BALIKPAPAN
Malangpariwara.com – Ancaman krisis air bersih dan dampak perubahan iklim mendorong para pegiat lingkungan di Kota Balikpapan memperkuat kolaborasi berbasis masyarakat.
Melalui forum diskusi yang berlangsung hangat hingga larut malam, komunitas Program Kampung Iklim (Proklim) bersama tokoh lingkungan merumuskan berbagai langkah konkret untuk memperkuat ketahanan iklim, mulai dari gerakan pemanenan air hujan hingga pengembangan pertanian perkotaan (urban farming).

Meski dikemas secara sederhana melalui tradisi cangkrukan dan ngopi bersama, forum itu menjadi ruang bertukar gagasan yang produktif.
Berbagai persoalan lingkungan, terutama semakin terbatasnya ketersediaan air bersih di Balikpapan, dibahas secara mendalam hingga menghasilkan sejumlah rekomendasi aksi.

Pembina lingkungan nasional Bambang Irianto menegaskan bahwa persoalan krisis air tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penentu dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.
“Persoalan air bersih ini tidak bisa diselesaikan setengah-setengah. Komunitas Proklim harus menjadi garda terdepan dalam merawat sumber-sumber air, memanen air hujan, hingga menjaga kawasan resapan lingkungan sekitar. Jika masyarakat bergerak bersama, dampak krisis air dapat kita tekan secara signifikan,” ujarnya.
Bambang menilai Program Kampung Iklim memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak perubahan perilaku masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Upaya adaptasi harus dimulai dari lingkungan terkecil melalui gerakan yang sederhana, namun dilakukan secara konsisten.
Sementara itu, Suwanto mengatakan forum tersebut menjadi langkah awal pembentukan Forum Komunikasi Proklim Kota Balikpapan yang diharapkan mampu menyatukan berbagai komunitas lingkungan dalam satu gerakan bersama.
“Pertemuan ini merupakan wadah awal forum diskusi Proklim Kota Balikpapan. Dari sekadar ngopi dan berkumpul santai seperti ini justru lahir banyak ide dan gagasan konkret tentang bagaimana kita menjaga lingkungan bersama,” katanya.
Menurut Suwanto, salah satu prioritas yang mengemuka dalam diskusi adalah penerapan Gerakan Pemanenan Air Hujan (Rain Water Harvesting) sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan air bersih sekaligus mendukung pengembangan urban farming di kawasan permukiman.
Ia menilai keberhasilan pertanian perkotaan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan, tetapi juga kemampuan masyarakat mengelola sumber daya air secara mandiri.
Karena itu, pemanfaatan air hujan dinilai menjadi salah satu strategi adaptasi perubahan iklim yang efektif sekaligus mudah diterapkan.
Selain membahas aspek teknis, para peserta juga menyepakati pentingnya membangun sinergi antara komunitas, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan agar program-program lingkungan berjalan secara berkelanjutan.
Diskusi yang berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WITA itu menghasilkan komitmen untuk menyusun rencana aksi terpadu sebagai tindak lanjut pembentukan Forum Proklim Kota Balikpapan.
Forum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga mampu melahirkan gerakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan, meningkatkan ketahanan air, serta memperkuat ketahanan iklim di Kota Balikpapan.
Menutup pertemuan, Suwanto mengapresiasi semangat para pegiat lingkungan yang tetap antusias berdiskusi hingga malam hari demi mencari solusi bagi persoalan lingkungan di Balikpapan.
“Terima kasih kepada seluruh kawan-kawan Proklim yang telah bergabung. Semoga pada pertemuan berikutnya kita mampu menghadirkan solusi nyata untuk persoalan air di Kota Balikpapan,” ujarnya.
Pertemuan kemudian ditutup dengan seruan yang menggambarkan semangat kolektif para pejuang lingkungan, “Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Balikpapan Madani, Lestari.”(Djoko W)






