan masyarakat (public relations).
Kesadaran itulah yang mendorong Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) memberikan edukasi kepada para praktisi humas melalui workshop bertajuk “AI-Powered Public Relations: A Workshop on Social Media Listening with Big Data Analytics” yang digelar selama dua hari di Gedung C FISIP UB, Malang.
Kegiatan ini tidak sekadar memperkenalkan pemanfaatan AI dan analitik Big Data, tetapi juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara bertanggung jawab agar tidak mengabaikan nilai-nilai etika dalam proses komunikasi publik.
Ketua Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB 2026, Maulina Pia Wulandari, menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti peran manusia dalam membangun komunikasi yang berkualitas.
“Teknologi dapat membantu kita membaca jutaan data dalam waktu singkat, tetapi angka tidak selalu mampu menjelaskan keseluruhan pengalaman manusia. Praktisi humas tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, mengenali emosi publik, dan memastikan keputusan komunikasi dilakukan secara akurat, etis, serta penuh empati,” ujar Pia.
Menurutnya, kecerdasan buatan memang mampu mempercepat proses analisis data dan memberikan gambaran awal mengenai dinamika opini publik. Namun, keputusan strategis tetap memerlukan penilaian manusia karena AI belum sepenuhnya mampu memahami sarkasme, bahasa lokal, konteks sosial, hingga nuansa budaya yang sering muncul dalam percakapan masyarakat.
Di era media digital yang bergerak serba cepat, kemampuan melakukan social media listening menjadi kompetensi penting bagi praktisi humas.
Melalui pemantauan percakapan publik secara sistematis, organisasi dapat mengenali potensi isu sejak dini, membaca arah sentimen masyarakat, sekaligus menyusun langkah komunikasi yang tepat sebelum berkembang menjadi krisis reputasi.
Melalui pelatihan tersebut, peserta dibekali kemampuan memanfaatkan AI dan Big Data Analytics untuk memonitor percakapan publik, menganalisis sentimen, hingga menyusun rekomendasi strategi komunikasi berbasis data yang relevan dengan kebutuhan organisasi.
Workshop berlangsung secara interaktif melalui berbagai simulasi kasus nyata. Peserta belajar menentukan kata kunci pemantauan, mengidentifikasi tren pembicaraan, memetakan aktor atau influencer yang berpengaruh dalam penyebaran isu, hingga menyusun respons awal terhadap potensi krisis menggunakan teknik prompt engineering secara kritis dan terukur.
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas praktisi humas agar tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu melakukan interpretasi data secara bijaksana sehingga setiap keputusan komunikasi tetap mempertimbangkan dampak sosial dan kepentingan publik.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari roadmap Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB di bidang Digital Public Relations yang telah dijalankan secara berkelanjutan sejak 2024.
Program ini menjadi wujud komitmen FISIP UB dalam menjawab tantangan transformasi digital di bidang komunikasi sekaligus memperkuat kompetensi praktisi humas menghadapi perubahan lanskap media.

Dalam penyelenggaraannya, FISIP UB menggandeng Perhumas BPC Malang Raya, Parimaya, Kazee Digital, dan RVARE. Kolaborasi ini menghadirkan perpaduan antara perspektif akademik dan pengalaman praktis industri sehingga materi yang diberikan lebih aplikatif sesuai kebutuhan dunia kerja.
Pia menilai sinergi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan pelaku industri menjadi kunci untuk menciptakan sumber daya manusia di bidang humas yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan industri menjadi langkah penting agar pengembangan kompetensi humas dapat mengikuti perubahan lanskap komunikasi yang berlangsung sangat cepat,” pungkasnya.(Djoko W)






