Tekan Pengangguran dari Akar Rumput, Sri Untari Bangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Lewat Koperasi

Malangpariwara.com – Di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah, persoalan pengangguran tak lagi hanya berbicara soal lapangan kerja formal.

Bagi banyak keluarga, terutama di tingkat rumah tangga, kebutuhan hidup yang semakin meningkat menuntut hadirnya sumber penghasilan tambahan yang bisa dijalankan secara fleksibel tanpa meninggalkan tanggung jawab domestik.

Dari kegelisahan itulah, lahir langkah konkret pemberdayaan perempuan yang digagas Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno.

Melalui realisasi program Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) yang bersinergi dengan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur, Sri Untari menggulirkan pelatihan kerja berbasis komunitas dan koperasi bagi perempuan di wilayah Malang Raya.

Program tersebut bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan dirancang sebagai gerakan pemberdayaan ekonomi yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat bawah.

Selama satu bulan penuh, puluhan ibu rumah tangga mengikuti pelatihan intensif melalui skema Mobile Training Unit (MTU).

Peserta sosialisasi dan pelatihan kerja .(Ist)

Mereka dibekali keterampilan praktis yang memiliki peluang usaha nyata di tengah masyarakat. Pelatihan itu tersebar di empat titik strategis, yakni pelatihan Make Up Artist (MUA) di Koperasi Setia Budi Wanita Malang, pelatihan MUA di Koperasi Mekarsari Ngantang, pelatihan menjahit di Kopwan Cempaka Turen, serta pelatihan bakery atau pembuatan kue yang dipusatkan di Balai Latihan Kerja (BLK).

Namun yang membuat program ini berbeda adalah keberlanjutan pasca pelatihan yang telah dipikirkan secara matang.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno saat memberi sambutan dan buka pelatihan.(Ist)

Sri Untari menilai, persoalan utama masyarakat kecil bukan hanya minimnya keterampilan, tetapi juga keterbatasan modal dan alat kerja setelah pelatihan selesai.

Karena itu, koperasi dilibatkan sebagai rumah besar pemberdayaan ekonomi. Para peserta tidak dilepas begitu saja setelah lulus. Mereka justru akan didampingi agar benar-benar mampu memulai usaha secara mandiri.

“Kalau peserta menjahit belum punya mesin, koperasi akan membantu meminjamkan. Begitu juga peserta MUA akan difasilitasi perlengkapan kosmetik agar mereka bisa langsung menerima jasa rias,” terang Sri Untari, Senin (18/5).

Model kolaborasi seperti ini dinilai menjadi solusi yang lebih membumi.

Disnaker hadir menyediakan instruktur, alat praktik, bahan pelatihan, konsumsi hingga uang transport peserta. Sementara koperasi mengambil peran sebagai penguat ekosistem ekonomi masyarakat agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti sebagai sertifikat semata.

Bagi Sri Untari, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya melalui slogan emansipasi. Perempuan harus diberi akses keterampilan, ruang usaha, dan dukungan ekonomi yang nyata.

Terlebih mayoritas konstituen yang ia temui di Malang Raya adalah ibu-ibu rumah tangga yang sebenarnya memiliki semangat bekerja, namun terbatas kesempatan.

Ia meyakini, ketika perempuan diberi kemampuan dan pendampingan yang tepat, maka dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi langsung menyentuh ketahanan ekonomi keluarga.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar pelatihan selesai. Kami ingin ibu-ibu ini benar-benar mandiri, punya penghasilan sendiri, membantu ekonomi keluarga, namun tetap bisa menjalankan peran di rumah. Jadi dapur tetap mengepul, anak-anak tetap terurus,” ungkapnya.

Program ini sekaligus menjadi gambaran bahwa upaya menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tidak selalu harus dimulai dari proyek besar berskala industri.

Kadang, perubahan justru lahir dari ruang-ruang sederhana: dari mesin jahit di sudut rumah, dari tangan ibu-ibu yang merias pengantin, atau dari aroma roti yang dipanggang di dapur kecil mereka sendiri.

Di situlah ekonomi kerakyatan menemukan denyutnya tumbuh dari komunitas, diperkuat koperasi, lalu bergerak perlahan menjadi harapan baru bagi keluarga-keluarga di Malang Raya.( Djoko W)