MALANGPARIWARA.COM – Sekolah tidak harus menjadi ruang yang membatasi proses belajar siswa. Bagi SMAN 1 Turen, pengalaman di luar kelas justru dapat menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi, kreativitas, karakter hingga kemampuan sosial peserta didik.
Kepala SMAN 1 Turen, Agus Harianto, menegaskan sekolahnya terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi selama kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi perkembangan siswa.
Pernyataan itu disampaikan Agus setelah menyaksikan pelaksanaan Scholastic Uprising Day bersama Gooday di SMAN 1 Turen, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan tersebut dikemas melalui kompetisi, pertunjukan seni, permainan interaktif dan berbagai ruang kreativitas siswa.
“SMAN 1 Turen terbuka dengan siapapun yang ingin berkolaborasi. Selama itu memang untuk kepentingan peningkatan kompetensi anak-anak, terutama di bidang keterampilan, skill vokasi dan akademisnya, maka SMA 1 ini selalu terbuka,” ujar Agus, Minggu (27/9/2026).
Namun, keterbukaan itu tetap memiliki pijakan. Menurut Agus, setiap kegiatan harus memberi nilai tambah bagi peserta didik dan tidak boleh mengabaikan fondasi pendidikan yang dibangun sekolah.
Sebab, kemampuan akademik dan keterampilan tanpa karakter dinilai belum cukup untuk membentuk siswa yang utuh.
“Pintar apapun skill-nya, sehebat apapun kompetensinya, tetap kita tekankan harus menjaga bagaimana berakhlak yang baik,” tegasnya.
Scholastic Uprising Day Jadi Laboratorium Belajar Siswa
Bagi Agus, Scholastic Uprising Day bukan sekadar kegiatan hiburan. Momentum tersebut justru dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran alternatif yang memungkinkan siswa menghubungkan pengalaman langsung dengan materi yang dipelajari di kelas.
Siswa kelas XII, misalnya, diarahkan membuat vlog terkait kegiatan. Sementara siswa kelas XI mengaitkannya dengan tugas seni budaya dan prakarya.
Adapun siswa kelas X mendapatkan tugas yang berhubungan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia, mulai dari laporan teknis, laporan kegiatan hingga laporan hasil observasi.
“Tidak ada satupun dari anak-anak yang hanya sekadar datang dan kemudian tidak melakukan apa-apa,” kata Agus.
Model seperti itu, lanjutnya, membuat kegiatan di luar kelas tetap memiliki tujuan pembelajaran. Siswa mendapatkan pengalaman dalam suasana yang lebih santai, tetapi tetap diarahkan untuk menghasilkan karya dan mengembangkan kemampuan.
Dengan kata lain, belajar tidak berhenti ketika siswa meninggalkan bangku kelas.
Ekstrakurikuler Unjuk Kemampuan
Antusiasme siswa juga terlihat dari keterlibatan berbagai ekstrakurikuler dan kelompok siswa dalam kegiatan tersebut.
Wakil Kepala SMAN 1 Turen Bidang Kesiswaan, Ilham Santoso, mengatakan hampir seluruh potensi siswa mendapat ruang untuk tampil.
“Dari ekstra yang diikuti kemarin kelihatan tampil semua. Anak-anak juga luar biasa antusias,” ungkap Ilham.
Menurutnya, kegiatan semacam itu sekaligus menjadi kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini berkembang melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Namun, ia menekankan bahwa semarak kegiatan tetap harus beriringan dengan pembentukan karakter.
“Terutama akhlak, karakter dan religi anak,” ujarnya.
Kepala Sekolah Turun Panggung
Scholastic Uprising Day juga menghadirkan suasana berbeda ketika Agus Harianto tidak hanya menjadi penonton. Kepala sekolah tersebut ikut tampil berduet bersama salah seorang guru, Bu Nila.
Momen tersebut disambut antusias siswa. Para peserta didik pun mendapat kesempatan tampil melalui grup nyanyi yang telah dipersiapkan.
Keterlibatan kepala sekolah dan guru di panggung menciptakan suasana kebersamaan antara pendidik dan siswa. Sekat formal antara guru dan peserta didik sejenak mencair dalam kegiatan yang dikemas secara kreatif.
Rangkaian acara kemudian diisi kompetisi Mobile Legends dan futsal, game mini, aktivitas interaktif, penjualan produk Gooday, selfie mirror hingga panggung ekspresi siswa.
Pada akhir kegiatan, diumumkan para pemenang. Juara pertama Mobile Legends diraih grup SMANEREB, sedangkan kompetisi futsal dimenangi Tim Six Seven.
Acara ditutup dengan penampilan dance modern dan nyanyian suporter yang membuat suasana semakin semarak.
Agus Dorong Siswa Kenal Dunia Kewirausahaan
Di luar kegiatan akademik dan keterampilan, Agus juga ingin siswa memiliki pengalaman kewirausahaan.
Ia mengungkapkan, ketertarikannya terhadap dunia kewirausahaan tumbuh dari pengalaman masa lalu ketika dirinya mendapat dorongan untuk mempelajari bidang tersebut.
Pengalaman itu kemudian mendorongnya untuk membuka lebih banyak ruang bagi siswa agar mengenal dunia kewirausahaan secara lebih nyata.
Menurut Agus, siswa perlu memiliki pengalaman yang memungkinkan mereka melihat peluang, mengembangkan gagasan, bekerja sama, berkomunikasi dan berani mengambil peran.
Kolaborasi dengan berbagai pihak, menurutnya, dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas pengalaman tersebut.
Belajar Serius, tetapi Tetap Bahagia
Guru SMAN 1 Turen, Fahreza, berharap kegiatan seperti Scholastic Uprising Day tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
Ia melihat kegiatan tersebut dapat menjadi alternatif pembelajaran yang membuat siswa memperoleh pengalaman baru di luar rutinitas kelas.
“Harapannya, event ini mampu membuat kita bahagia dan bisa memberikan pembelajaran yang lain di luar lingkungan kelas,” kata Fahreza.
Bagi SMAN 1 Turen, kolaborasi menjadi bagian dari upaya memperluas ruang belajar siswa. Sekolah ingin peserta didik tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga memiliki kesempatan mengasah keterampilan, kreativitas, keberanian, kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama.
Agus memastikan pintu kolaborasi tetap terbuka, sepanjang kegiatan yang masuk ke lingkungan sekolah memiliki tujuan yang jelas dan memberikan manfaat bagi peserta didik.
Sebab, bagi SMAN 1 Turen, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak siswa mengetahui sesuatu, tetapi juga tentang bagaimana mereka mampu menggunakan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman itu untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan berakhlak.(Djoko W)






