Dari Sisa Makanan ke Taman Kampus: UMM Sulap 402 Ton Sampah Jadi Emas Hijau, Daur Ulang 92% Limbah Organik

Malangpariwara.com – Bayangkan sisa nasi, kulit buah, dan sayur dari piring mahasiswa berubah jadi pupuk yang menyuburkan seluruh taman kampus. Itulah yang terjadi di Universitas Muhammadiyah Malang.

UMM resmi membuktikan diri sebagai pelopor kampus hijau dengan mendaur ulang 92% sampah organik sepanjang 2025.

Di sinilah pasukan cacing berpesta, mengurai limbah jadi pupuk organik premium dalam 40–60 hari.(Foto:ist)

Dari total 438 ton limbah makanan, sayur, dan buah, sebanyak 402,9 ton berhasil “diselamatkan” dari TPA dan disulap jadi kompos kaya nutrisi lewat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu di Kampus III.

“Ini ibarat sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Urusan limbah kantin beres, kebutuhan pupuk taman kampus juga terpenuhi dari dalam kampus sendiri,” tegas Sandi Wahyudiono, M.T., Ketua Tim GreenMetric UMM.

*Dapur Ekologis: Cacing Jadi ‘Karyawan’ Terbaik UMM*

Rahasia di balik angka 92% itu bernama vermikompos. Jantung dari ekosistem sirkular UMM ini bekerja dengan ‘mempekerjakan’ ribuan cacing tanah Eisenia fetida.

Siklusnya dimulai dari meja makan: sampah kantin dipilah, dicacah 2–3 cm, lalu difermentasi 7–14 hari bersama sekam padi di reaktor tertutup. Setelah matang, ‘hidangan’ itu masuk ke unit modular. Di sinilah pasukan cacing berpesta, mengurai limbah jadi pupuk organik premium dalam 40–60 hari.

Mesin cacah sisa makanan hasil karya mahasiswa UMM.(Foto:ist)

Proses masif ini ditopang mesin buatan kampus: pencacah 200 kg/jam, saringan 100 kg/jam, hingga granulator. Semua dikelola staf profesional. Hasilnya? Kompos siap pakai untuk taman, kebun edukasi, sampai lahan pertanian mitra.

*Tak Cuma Kompos, UMM Juga ‘Panen’ Eko-Enzim 5 Liter Sehari*

UMM tak berhenti di kompos. Kulit sayur dan buah dari kantin diolah jadi eko-enzim lewat program edukatif harian di UMM Edupark. Produksinya tembus 5 liter per hari – cairan serbaguna untuk pembersih alami hingga pupuk cair.

“UMM tidak hanya memangkas drastis sampah ke TPA, tapi memberi bukti nyata bahwa kampus besar bisa hidup harmonis dengan alam,” tambah Sandi.

Capaian ini menempatkan Kampus Putih di garda depan aksi iklim. Lebih dari sekadar merawat lingkungan sendiri, UMM sedang menulis blueprint bagi kampus lain di Indonesia: bahwa kemandirian dan inovasi bisa mengubah limbah jadi berkah.(Djoko W)