Riset Mahasiswa FIKES UMM Tembus Scopus Usai Teliti Strategi Coping Pramenstruasi

Malangpariwara.com — Prestasi membanggakan diraih Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FIKES UMM, yang berhasil mempublikasikan penelitiannya di jurnal internasional bereputasi Scopus Q2, capaian langka bagi mahasiswa.

Penelitian tersebut mengangkat isu strategi coping perempuan dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Topik ini kerap dianggap sepele, namun memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan fisik dan psikologis perempuan.

Fase Pramenstruasi Perempuan

Rintan menjelaskan bahwa risetnya berfokus pada cara perempuan mengelola perubahan emosi, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui beragam mekanisme coping. Ia menilai respons perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

“Setiap perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Ada yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan 22 Januari lalu pada tim humas UMM.

Ketertarikan Rintan terhadap topik ini bermula dari pengalaman pribadinya yang kerap mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk memahami cara perempuan mengelola emosi dan kondisi fisik secara lebih sehat.

“Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk memahami apakah ada cara yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi tersebut,” ungkapnya.

Strategi Coping Pramenstruasi

Penelitian berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” ini melibatkan 321 responden perempuan di Indonesia. Hasil riset menunjukkan bahwa banyak perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui aktivitas positif, seperti berkumpul dengan teman atau berbagi cerita.

“Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelasnya.

Riset Mahasiswa UMM Tembus Scopus Usai Teliti Strategi Coping Pramenstruasi
Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM yang jurnalnya tembus Scopus Q2 (Ist)

Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi tubuh. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya dinilai lebih siap secara mental menghadapi perubahan pramenstruasi.

“Perempuan yang mengenal tubuhnya sendiri biasanya lebih cepat menyadari tanda-tanda perubahan emosi. Mereka kemudian bisa langsung menerapkan strategi coping, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak istirahat,” tambahnya.

Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi coping perempuan. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi fase pramenstruasi.

Kurangnya Pemahaman Terkait Kesehatan Emosional Pramenstruasi

Sebaliknya, kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar justru dapat memperburuk kondisi emosional perempuan.

“Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan untuk tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan berlebihan justru bisa memperparah tekanan emosional,” katanya.

Melalui penelitian ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi di masyarakat. Ia menilai banyak perempuan belum menyadari bahwa perubahan emosi pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dikelola dengan tepat.

“Perubahan emosi menjelang menstruasi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegas Rintan.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif. Edukasi tersebut tidak hanya menekankan aspek biologis menstruasi, tetapi juga aspek psikologis dan sosial.

“Perempuan perlu tahu bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi perubahan ini. Ada cara-cara sehat yang bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental,” ujarnya.

Disamping itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa penelitian ini sejak awal memang diarahkan agar tidak berhenti sebagai skripsi semata. Mahasiswa didorong untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam dan siap menerima masukan dari reviewer internasional.

“Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” jelas Henny.

Ia menegaskan bahwa penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Keberadaan instrumen yang telah tervalidasi dinilai memudahkan perawat dalam menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat.

“Dengan adanya instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola coping perempuan terhadap perubahan pramenstruasi dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran,” tambahnya.

Henny berharap hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan. Baik dalam konteks pendidikan keperawatan maupun peningkatan layanan kesehatan reproduksi perempuan di Indonesia. (Djoko W)