BATU, MALANGPARIWARA.COM – Limbah kayu dan sampah organik yang selama ini berpotensi menjadi persoalan lingkungan di Dusun Jeding, Desa Junrejo, Kota Batu, justru diubah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi produk yang bernilai guna.
Melalui KKN Kelompok 36, mahasiswa mengembangkan biokar dari limbah kayu, budidaya maggot BSF, hingga puding kelor sebagai inovasi yang menyentuh sektor lingkungan, pertanian, peternakan, dan kesehatan masyarakat.
Inovasi tersebut digagas Kelompok 36 KKN UMM sebagai upaya menjawab persoalan lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Program tidak berhenti pada pengolahan limbah, tetapi diarahkan agar hasilnya dapat dimanfaatkan kembali oleh petani, peternak, hingga masyarakat.

Imelda Friska Amelia, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UMM dari Program Studi Keperawatan sekaligus anggota Kelompok 36 KKN, mengatakan Desa Junrejo, khususnya Dusun Jeding, memiliki potensi besar dari sektor kerajinan kayu dan pertanian.
“Di Desa Junrejo salah satu unggulannya adalah pengrajin kayu. Limbah kayunya masih banyak, sehingga kami membuat inovasi pembuatan biokar dari sisa bubuk kayu,” kata Imelda.
Menurutnya, biokar tersebut diarahkan untuk mendukung aktivitas para petani dan pekebun di wilayah tersebut. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan kini dicoba diubah menjadi material yang memiliki manfaat bagi tanah.
Selain biokar, mahasiswa juga memperkenalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bagian dari pengelolaan sampah organik. Maggot dimanfaatkan untuk mengurai sampah organik sehingga volume limbah yang berakhir di tempat pembuangan dapat ditekan.
Program budidaya maggot dilakukan melalui sosialisasi dan pendampingan dengan melibatkan sejumlah peternak serta tempat pengelolaan sampah (TPS) di wilayah setempat.
“Jadi maggot itu larva dari lalat BSF untuk pengolahan sampah organik. Kami juga bekerja sama dengan beberapa peternak dan TPS,” ujarnya.
Tak hanya mengurangi sampah, hasil budidaya maggot juga memiliki potensi ekonomi. Bekas media maggot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sedangkan maggotnya dapat digunakan sebagai sumber protein untuk pakan ternak.
Imelda menyebut program tersebut telah memasuki tahap produksi dan uji coba. Mahasiswa bahkan melakukan percobaan pemanfaatan hasil pengolahan pada tanaman.
“Kami juga ada percobaan untuk tanaman kami sendiri dan alhamdulillah ternyata tanamannya tumbuh setelah diberikan,” jelasnya.
KKN Tak Hanya Soal Lingkungan
Program Kelompok 36 tidak hanya berfokus pada persoalan lingkungan. Mahasiswa lintas fakultas juga membawa isu kesehatan masyarakat dalam rangkaian kegiatan KKN.
Imelda menyebut kelompoknya terdiri dari mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang beragam, mulai dari keperawatan dan ilmu kesehatan, hukum, teknik informatika, ekonomi dan bisnis, hingga pendidikan.
Keragaman keilmuan tersebut menjadi modal untuk menyusun program yang menyentuh berbagai kebutuhan masyarakat.
Salah satunya melalui inovasi puding kelor. Mahasiswa mengolah daun kelor menjadi makanan yang lebih mudah dikonsumsi masyarakat sebagai bagian dari upaya mendukung pencegahan stunting.
“Kami membuat puding kelor. Kami gagas salah satunya untuk mengatasi stunting di Desa Junrejo, khususnya Dusun Jeding,” tutur Imelda.
Selain menyasar kelompok anak dan keluarga dalam isu stunting, mahasiswa juga memberikan perhatian kepada kelompok lanjut usia. Program kesehatan diarahkan pada persoalan seperti osteoporosis dan diabetes melalui kegiatan di posyandu Dusun Jeding.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa KKN tidak sekadar menghadirkan program sesaat, tetapi berupaya menghubungkan lingkungan, pertanian, peternakan, kesehatan, dan potensi ekonomi masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan.
Bagi mahasiswa, potensi lokal Desa Junrejo menjadi ruang untuk menerapkan ilmu sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat dilanjutkan masyarakat setelah program KKN berakhir.
“Kami melakukan sosialisasi dan pendampingan agar program ini bisa dimanfaatkan masyarakat,” pungkas Imelda Friska Amelia.(Djoko W)






