Malangpariwara.com – Penguatan tata kelola bendungan besar di tengah perubahan iklim menjadi perhatian utama dalam Seminar Nasional Bendungan Besar 2026 yang digelar Indonesian National Committee on Large Dams (INACOLD) di Fakultas Teknik (FT) Universitas Brawijaya (UB), Jumat-Sabtu (6–7/11/2026).
Seminar nasional selama dua hari ini mengangkat tema Strategi Penguatan Tata Kelola Bendungan Besar untuk Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan para praktisi, akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan bidang pengelolaan bendungan untuk bertukar pengetahuan, pengalaman, serta membahas tantangan pengelolaan sumber daya air ke depan.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I (PJT I) Dr. Ir. Fahmi Hidayat, S.T., M.T. mengatakan, seminar tahunan ini memiliki peran penting dalam memperkuat kolaborasi dan berbagi pengalaman antarpelaku pengelolaan bendungan.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tidak hanya diisi seminar dan presentasi makalah, tetapi juga kunjungan lapangan ke Bendungan Sutami dan PLTA Sengguruh untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan infrastruktur sumber daya air.
“Ini kegiatan tahunan yang mempertemukan praktisi, akademisi, dan peneliti di bidang bendungan. Harapannya, semua bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perubahan iklim menjadi salah satu isu strategis karena berdampak langsung terhadap ketersediaan sumber daya air dan pola pengelolaan bendungan.
Dalam rangkaian seminar, Kepala BMKG dijadwalkan menyampaikan keynote speech mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap sumber daya air dan pengelolaan bendungan.
Fahmi menegaskan, pengelolaan bendungan harus semakin andal agar manfaatnya tetap terjaga dalam jangka panjang.
Bendungan tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir, tetapi juga menopang penyediaan air baku, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), hingga sektor pariwisata.
“Pengelolaan bendungan harus mampu beradaptasi dan melakukan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim. Sehingga manfaatnya tetap bisa dirasakan sampai generasi mendatang,” katanya.
Sedimentasi Jadi Ancaman Bendungan Sutami
Salah satu perhatian penting PJT I adalah keberlanjutan fungsi Bendungan Sutami di Kabupaten Malang. Bendungan yang telah beroperasi lebih dari 50 tahun atau sekitar 52 tahun tersebut memiliki peran strategis dalam menopang kebutuhan air di wilayah hilir.
Fahmi mengakui, sedimentasi atau pendangkalan merupakan persoalan alami yang dialami seluruh bendungan. Proses tersebut terjadi akibat erosi di wilayah hulu yang membawa material tanah melalui aliran sungai hingga mengendap di waduk.
Menurutnya, laju sedimentasi sangat bergantung pada kondisi daerah tangkapan air atau catchment area. Kondisi kawasan hulu yang terbuka dapat meningkatkan erosi permukaan sehingga mempercepat masuknya material sedimen ke waduk.
“Semua bendungan di dunia mengalami sedimentasi. Hanya laju dan tingkat kekritisannya yang berbeda-beda, tergantung kondisi daerah tangkapan air,” jelasnya.
Karena itu, PJT I berupaya menjaga Bendungan Sutami agar tetap berfungsi dalam jangka panjang. Fahmi menegaskan, bendungan strategis tersebut tidak boleh dibiarkan mengalami pendangkalan hingga kehilangan kapasitas tampungnya.
Sebab, jika Bendungan Sutami sampai penuh oleh sedimentasi, dampaknya akan sangat besar. Mulai dari meningkatnya risiko banjir, terganggunya pasokan air baku, hingga berkurangnya kemampuan pembangkit listrik tenaga air.
Di sisi lain, membangun bendungan besar baru sebagai pengganti Sutami bukan perkara mudah. Keterbatasan lokasi, dampak sosial dan lingkungan, serta kebutuhan biaya konstruksi yang besar menjadi tantangan tersendiri.
“Kita akan jaga mati-matian. Prinsipnya, Bendungan Sutami harus bisa berfungsi selama-lamanya. Tidak boleh bendungan itu dibatasi usianya hanya 50 atau 100 tahun, tetapi semaksimal mungkin manfaatnya harus terus dipertahankan,” tegas Fahmi.
Untuk menjaga kapasitas tampung, PJT I menjalankan sejumlah langkah, di antaranya konservasi kawasan hulu, flushing atau penggelontoran sedimen di Bendungan Sengguruh, serta pengerukan sedimentasi di Bendungan Sutami.
Antisipasi El Nino, Modifikasi Cuaca Disiapkan
Selain sedimentasi, perubahan pola cuaca juga menjadi tantangan dalam menjaga ketersediaan air di Bendungan Sutami. Fenomena El Nino yang berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang dapat mengurangi debit air masuk atau inflow ke waduk.
Fahmi mengatakan, PJT I terus memantau perkembangan iklim berdasarkan prakiraan dan rekomendasi BMKG. Langkah antisipasi diperlukan agar kebutuhan air masyarakat dan sektor produktif di wilayah hilir tetap terpenuhi.
Memasuki musim penghujan, PJT I juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca. Upaya tersebut direncanakan pada awal musim hujan dan menjelang akhir musim hujan, dengan mempertimbangkan potensi awan yang dapat disemai menjadi hujan.
Strategi ini diharapkan dapat mengoptimalkan potensi curah hujan agar air dapat ditampung di waduk sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau berikutnya.
“Perubahan iklim ini kadang tidak bisa diprediksi. Bisa saja musim hujan berlangsung lebih pendek. Karena itu, berdasarkan rekomendasi BMKG, operasi modifikasi cuaca akan kami lakukan ketika ada potensi awan yang bisa disemai menjadi hujan,” paparnya.
Menurut Fahmi, pengelolaan tampungan waduk harus dilakukan secara cermat. Saat debit air meningkat, waduk harus mampu menampung dan mengendalikan potensi banjir. Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, cadangan air harus tersedia untuk memenuhi kebutuhan di wilayah hilir.
Terkait kesiapan Bendungan Sutami menghadapi musim hujan, Fahmi memastikan waduk tersebut siap menjalankan fungsinya sebagai tampungan air sekaligus pengendali banjir.
“Insyaallah siap. Harus bisa menampung. Tidak boleh Sutami ini tidak mampu,” pungkasnya.(Djoko W)






