Malangpariwara.com – Perbedaan budaya justru menjadi pintu untuk membangun koneksi global. Semangat itu mengemuka dalam CULTIVA 2026 (Cultural Heritage, Tourism, and International Values) yang digelar di Graha Politeknik Negeri Malang (Polinema), Selasa (6/10/2026).
Kegiatan ini mempertemukan empat perguruan tinggi, yakni Politeknik Negeri Malang (Polinema), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Politeknik Merlimau Melaka (PMM), dan Management and Science University (MSU) dalam sebuah perhelatan yang memadukan budaya, pendidikan, pariwisata dan jejaring internasional.
CULTIVA 2026 tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan budaya. Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi mahasiswa sekaligus wadah memperkenalkan peluang pendidikan global, perkembangan industri pariwisata, digitalisasi dan konsep smart tourism.

Ketua Panitia CULTIVA, Hilda Cahyani, S.S., M.Pd., Ph.D.
mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari project-based collaboration dalam bidang manajemen event antara Polinema dan Politeknik Merlimau Melaka.
“CULTIVA ini merupakan kegiatan ekspo sekaligus project-based collaboration manajemen event antara Politeknik Merlimau Melaka dengan Polinema,” ujar Hilda.
Menurutnya, kolaborasi tersebut telah dipersiapkan sekitar dua bulan sebelum pelaksanaan.
Mahasiswa kedua institusi terlebih dahulu melakukan pembelajaran dan koordinasi secara daring sebelum terlibat langsung dalam penyelenggaraan kegiatan di Malang.
Sebanyak 35 mahasiswa dari Politeknik Merlimau Melaka terlibat dalam rangkaian pembelajaran dan kegiatan.
Sementara Polinema melibatkan 49 mahasiswa dalam pengelolaan event tersebut.
“Anak-anak bekerja secara online terlebih dahulu. Mereka melakukan meeting dan mengikuti kelas. Hari ini menjadi puncak dari proses yang sudah mereka jalankan,” jelas Hilda.
Budaya Menjadi Pintu Kolaborasi Global
Mengusung semangat “One culture, endless connections”, CULTIVA 2026 menjadikan keberagaman budaya sebagai kekuatan untuk memperluas jejaring antarperguruan tinggi.
Rangkaian kegiatan dikemas dalam berbagai agenda, mulai dari diskusi inspiratif, pertunjukan budaya, pameran, kompetisi hingga sesi informasi beasiswa.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah Cultural Performance Competition, yang memberikan ruang kepada mahasiswa untuk menampilkan kreativitas dan kekayaan budaya melalui seni pertunjukan.
Mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan event.
Konsep ini sekaligus menjadi praktik pembelajaran berbasis proyek bagi mahasiswa, khususnya dalam bidang Meeting, Incentive, Conference and Exhibition (MICE).
“Memang anak-anak kita memiliki talenta dan ingin membuat acara. Karena itu, kami mengembangkan konsep MICE. Kebetulan Politeknik Merlimau Melaka menawarkan kolaborasi, kemudian kami konsultasikan dengan pimpinan dan dikembangkan menjadi ekspo yang lebih besar,” terang Hilda.
Pariwisata, Digitalisasi dan Smart Tourism
Selain pertunjukan budaya, CULTIVA 2026 menghadirkan simposium yang membahas industri pariwisata, digitalisasi dan smart tourism.
Forum ini mempertemukan pembicara dari dalam maupun luar negeri untuk membahas perkembangan sektor pariwisata di tengah perubahan teknologi dan meningkatnya konektivitas global.
Bagi Polinema, forum tersebut menjadi bagian penting untuk memperluas perspektif mahasiswa agar tidak hanya memahami pariwisata dari sisi akademik, tetapi juga melihat peluang dan tantangan industri secara langsung.
Agenda CULTIVA juga diperkuat dengan rencana penandatanganan kerja sama atau MoU dengan sejumlah mitra baru Polinema.
“Highlight-nya ada management event collaboration, kemudian simposium tentang industri pariwisata, digitalisasi dan smart tourism. Selain itu ada juga MoU dengan partner-partner Polinema yang baru,” kata Hilda.
25 Booth Hadirkan Budaya, UMKM hingga Beasiswa
Nuansa internasional semakin terasa melalui kehadiran sekitar 25 booth yang menampilkan berbagai produk, informasi pendidikan, budaya dan peluang kerja sama.
Booth tersebut diisi Polinema, mitra internasional, institusi pendidikan, hingga pelaku UMKM dan mitra usaha.
Sejumlah institusi yang terlibat antara lain UTM, INTEC, MSU, Australia Corner, Confucius Institute dan perwakilan Jepang.
CULTIVA juga menjadi ruang bagi Polinema untuk memperkenalkan program internasional, kelas internasional dan joint degree kepada pelajar dan mahasiswa.
Sementara bagi siswa SMA dan SMK, kegiatan ini membuka akses terhadap informasi pendidikan tinggi internasional dan peluang beasiswa.
INTEC menghadirkan informasi mengenai beasiswa dari Taiwan, sedangkan perwakilan Jepang memperkenalkan program MEXT Scholarship.
“Jadi memang tidak hanya culture. Mahasiswa maupun siswa bisa datang untuk mendapatkan informasi scholarship atau beasiswa,” jelas Hilda.
Kehadiran mahasiswa internasional Polinema asal Madagaskar dan Yaman turut memperkuat atmosfer multikultural dalam kegiatan tersebut.
Di sisi lain, keterlibatan UMKM menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk lokal, termasuk kuliner, kepada peserta dari Malaysia maupun pengunjung.
Dari Ruang Kelas ke Panggung Internasional
Kolaborasi Polinema dengan PMM menjadi salah satu kekuatan utama CULTIVA 2026.
Mahasiswa dari kedua institusi tidak hanya bertukar pengalaman budaya, tetapi bersama-sama belajar merancang dan menjalankan sebuah kegiatan internasional.
Persiapan dilakukan selama sekitar dua bulan melalui pertemuan daring, pembelajaran, pembagian tugas dan koordinasi lintas negara.
Puncaknya berlangsung di Graha Polinema melalui rangkaian pameran, simposium, pertunjukan budaya dan kompetisi.
Model tersebut membuat CULTIVA menjadi lebih dari sekadar festival budaya. Event ini menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan komunikasi lintas budaya, kerja tim, manajemen event dan jejaring internasional.
Hilda menegaskan, mahasiswa dituntut untuk mengalami langsung seluruh proses penyelenggaraan kegiatan, bukan sekadar mempelajari teori.
“Mahasiswa bukan hanya datang dan melihat event, tetapi mereka terlibat dalam pengelolaan event dari proses awal sampai pelaksanaan,” pungkasnya.
Melalui CULTIVA 2026, perbedaan budaya ditempatkan sebagai kekuatan untuk membangun koneksi baru.
Budaya menjadi pintu masuk, sementara pendidikan, pariwisata, teknologi, beasiswa dan kolaborasi internasional menjadi jembatan menuju peluang yang lebih luas bagi generasi muda.
Berbeda budaya, satu perjalanan menuju koneksi global.(Djoko W)








