Perempuan Didorong Kuasai Keterampilan Barbershop, Sri Untari Buka Akses Wirausaha Berbasis Koperasi

MALANGPARIWARA.COM – Penguatan ekonomi keluarga tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan pendapatan kepala keluarga.

Perempuan juga perlu memiliki keterampilan produktif yang dapat membuka peluang usaha dan menciptakan sumber penghasilan mandiri.

Upaya inilah yang didorong melalui pelatihan vokasi keterampilan potong rambut atau barbershop bagi 32 perempuan di Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Pelatihan yang difasilitasi melalui program Mobile Training Unit (MTU) UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Singosari tersebut resmi dibuka di Gedung Pertemuan Koperasi Konsumen Setia Budi Wanita (Kopmen SBW) Jawa Timur, Jalan Raden Intan Kavling 108, Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Kamis (1/10/2026).

Program ini terealisasi melalui dukungan Pokok Pikiran (Pokir) Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses perempuan terhadap pendidikan vokasi sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha baru di sektor jasa perawatan diri.

Sebanyak 32 peserta perempuan mengikuti pelatihan yang dibagi menjadi dua kelompok. Sebanyak 16 peserta berasal dari Kopmen SBW Malang yang tergabung dalam Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati). Sementara 16 peserta lainnya merupakan anggota Koperasi Wanita Panji, Kelurahan Cepokomulyo, Kecamatan Kepanjen, yang bernaung di bawah Asosiasi Koperasi Wanita Malang Raya (Askowmara).

Pelatihan akan berlangsung secara intensif selama 30 hari di dua lokasi, yakni kantor Puskowanjati dan wilayah Kepanjen. Peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis memotong rambut dengan teknik modern dan presisi, tetapi juga dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan usaha mandiri.

Pembekalan tersebut mencakup persiapan untuk membuka usaha, pelayanan pelanggan hingga pengelolaan operasional agar peserta memiliki bekal ketika memasuki dunia wirausaha.

Membuka Peluang Usaha, Bukan Sekadar Memberikan Keterampilan

Pelatihan barbershop ini memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar transfer keterampilan kerja. Perempuan yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal didorong agar mampu memanfaatkan keterampilan praktis sebagai modal untuk membangun usaha sendiri.

Sektor jasa perawatan rambut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha berbasis komunitas. Dengan keterampilan yang memadai, peserta berkesempatan membuka layanan potong rambut secara mandiri, baik dari rumah maupun melalui gerai usaha yang dikelola secara profesional.

Pendekatan ini juga membuka ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada ketersediaan lapangan kerja formal. Terlebih, jaringan koperasi yang telah dimiliki peserta dapat menjadi modal sosial untuk membangun jejaring pelanggan, berbagi pengalaman, serta mengembangkan usaha secara kolektif.

Dukungan Pokir Sri Untari melalui program pelatihan ini sekaligus memperlihatkan peran kebijakan pemberdayaan perempuan yang diarahkan pada peningkatan kapasitas produktif.

Pendidikan vokasi menjadi instrumen penting untuk mempertemukan kebutuhan keterampilan kerja dengan peluang ekonomi yang dapat dijangkau masyarakat.

Koperasi Menjadi Basis Pemberdayaan Ekonomi

Keterlibatan Kopmen SBW, Puskowanjati, Koperasi Wanita Panji dan Askowmara memberikan nilai strategis bagi keberlanjutan program. Koperasi tidak hanya menjadi wadah berhimpun bagi perempuan, tetapi juga berpotensi menjadi ekosistem pendukung bagi tumbuhnya usaha anggota.

Melalui pelatihan yang terhubung dengan jaringan koperasi, para peserta diharapkan tidak berhenti pada penguasaan keterampilan teknis. Mereka juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan usaha dengan dukungan komunitas, memperluas pemasaran, serta membangun kemandirian ekonomi secara bertahap.

Namun, keberhasilan program ini tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta yang menyelesaikan pelatihan. Kemampuan peserta menerapkan keterampilan, membuka usaha, memperoleh pelanggan, dan menjaga keberlangsungan bisnis menjadi indikator penting dari dampak nyata program tersebut.

Karena itu, pendampingan setelah pelatihan, akses terhadap peralatan kerja, serta dukungan permodalan dan pemasaran menjadi faktor yang dapat menentukan keberlanjutan usaha para peserta.

Melalui pelatihan selama 30 hari ini, diharapkan muncul wirausahawati baru dari lingkungan koperasi di Malang Raya. Selain memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, program ini juga diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja dan berkontribusi terhadap upaya menekan angka pengangguran terbuka.

Penguatan keterampilan perempuan pada akhirnya bukan hanya tentang menciptakan tenaga kerja terampil, melainkan membuka kesempatan agar mereka mampu menjadi pelaku ekonomi yang mandiri, produktif, dan berdaya saing.( Djoko W,)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *