Malangpariwara.com – Politeknik Negeri Malang kembali menegaskan posisinya sebagai kampus vokasi yang tidak sekadar menjadi pusat akademik, tetapi juga hadir menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Melalui Expo Hasil Riset dan Inovasi 2026 yang digelar di Graha Polinema pada 20–21 Mei 2026, berbagai karya dosen dan mahasiswa dipamerkan sebagai bukti bahwa riset kampus mampu memberi dampak langsung bagi dunia usaha, industri, hingga masyarakat luas.

Kegiatan yang menjadi bagian dari Dies Natalis ke-44 Polinema itu mengusung tema “Penguatan Ekosistem Inovasi Melalui Kekayaan Intelektual dan Kolaborasi untuk Percepatan Hilirisasi Hasil Riset.” Expo tersebut dibuka langsung oleh Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani.
Kehadiran pemerintah pusat dalam kegiatan itu menjadi sinyal kuat bahwa arah pengembangan riset perguruan tinggi kini tidak lagi hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi dituntut mampu menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat dan dunia industri.

Direktur Polinema, Supriatna Adhisuwignjo, menegaskan bahwa seluruh penelitian yang dilakukan di Polinema diarahkan berbasis kebutuhan masyarakat dan persoalan nyata di lapangan.
Menurutnya, penelitian tidak boleh berhenti di laboratorium ataupun sekadar menjadi dokumen akademik.
“Penelitian Polinema kami arahkan berbasis kebutuhan masyarakat dan problematika yang ada. Sehingga solusi yang ditawarkan dapat benar-benar bermanfaat bagi mitra yang membutuhkan dukungan hasil riset,” ujarnya.
Pendekatan tersebut diterapkan melalui pola kolaborasi sejak awal proses penelitian. Kampus tidak berjalan sendiri, melainkan menggandeng mitra industri maupun masyarakat agar hasil riset benar-benar sesuai kebutuhan lapangan dan dapat langsung diterapkan.
Bagi Polinema, hilirisasi riset menjadi bagian penting dalam membangun kampus berdampak. Karena itu, hasil penelitian tidak hanya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk pendampingan UMKM, pengembangan teknologi tepat guna, bantuan alat produksi, penguatan pemasaran digital, hingga pembinaan tata kelola usaha.
Model pendampingan seperti ini dinilai sangat penting, terutama bagi pelaku UMKM yang selama ini memiliki keterbatasan dalam melakukan inovasi dan pengembangan produk secara mandiri.
Kampus hadir sebagai pusat pengetahuan sekaligus motor penggerak inovasi masyarakat.
Tak hanya berdampak bagi masyarakat, hasil-hasil penelitian tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkuat proses pembelajaran mahasiswa.
Materi riset dijadikan pengayaan bahan ajar dan diterapkan melalui pembelajaran berbasis proyek agar mahasiswa lebih dekat dengan persoalan nyata dunia kerja.
Menurut Supriatna, mahasiswa vokasi tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus mampu membaca kebutuhan masyarakat serta memahami perkembangan teknologi terbaru.
“Kami ingin ada sinergi antara penguatan kualitas riset, dampaknya terhadap masyarakat, dan peningkatan kualitas pembelajaran sehingga menghasilkan lulusan yang lebih kompeten,” katanya.
Sementara itu, Ahmad Najib Burhani menilai langkah yang dilakukan Polinema mencerminkan transformasi peran perguruan tinggi di Indonesia. Kampus, menurutnya, harus mampu menjadi penghubung antara dunia akademik, industri, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Ia mengapresiasi berbagai inovasi yang dipamerkan dalam expo tersebut karena menunjukkan bahwa riset kampus dapat diterapkan secara langsung dan memiliki peluang dikembangkan lebih luas bersama dunia industri.
“Ini menjadi penghubung antara kampus dengan masyarakat, industri, dan pemerintah daerah agar kampus tidak menjadi menara gading. Riset harus relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Burhani menambahkan, peran perguruan tinggi sangat strategis terutama dalam membantu UMKM yang umumnya belum memiliki kemampuan riset dan pengembangan secara mandiri. Dalam kondisi itu, kampus menjadi kekuatan penting untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya konsep “kampus berdampak”, yakni perguruan tinggi yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi secara nyata.
“Dampak akademik tetap harus dijaga agar kebermanfaatan sosial dan ekonomi yang dihasilkan menjadi lebih kuat dan kokoh,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Polinema, Ratna Ika Putri, menjelaskan bahwa expo tersebut menjadi agenda rutin sekaligus ruang mempertemukan kampus dengan dunia industri dan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan itu tidak hanya bertujuan memamerkan hasil riset dan inovasi dosen maupun mahasiswa, tetapi juga memperkuat jejaring kemitraan strategis demi mempercepat hilirisasi hasil penelitian.
“Pemanfaatan dan perlindungan kekayaan intelektual menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Expo tahun ini diikuti mitra industri, 10 perguruan tinggi, serta menampilkan lebih dari 20 hasil riset dan inovasi karya peneliti Polinema.

Berbagai agenda turut digelar, mulai talkshow strategi percepatan hilirisasi riset, seminar kekayaan intelektual, hingga pembahasan kemitraan industri dan perguruan tinggi.
Kegiatan tersebut juga diramaikan dengan penyerahan surat paten dari Kementerian Hukum kepada Polinema serta penandatanganan nota kesepahaman dengan sejumlah mitra strategis dunia industri.
Menariknya, Polinema juga menunjukkan komitmen terhadap inklusivitas melalui lomba Robot Line Follower yang diikuti lebih dari 20 peserta mulai tingkat SMP, SMA, hingga mahasiswa, termasuk peserta difabel yang tampil mandiri dan penuh semangat.
Melalui Expo Riset 2026 ini, Polinema ingin menegaskan bahwa perguruan tinggi bukan lagi “menara gading” yang jauh dari masyarakat.
Kampus hadir sebagai ruang kolaborasi, tempat lahirnya inovasi, sekaligus penggerak solusi bagi kebutuhan sosial, ekonomi, dan perkembangan industri di masa depan.(Djoko W)






