Malangpariwara.com – Di balik semangkuk bakso hangat dan sajian daging di meja makan, ada kegelisahan yang kini dirasakan banyak pelaku usaha.
Sapi hidup kian sulit ditemukan, dan harga daging terus melambung tanpa kepastian.
Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Kelangkaan pasokan sapi di pasar membuat rantai usaha terguncang.
Jagal mulai kesulitan mendapatkan bahan baku, pedagang kebingungan menentukan harga, sementara pelaku usaha kuliner harus memutar otak agar tetap bertahan.
Anggota Komisi B DPRD Kota Malang, Fathol Arifin, melihat kondisi ini sebagai sinyal serius yang tidak boleh diabaikan.
“Kalau kondisi ini dibiarkan, maka bukan hanya pelaku usaha yang terdampak, tapi stabilitas ekonomi daerah juga bisa terganggu,” ujar politisi FPKB fapil Sukun Malang
Menurutnya, persoalan ini telah melampaui mekanisme pasar biasa. Dibutuhkan kehadiran negara untuk memastikan pasokan tetap terjaga dan harga tidak semakin tak terkendali.
Di kota seperti Malang, di mana sektor kuliner menjadi salah satu penggerak utama ekonomi, kelangkaan daging sapi bisa menjadi ancaman nyata.
Dari warung bakso sederhana hingga restoran modern, semuanya bergantung pada stabilitas bahan baku.
“Ini bukan lagi sekadar persoalan pasar, tapi sudah menjadi tanggung jawab pemerintah,” tegas Fathol.
Ia pun mendorong langkah cepat dan terkoordinasi agar krisis ini tidak berlarut-larut. Sebab, di balik angka-angka ekonomi, ada banyak pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidupnya pada keberlangsungan usaha kuliner.
“Kita tidak boleh membiarkan mereka berjalan sendiri. Negara harus hadir dari hulu sampai hilir,” tandas Fathol Mengakhiri. (Djoko W)






