Malangpariwara.com – Kontroversi film Pesta Babi yang ramai diperbincangkan publik belakangan ini memunculkan beragam respons di tengah masyarakat.
Sebagian pihak menilai film tersebut sebagai bentuk ekspresi seni, sementara lainnya menganggap isi dan simbol yang ditampilkan menimbulkan keresahan sosial.
Menanggapi polemik tersebut, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Malang Raya, Cahyono, menilai perbedaan pandangan terhadap sebuah karya seni merupakan hal yang wajar dalam ruang demokrasi dan kebebasan berpikir.
Menurutnya, masyarakat perlu menempatkan kualitas berpikir dan kedewasaan dalam memahami sebuah persoalan sebagai landasan utama sebelum memberikan penilaian terhadap suatu karya.
“Setiap karya, termasuk film maupun ritual budaya, pada dasarnya adalah medium ekspresi dan penafsiran. Masing-masing orang tentu memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memaknainya,” ujar Cahyono.
Ia menegaskan, kebebasan berekspresi merupakan bagian dari dinamika masyarakat modern yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan seni dan budaya. Namun di sisi lain, publik juga dituntut memiliki kedewasaan dalam menyikapi perbedaan perspektif agar tidak mudah terjebak pada konflik emosional maupun perdebatan yang destruktif.
“Kita merdeka dalam berpikir sepanjang mampu menempatkan kualitas nalar sebagai kasta tertinggi. Ketika seseorang memahami hakikat dan konteks sebuah persoalan, maka medium ekspresi apa pun sejatinya hanyalah jalan penafsiran,” katanya.
Cahyono menambahkan, dalam menilai sebuah karya seni, masyarakat sebaiknya tidak hanya terpaku pada simbol atau tampilan di permukaan, melainkan juga memahami pesan, konteks, serta nilai yang ingin disampaikan oleh pembuat karya.
Ia juga mengingatkan bahwa kritik terhadap karya seni merupakan sesuatu yang sah dalam negara demokrasi. Namun kritik harus disampaikan secara proporsional, tidak provokatif, dan tetap menghormati keberagaman pandangan di tengah masyarakat.
“Perbedaan pendapat itu sehat. Yang penting jangan sampai menimbulkan perpecahan sosial atau menghilangkan ruang dialog yang santun,” tegasnya.
Kontroversi film Pesta Babi sendiri hingga kini masih menjadi pembahasan hangat di media sosial.
Berbagai tanggapan bermunculan, mulai dari dukungan terhadap kebebasan berekspresi hingga penolakan terhadap isi dan pesan yang dianggap sensitif oleh sebagian kalangan.
Di tengah derasnya arus opini publik, sejumlah pihak berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi karya seni, sekaligus menjaga iklim diskusi yang sehat, terbuka, dan saling menghormati di ruang publik.(Djoko W)






