Malangpariwara.com – Kegiatan buka puasa bersama yang sejatinya menjadi momen mempererat hubungan sering kali tanpa disadari berubah menjadi ruang untuk membandingkan diri dengan orang lain. Obrolan seputar karier, usaha, pendidikan, hingga pernikahan dapat memicu sebagian orang untuk menilai kembali posisi dan pencapaian dirinya dibandingkan dengan orang lain.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa rasa minder bukan disebabkan oleh kegiatan bukber itu sendiri.
Perasaan tersebut muncul ketika seseorang bertemu teman dengan perkembangan hidup berbeda sehingga tanpa sadar melakukan upward social comparison.
“Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita.
Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya 04 Maret lalu pada Tim Humas UMM.
Bertemu Teman Lama Berikan Dorongan Untuk Membandingkan Diri
Ia menambahkan bahwa dorongan membandingkan diri semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama.
Faktor kesamaan latar belakang membuat orang merasa memiliki titik awal yang sama sehingga menjadikan teman sebagai tolok ukur keberhasilan hidup saat ini.
Teman sekolah atau kuliah sering dianggap memiliki perjalanan awal yang serupa sehingga memicu perbandingan yang terasa lebih personal.
Semakin besar rasa kemiripan tersebut, semakin besar pula kecenderungan menjadikannya sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri, baik dari segi karier, relasi, maupun finansial.
“Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama. Meski begitu, perasaan minder dalam situasi sosial adalah hal yang normal. Secara alami, manusia membandingkan diri untuk mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini, baik terkait kemampuan, kepribadian, maupun sikap,” jelasnya.
Menurutnya, proses membandingkan diri tidak selalu berdampak negatif. Jika dimaknai secara sehat, perbandingan tersebut justru dapat memotivasi seseorang untuk berkembang sekaligus menumbuhkan rasa syukur.
Media Sosial Berpengaruh pada Kecenderungan Membandingkan Diri
Atika juga menyoroti peran media sosial yang sering memperkuat kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Paparan kehidupan orang lain secara terus-menerus dapat memengaruhi cara individu menilai dirinya.
“Adapun peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial tersebut. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteemyang dimiliki. Padahal konten yang ditampilkan sering kali hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak merepresentasikan realitas secara menyeluruh,” katanya.
Untuk menjaga kepercayaan diri saat bertemu banyak orang, ia menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada pencapaian orang lain. Penting untuk melihat perjalanan hidup secara lebih proporsional serta memusatkan energi pada pengembangan diri.
Ia juga menyarankan kebiasaan sederhana seperti menuliskan beberapa perkembangan positif yang telah dicapai sebagai pengingat proses pertumbuhan pribadi.
Jika perasaan cemas atau overthinking berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi solusi yang tepat. (Djoko W)






