UB Perkuat Living Lab, Gandeng Pemda dan Industri Selesaikan Persoalan Ketenagakerjaan hingga Ekonomi Desa

Edukasi2 views

Malangpariwara.com – Universitas Brawijaya (UB) memperkuat pendekatan kolaborasi melalui pengembangan living lab untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan ilmu pengetahuan dan riset, tetapi juga memastikan hasilnya memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Rektor UB Prof. Widodo menegaskan, persoalan sosial dan ketenagakerjaan memiliki kompleksitas tinggi sehingga tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi. Dibutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia industri, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sekaligus menerapkannya untuk membantu menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.

“Problematika ketenagakerjaan itu sangat kompleks sehingga tidak bisa diselesaikan oleh satu institusi saja. Perguruan tinggi harus menggunakan ilmu yang dimiliki untuk membantu menyelesaikan masalah masyarakat. Namun, pelaksanaannya membutuhkan kerja sama dengan pemerintah daerah dan mitra industri,” ujar Widodo. Jum’at, ( 30/10//26).

Ia menjelaskan, UB telah mengembangkan banyak desa binaan sebagai laboratorium sosial atau living lab.

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat diarahkan untuk menjawab kebutuhan spesifik di setiap wilayah.

Program tersebut telah berjalan di berbagai daerah, mulai Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga wilayah lain di Indonesia. Bahkan, UB membentuk konsorsium untuk memperkuat program pemberdayaan masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Salah satu contoh konkret adalah pengembangan komoditas jagung di lahan kering NTT. Program penelitian UB disinergikan dengan program pemerintah daerah sehingga pengembangan pertanian tidak berhenti pada peningkatan hasil panen.

Pendekatan yang diterapkan mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, hingga pengembangan produk olahan. Tanaman jagung dimanfaatkan secara optimal, termasuk bagian tanaman yang dapat diolah menjadi pakan ternak.

Dengan demikian, petani tidak hanya memperoleh hasil dari produksi jagung, tetapi juga memiliki peluang meningkatkan produktivitas peternakan.

Rantai kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Jadi, kegiatan ini terintegrasi dengan berbagai sektor. Petani menanam jagung, bagian tanaman yang bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak, sehingga ternaknya sehat dan produktif. Di sisi lain, keterampilan masyarakat dalam mengembangkan produk berbahan jagung juga ditingkatkan,” jelasnya.

Pengabdian UB Menjangkau Papua hingga Daerah Terpencil
Komitmen UB dalam menerapkan ilmu pengetahuan juga diperluas melalui berbagai program pengabdian masyarakat. Widodo menyebut, UB turut membantu program Kementerian Ketenagakerjaan melalui program Patriot.

Alumni UB juga terlibat langsung dalam pendampingan masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk Papua dan Mamuju. Selain itu, terdapat program Dokter Mengabdi, Kuliah Kerja Nyata (KKN), serta berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan sivitas akademika. Namun, Widodo mengingatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak bisa dilakukan secara instan.

Persoalan yang dihadapi masyarakat membutuhkan pendampingan berkelanjutan, konsistensi program, serta kolaborasi lintas sektor.

“Masalah masyarakat tidak bisa selesai hanya dengan satu kali kegiatan. Dibutuhkan keberlanjutan, kesinambungan, serta kerja sama dengan banyak pemangku kepentingan. Tidak bisa kita menyelesaikannya sendiri,” tegasnya.

Kampung Lingkar Kampus Dikembangkan Jadi Ekosistem Kedua Mahasiswa

Selain menjangkau wilayah di luar Malang, UB juga mendorong penguatan pemberdayaan masyarakat di kawasan kampung lingkar kampus.

Widodo menilai, kehadiran UB bersama masyarakat sekitar telah memberikan dampak positif. Warga mulai bergairah mengembangkan berbagai gagasan untuk menjadikan kampung mereka lebih berdaya.

Sejumlah kegiatan, termasuk kampung budaya, menjadi bagian dari upaya membangun aktivitas sosial dan kreativitas masyarakat di sekitar kampus.

Ke depan, UB ingin menjadikan kampung lingkar kampus sebagai ekosistem kedua bagi mahasiswa. Artinya, kehidupan mahasiswa di luar lingkungan kampus tetap terhubung dengan atmosfer akademik, kreativitas, dan pengembangan kompetensi.

“Harapannya, kampung di lingkar kampus itu bisa menjadi seperti kampus kedua bagi mahasiswa. Ketika mahasiswa tinggal di kampung, mereka tetap merasakan ekosistem Universitas Brawijaya,” ungkapnya.

Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa, mulai kemampuan bahasa, kepemimpinan atau leadership, hingga kemudahan akses internet melalui fasilitas Wi-Fi.

Dengan konsep itu, hubungan UB dan masyarakat sekitar tidak sebatas interaksi sosial, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi yang saling menguatkan.

Pengukuhan Guru Besar Berpeluang Jadi Ruang Alternatif

Dalam kesempatan tersebut, Widodo juga menyinggung kemungkinan pemanfaatan agenda akademik UB untuk mendukung pengembangan kampung lingkar kampus.

Ia menyebut, pelaksanaan wisuda memiliki sejumlah pertimbangan teknis karena melibatkan kehadiran orang tua mahasiswa, kebutuhan logistik, tempat, serta mobilisasi peserta.

Karena itu, pengukuhan guru besar dinilai berpeluang menjadi salah satu alternatif kegiatan yang dapat diselaraskan dengan pengembangan kawasan lingkar kampus.

“Pengukuhan guru besar mungkin menjadi bagian dari alternatif. Itu yang paling memungkinkan ke depan dan sepertinya menarik,” pungkasnya.

Melalui penguatan living lab, UB berupaya memperluas peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu sekaligus mitra penyelesaian persoalan masyarakat.

Ukuran keberhasilan riset tidak hanya terletak pada hasil penelitian, tetapi juga pada sejauh mana ilmu pengetahuan mampu meningkatkan kapasitas, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat.(Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *