Malangpariwara.com – Transformasi dunia kerja yang semakin terdigitalisasi memunculkan tantangan baru bagi pencari kerja, terutama generasi muda yang harus bersaing tidak hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan menghadapi proses rekrutmen berbasis teknologi.
Di tengah perubahan tersebut, sekelompok mahasiswa dan alumni Universitas Negeri Malang menghadirkan solusi inovatif melalui platform kecerdasan buatan bernama Intervyou.
Berawal dari proyek tugas kuliah, Intervyou kini berkembang menjadi startup teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang fokus membantu pelajar, mahasiswa, hingga para pencari kerja mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.
Platform ini hadir sebagai AI-Powered Career Preparation Coach yang menawarkan layanan persiapan karier secara menyeluruh dan personal.
Di era ketika banyak perusahaan mulai menggunakan sistem rekrutmen digital dan wawancara berbasis AI, Intervyou mencoba menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan sumber daya manusia muda Indonesia.

Pengguna dapat memanfaatkan berbagai fitur seperti pembuatan CV berbasis Applicant Tracking System (ATS), analisis skor CV, penyusunan surat lamaran kerja, hingga simulasi wawancara berbasis AI yang dirancang sesuai posisi pekerjaan yang dilamar.
Salah satu pengembang Intervyou, Azarya Aditya, mahasiswa Program Studi S1 Teknik Informatika UM, menjelaskan bahwa ide tersebut muncul dari kebutuhan nyata yang dialami banyak mahasiswa menjelang lulus kuliah.
“Awalnya ini hanya proyek kuliah. Namun setelah melihat potensi di bidang persiapan karier, kami mulai mengembangkan secara serius hingga masuk tahap produksi dan resmi diluncurkan pada 10 Juni 2025,” ujarnya saat diwawancarai Tim Humas UM.
Menurut Azarya, keunggulan utama Intervyou terletak pada kemampuan sistem AI yang adaptif dan personal. Pengguna cukup memasukkan posisi pekerjaan yang dituju, nama perusahaan, dan deskripsi pekerjaan, lalu sistem akan menghasilkan simulasi wawancara yang relevan dengan kebutuhan pengguna.
Pendekatan ini dinilai penting karena proses wawancara kerja kini semakin kompleks. Tidak sedikit perusahaan menggunakan sistem penilaian otomatis untuk menilai jawaban kandidat, kemampuan komunikasi, hingga kecocokan karakter dengan budaya perusahaan.
“Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan CV dan posisi yang dilamar sehingga pengalaman latihan terasa lebih nyata dan personal,” katanya.
Tidak hanya berorientasi pada pengembangan teknologi, Intervyou juga berhasil menembus pengakuan internasional.
Startup ini tercatat bergabung dalam program pengembangan startup global seperti Google melalui Google for Startups Cloud Program serta NVIDIA melalui NVIDIA Inception Program.
Dukungan tersebut membuka akses terhadap penguatan infrastruktur cloud computing dan komputasi AI yang menjadi tulang punggung pengembangan platform.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi berbasis kampus daerah mampu bersaing di ekosistem teknologi global.
Di tengah dominasi startup besar dari kota-kota metropolitan, Intervyou menjadi contoh bagaimana kreativitas mahasiswa dapat berkembang menjadi solusi nyata yang menjawab persoalan sosial.
Tim pengembang Intervyou sendiri didominasi mahasiswa dan alumni UM yang berkolaborasi dengan talenta lintas kampus.
Kolaborasi tersebut memperkuat pengembangan produk sekaligus memperluas perspektif dalam membaca kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.
Untuk menjaga relevansi layanan, tim Intervyou secara rutin melakukan riset pasar dan analisis kompetitor.
Langkah tersebut dilakukan agar fitur yang dikembangkan tetap sesuai dengan kebutuhan industri modern, terutama di sektor rekrutmen digital yang berkembang sangat cepat.
Dari sisi aksesibilitas, platform ini menerapkan sistem berbasis token. Pengguna baru dapat mencoba layanan secara gratis melalui token awal yang tersedia, sedangkan penggunaan lanjutan dapat dilakukan dengan pembelian token tambahan.
Skema ini dirancang agar layanan tetap inklusif dan dapat diakses berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan pencari kerja pemula.
Selain mengembangkan teknologi, Intervyou juga mulai memperluas dampak sosial melalui kerja sama dengan sekolah vokasi seperti SMK Telkom Malang dan SMK Telkom Purwokerto.
Kolaborasi tersebut bertujuan membantu siswa lebih siap memasuki dunia kerja sejak dini, terutama dalam menghadapi proses seleksi modern yang berbasis digital.
Ke depan, Intervyou menargetkan diri menjadi platform AI yang mampu mentransformasi proses rekrutmen secara menyeluruh, tidak hanya membantu kandidat, tetapi juga mendukung perusahaan dalam melakukan evaluasi calon pekerja secara lebih efektif.
“Kami ingin membantu siapa saja yang sedang mempersiapkan karier. Banyak orang merasa gugup saat wawancara kerja. Dengan latihan yang cukup dan sistem yang interaktif, kami berharap pengguna bisa lebih percaya diri,” tutur Azarya.
Kehadiran Intervyou juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 8 mengenai pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.
Di tengah meningkatnya tantangan pengangguran dan persaingan kerja di era digital, inovasi ini menjadi bukti bahwa pemanfaatan AI tidak selalu menggantikan manusia, tetapi juga dapat menjadi alat pemberdayaan generasi muda untuk lebih siap menghadapi masa depan.(Djoko W)






