MALANGPARIWARA.COM –Â Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan D-ACT ECO (Deep Learning Adaptive Collaborative Technology for Economics), sebuah platform pembelajaran digital yang dirancang mengubah pola belajar ekonomi di Madrasah Aliyah (MA), dari sekadar menghafal materi menjadi pembelajaran yang menuntut pemahaman, berpikir kritis, pemecahan masalah hingga kolaborasi.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui kegiatan penelitian pada Juli–Agustus 2026. D-ACT ECO memadukan pendekatan Deep Learning dengan kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), sehingga teknologi tidak ditempatkan sekadar sebagai alat bantu, tetapi diintegrasikan dengan strategi pedagogi dan substansi materi ekonomi.
Pengembangan platform ini berangkat dari persoalan yang masih ditemukan dalam pembelajaran ekonomi. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan, meski sebagian besar guru telah memanfaatkan teknologi digital, penggunaannya masih banyak berkutat pada media presentasi dan platform berbagi dokumen.
Sementara pemanfaatan teknologi untuk mendorong kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, pembelajaran kolaboratif hingga asesmen digital masih relatif terbatas.
Kondisi tersebut membuat digitalisasi pembelajaran berisiko berhenti pada perubahan media, tanpa mengubah cara peserta didik belajar.
D-ACT ECO hadir untuk menjawab persoalan tersebut. Platform ini dirancang bukan hanya sebagai tempat menyimpan materi pembelajaran, tetapi menjadi ekosistem digital yang memungkinkan peserta didik mengeksplorasi persoalan ekonomi, berdiskusi, menyelesaikan masalah, mengerjakan proyek, melakukan asesmen hingga merefleksikan proses belajar.
Padukan Deep Learning dan TPACK
Salah satu kekuatan utama D-ACT ECO adalah integrasi Deep Learning dan TPACK. Pendekatan Deep Learning dalam platform ini dibangun melalui tiga prinsip, yakni Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning.
Meaningful Learning mendorong peserta didik menghubungkan konsep ekonomi dengan pengalaman dan persoalan nyata.
Sementara Mindful Learning menekankan keterlibatan sadar dalam proses mengeksplorasi, memahami, dan merefleksikan pembelajaran.
Adapun Joyful Learning diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang menarik dan menyenangkan, tanpa mengurangi kedalaman materi.
Ketiga prinsip tersebut kemudian dipadukan dengan Content Knowledge, Pedagogical Knowledge, dan Technological Knowledge dalam kerangka TPACK.
Dengan pola tersebut, teknologi tidak berdiri sendiri. Penggunaannya tetap diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan memperkuat pemahaman peserta didik terhadap materi ekonomi.
Platform D-ACT ECO dilengkapi berbagai fitur, mulai dari Dashboard, Materi Pembelajaran, Video Pembelajaran, LKPD Digital, Discussion Forum, Quiz and Evaluation, Project Based Assignment, Learning Analytics, hingga Teacher Dashboard.
Fitur-fitur tersebut dirancang agar proses belajar tidak berhenti pada membaca materi. Peserta didik diarahkan untuk melakukan eksplorasi, investigasi, kolaborasi, refleksi, hingga mentransfer pengetahuan untuk memahami fenomena ekonomi di lingkungan sekitar.
Diuji Bersama Guru Ekonomi
Pengembangan D-ACT ECO juga melibatkan guru yang tergabung dalam MGMP Ekonomi MA Jawa Timur. Pengujian dilakukan melalui kolaborasi dengan MGMP Ekonomi MA Kabupaten Kediri dan MGMP Ekonomi MA Blitar.
Guru tidak hanya diperkenalkan pada fitur dan cara kerja platform, tetapi juga memberikan masukan mengenai kemudahan penggunaan, tampilan website, kesesuaian materi, serta peluang penerapannya dalam pembelajaran ekonomi.
Keterlibatan guru menjadi bagian penting karena merekalah yang berhadapan langsung dengan kebutuhan peserta didik di ruang kelas.
Masukan dari proses pengujian tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan fitur dan konten D-ACT ECO agar semakin sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di Madrasah Aliyah.
Pengembangan platform dilakukan menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation.
Pada tahap analisis, tim mengidentifikasi kebutuhan melalui observasi dan wawancara dengan MGMP Ekonomi MA Provinsi Jawa Timur. Tahap berikutnya mencakup perancangan platform, pengembangan prototipe, validasi, implementasi, serta evaluasi.
Validasi Capai Nilai Aiken’s V di Atas 0,80
Dari sisi pengembangan produk, prototipe D-ACT ECO telah divalidasi oleh ahli media pembelajaran, ahli materi ekonomi, dan ahli TPACK.
Validasi mencakup tampilan antarmuka, navigasi, kemudahan penggunaan, kualitas materi, kesesuaian dengan capaian pembelajaran, penerapan Deep Learning, serta integrasi TPACK.
Hasil validasi menunjukkan seluruh aspek memperoleh nilai Aiken’s V di atas 0,80, sehingga prototipe dikategorikan sangat valid.
Meski demikian, proses validasi juga menghasilkan sejumlah catatan penyempurnaan. Di antaranya penyederhanaan navigasi, penambahan contoh kasus ekonomi kontekstual, peningkatan kualitas infografik, optimalisasi tampilan pada perangkat bergerak, serta penyempurnaan instrumen asesmen berbasis HOTS.
Asesmen menjadi salah satu bagian penting dalam D-ACT ECO. Melalui fitur Quiz and Evaluation, peserta didik tidak hanya diuji kemampuan mengingat materi, tetapi juga didorong menganalisis informasi, menyusun argumentasi, memecahkan persoalan dan mengambil keputusan berdasarkan konteks.
Dengan demikian, asesmen ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar tahap akhir untuk memperoleh nilai.
Bidik Pendidikan Berkualitas
Pengembangan D-ACT ECO juga dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Orientasinya bukan semata-mata menghadirkan teknologi baru di ruang kelas, melainkan membangun pembelajaran yang lebih bermakna, interaktif, kolaboratif dan berorientasi pada kompetensi.
Kolaborasi dengan komunitas MGMP juga membuka ruang peningkatan kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi secara lebih efektif.
Ke depan, pengembang D-ACT ECO membuka peluang pengembangan teknologi yang lebih adaptif, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), rekomendasi pembelajaran personal, bank soal adaptif, gamifikasi hingga dashboard analytics yang lebih komprehensif.
Pengembangan tersebut diarahkan agar D-ACT ECO tidak berhenti sebagai website pembelajaran, tetapi berkembang menjadi platform yang mampu membantu guru mengambil keputusan pembelajaran berbasis data.
Jika dikembangkan secara konsisten dan diperluas melalui kolaborasi dengan guru, D-ACT ECO berpotensi menjadi salah satu model digitalisasi pembelajaran ekonomi yang menempatkan teknologi sebagai penguat proses berpikir, bukan sekadar pengganti papan tulis dan buku teks.(Djoko W)









