SURABAYA, MALANGPARIWARA.COM — Dari benang yang dipintal, lahir kain. Dari kain, tumbuh berbagai produk kerajinan. Dan dari keterampilan itu, para penyandang disabilitas di Kupu Sutra perlahan membangun jalan menuju kemandirian ekonomi.
Upaya tersebut mendapat dukungan dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya (STIESIA) melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Tak sekadar memberikan bantuan peralatan, STIESIA juga membekali para pengrajin dengan meja ergonomis serta pelatihan desain untuk mengembangkan produk tenun.
Meja ergonomis menjadi bagian penting karena aktivitas menenun dan mendesain membutuhkan ketelitian sekaligus waktu pengerjaan yang cukup panjang.
Dengan fasilitas kerja yang lebih sesuai, para pengrajin diharapkan dapat bekerja lebih nyaman sekaligus meningkatkan produktivitas.
Namun, pemberdayaan yang dilakukan STIESIA tidak berhenti pada pemberian alat. Para peserta juga mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan kemampuan teknis sekaligus memahami bagaimana keterampilan tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha.
Arianto atau Anto dari Kupu Sutra mengatakan, program tersebut menjadi bagian dari perjuangan untuk mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas.
“Awalnya teman-teman disabilitas banyak yang diremehkan. Saya tidak mau teman-teman disabilitas ini hanya dipandang sebelah mata. Mereka harus bisa bersaing dan punya usaha sendiri,” ujar Anto.
Kupu Sutra sendiri telah mengembangkan program pemberdayaan sejak sekitar 2019. Pada awalnya, peserta dikenalkan dengan keterampilan memintal benang. Dari sana, kemampuan mereka terus dikembangkan hingga mengenal proses menenun dan menghasilkan kain.
“Dulu memintal, sekarang sudah bisa menenun. Jadi output-nya mereka sudah bisa membuat kain. Insyaallah ke depan akan terus kita kembangkan,” katanya.
Saat ini sekitar 10 orang terlibat dalam kegiatan tersebut. Pengembangan keterampilan dilakukan secara bertahap dan nantinya peserta dapat dikelompokkan berdasarkan kemampuan masing-masing.
Teknologi Tepat Guna dan Desain Jadi Kunci
Ketua Pengusul Hibah STIESIA, Juwita Sari, SM., M.SM., menjelaskan, bantuan peralatan merupakan bagian dari program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata para pengrajin.
“Kami sebelumnya sudah melakukan banyak pelatihan. Kali ini kami memberikan alat teknologi tepat guna untuk mendukung aktivitas teman-teman disabilitas, kemudian ada meja ergonomis,” jelas Juwita.
Menurutnya, teknologi tepat guna diperlukan agar aktivitas produksi dapat dilakukan dengan fasilitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas.
Selain alat pintal, meja ergonomis diharapkan membantu peserta ketika mengerjakan desain maupun detail produk. Penguatan desain menjadi penting karena kualitas dan variasi desain turut menentukan daya saing produk di pasar.
Karena itu, para peserta tidak hanya diajarkan bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana mengembangkan desain agar kain dan produk turunannya memiliki nilai tambah.
Tak Hanya Bisa Membuat, tapi Juga Mengelola Usaha
Pendampingan STIESIA juga menyentuh sisi manajemen usaha. Tim akademisi memberikan penguatan mulai dari pengelolaan sumber daya manusia, pencatatan keuangan hingga pemasaran.
Dr. Titik Mildawati, S.E., M.Si., Ak., CA., memberikan pendampingan mengenai pencatatan keuangan, penghitungan harga pokok produksi dan penentuan harga jual.
Sementara Sulistyo Budi Utomo, BBA., M.A., Ec., Ph.D., memberikan penguatan dalam bidang pemasaran dan pemanfaatan platform digital.
Para pengrajin diperkenalkan dengan berbagai media sosial, seperti Instagram, TikTok, Facebook dan WhatsApp. Mereka juga didorong memanfaatkan website dan marketplace untuk memperluas pemasaran.
Dengan pendekatan tersebut, pemberdayaan Kupu Sutra diarahkan tidak sekadar menghasilkan pengrajin yang terampil. Lebih jauh, mereka diharapkan mampu memahami seluruh mata rantai usaha, mulai dari produksi, desain, penghitungan biaya hingga pemasaran.
Mengubah Keterampilan Menjadi Peluang
Bagi Kupu Sutra, dukungan STIESIA bukan sekadar tambahan peralatan kerja. Ada harapan yang lebih besar agar keterampilan para penyandang disabilitas dapat berkembang menjadi sumber penghasilan.
Perjalanan itu dimulai dari sesuatu yang sederhana. Benang dipintal, kemudian ditenun menjadi kain. Dari kain lahir produk kerajinan. Produk tersebut selanjutnya dikembangkan dan dipasarkan agar memiliki nilai ekonomi.
Proses tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dengan pendampingan yang tepat, fasilitas yang sesuai dan kesempatan untuk berkembang, keterampilan dapat menjadi modal menuju kemandirian.
STIESIA berharap program tersebut dapat terus berlanjut dan berkembang. Kapasitas produksi Kupu Sutra diharapkan meningkat, desain semakin beragam, pemasaran semakin luas, dan semakin banyak penyandang disabilitas mendapatkan ruang untuk berkarya serta membangun usaha.
Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan bukan diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, tetapi dari sejauh mana bantuan itu mampu membuka kesempatan.
Dari kesempatan itulah, keterampilan tumbuh menjadi karya. Dan dari karya, kemandirian mulai dibangun.(Djoko W)






