MALANGPARIWARA.COM — Kepedulian terhadap korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong Universitas Katolik Widya Karya (UWK) Malang bersama sejumlah lembaga dan komunitas membuka Posko Tanggap Bencana Darurat.
Posko tersebut tidak hanya menjadi pusat penggalangan bantuan, tetapi juga diarahkan untuk menjangkau warga di wilayah terdampak yang belum mendapatkan bantuan secara maksimal.
Posko Peduli NTT yang berada di lingkungan UWK Malang itu dibentuk melalui kolaborasi Yayasan Perguruan Tinggi Katolik (PTK) Adisucipto, Flobamora Malang Raya, Yayasan Charis Indonesia, dan Komisi Kerawam Keuskupan Malang serta Ikatan Alumni Universitas Katolik Widya Karya Malang.
Bantuan dari masyarakat, alumni, komunitas, serta berbagai jejaring organisasi dihimpun untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat terdampak gempa di NTT.

Rektor UWK Malang, Fr. Klemens Mere, mengatakan langkah tersebut dilandasi semangat kemanusiaan yang menjadi bagian dari kepedulian kampus terhadap masyarakat.
“Memang Widya Karya punya kepedulian, sehingga kami ingin membentuk posko tanggap bencana karena ini menyangkut kemanusiaan. Apapun yang terjadi, jika berbicara tentang kemanusiaan, Widya Karya selalu menomorsatukan hal tersebut,” ujar Klemens. Selasa (18/8/26).
Kepedulian UWK terhadap masyarakat NTT juga tidak terlepas dari kuatnya ikatan kampus dengan mahasiswa asal wilayah tersebut.
UWK memiliki cukup banyak mahasiswa dari NTT yang sedang menempuh pendidikan di Malang. Bahkan, Klemens menyebut pada tahun sebelumnya jumlah mahasiswa asal NTT mencapai sekitar 35 persen dari keseluruhan mahasiswa UWK.
Karena itu, bencana gempa yang terjadi di NTT tidak dipandang sekadar sebagai peristiwa yang berlangsung jauh dari Malang.
Bagi keluarga besar UWK, musibah tersebut berkaitan langsung dengan mahasiswa, keluarga, serta jejaring masyarakat asal NTT yang selama ini memiliki hubungan erat dengan kampus.
Respons kemanusiaan tersebut berlangsung di tengah padatnya agenda akademik UWK. Bencana terjadi bertepatan dengan pelaksanaan wisuda pada 15 Agustus 2026.
Kondisi itu sempat menjadi tantangan bagi kampus untuk bergerak cepat karena perhatian dan sumber daya juga terserap untuk pelaksanaan agenda akademik.
Di tengah situasi tersebut, UWK berupaya memberikan ketenangan kepada mahasiswa asal NTT yang ingin segera kembali ke daerah masing-masing.
Kampus mengajak mahasiswa tetap tenang sekaligus bersama-sama memberikan dukungan melalui doa dan aksi kemanusiaan.
Sasar Wilayah yang belum Maksimal Mendapat Bantuan
Klemens menegaskan, penanganan bencana tidak boleh hanya terpusat di wilayah yang mudah dijangkau atau menjadi perhatian utama publik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, bantuan pemerintah maupun berbagai pihak masih banyak terfokus di sejumlah kawasan, seperti Maumere, Ende hingga Labuan Bajo.
Padahal, wilayah di sekitar pusat gempa, termasuk kawasan sekitar 30 kilometer dari Nagekeo, juga membutuhkan perhatian.
Kondisi di sejumlah wilayah terdampak semakin sulit akibat gangguan komunikasi.
Gempa susulan disebut turut menghambat akses, sementara aliran listrik dan jaringan komunikasi di beberapa lokasi mengalami gangguan. Akibatnya, informasi mengenai kondisi warga dan kebutuhan bantuan tidak selalu dapat diperoleh secara cepat.
Atas kondisi tersebut, Posko Peduli NTT UWK berupaya menginventarisasi kebutuhan masyarakat sekaligus mengarahkan bantuan ke wilayah yang belum mendapatkan dukungan secara optimal.
“Yang menjadi perhatian kami adalah bagaimana bantuan ini bisa sampai kepada mereka yang memang membutuhkan, terutama wilayah yang belum mendapatkan bantuan secara maksimal,” kata Klemens.
Gerakan itu diperkuat melalui kolaborasi dengan Flobamora Malang Raya, komunitas masyarakat NTT yang memiliki anggota dari berbagai daerah, antara lain Flores, Sumba, Timor dan Alor.
Jejaring alumni UWK juga digerakkan untuk memperluas dukungan.
Bantuan yang dihimpun meliputi uang, pakaian layak pakai, bahan makanan, selimut, perlengkapan anak dan bayi, obat-obatan, kebutuhan kebersihan hingga kebutuhan darurat lainnya.
Bantuan Disiapkan untuk Darurat hingga Pemulihan

Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Katolik Adisucipto, Budi Santoso Djaja, S.H., M.M., mengatakan pembukaan posko merupakan bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas Flobamora dalam merespons kondisi masyarakat NTT.
Menurutnya, gerakan tersebut bermula dari komunikasi dengan tim Flobamora yang memiliki keluarga maupun kerabat di daerah terdampak.
Informasi mengenai kebutuhan warga dari lapangan kemudian menjadi dasar bagi berbagai pihak untuk segera bergerak.
“Sebenarnya kita diajak oleh tim Flobamora. Mereka lebih tanggap karena banyak keluarga dan teman di kampung yang membutuhkan bantuan. Mereka menghubungi kami, dan kami siap menyediakan tempat serta menggerakkan seluruh jaringan dan partner yang ada untuk menggalang bantuan,” ujar Budi.
Bantuan yang dihimpun akan diarahkan dalam dua tahap, yakni memenuhi kebutuhan darurat dan mendukung proses pemulihan jangka panjang.
Pada tahap awal, prioritas diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, seperti makanan, pakaian, selimut dan bantuan dana.
Donasi dapat diberikan dalam bentuk barang maupun uang melalui rekening khusus yayasan.
Untuk menjaga akuntabilitas, donasi uang menggunakan kode transaksi PNTT26 – Peduli NTT 2026, sehingga lebih mudah diidentifikasi dan dicatat.
Namun, menurut Budi, penanganan bencana tidak boleh berhenti ketika kebutuhan darurat telah terpenuhi. Karena itu, yayasan mulai memikirkan program pemulihan jangka panjang, terutama menyangkut kebutuhan tempat tinggal warga terdampak.
Salah satu gagasan yang disiapkan adalah melibatkan Fakultas Teknik Sipil UWK untuk membantu merancang hunian sederhana yang memiliki ketahanan terhadap gempa.
“Jangka panjangnya, kami ingin membawa konsep bangunan sederhana yang tahan gempa ke sana. Harapannya, ke depan tidak ada lagi rumah rubuh yang menimpa warga,” jelasnya.
Konsep tersebut akan disesuaikan dengan kondisi dan potensi lokal.
Material bangunan diupayakan memanfaatkan bahan yang tersedia di daerah setempat agar biaya pembangunan lebih efisien dan tidak terbebani ongkos pengiriman material dari Jawa.
Distribusi Dikawal Jejaring Relawan
Untuk memastikan bantuan benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan, Posko Peduli NTT tidak bekerja sendiri.
Koordinasi dilakukan dengan jaringan relawan Flobamora dan pihak Keuskupan di NTT yang telah lebih dahulu bergerak di lokasi bencana.
Jejaring tersebut berperan dalam memetakan kebutuhan sekaligus mendukung distribusi bantuan.
Keberadaan relawan di lapangan diharapkan membuat penyaluran bantuan berdasarkan kondisi riil masyarakat, bukan sekadar perkiraan dari luar daerah.
Logistik yang masuk ke posko juga akan melalui proses pemilahan sebelum dikemas dan dikirim. Pakaian, selimut, makanan serta barang bantuan lainnya diperiksa untuk memastikan kondisinya layak digunakan.
“Di sana tim Flobamora dan pihak keuskupan sudah bergerak. Mereka memiliki banyak relawan di lapangan saat ini, sehingga penyaluran bantuan bisa tepat sasaran,” kata Budi.
Pihak yayasan juga berkomitmen memberikan pembaruan informasi mengenai proses penggalangan dan penyaluran bantuan kepada media.
Transparansi tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan bantuan dapat dipertanggungjawabkan.
UWK Ajak Masyarakat Bersolidaritas
Posko Peduli NTT UWK Malang terbuka bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan.
Bantuan uang dapat disalurkan melalui rekening BCA 011-3099906 atas nama Yayasan Perguruan Tinggi Katolik Adisucipto, dengan mencantumkan kode PNTT26 – Peduli NTT 2026.
Sementara bantuan berupa pakaian layak pakai, makanan dan bahan pokok, perlengkapan bayi dan anak, obat-obatan, kebutuhan kebersihan, selimut serta kebutuhan darurat lainnya dapat diserahkan melalui Posko Peduli NTT di Universitas Widya Karya Malang.
Informasi mengenai posko dapat diperoleh melalui kontak Saver (0821 4734 4269) dan Chorota (0812 8710 4469).
Bagi UWK dan jejaring masyarakat NTT di Malang Raya, gerakan tersebut menjadi pengingat bahwa solidaritas kemanusiaan tidak mengenal jarak.
Dari Malang, kepedulian diharapkan dapat bergerak hingga ke wilayah-wilayah terdampak yang masih membutuhkan uluran tangan.
“Satu bantuan mungkin terlihat kecil. Namun ketika digerakkan bersama, kepedulian tersebut dapat menjadi kekuatan besar bagi masyarakat yang sedang berjuang untuk bangkit dari bencana,” tandas Budi.(Djoko W)









