MALANGPARIWARA.COM – Perguruan tinggi tak lagi cukup hanya mencetak lulusan. Di tengah percepatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), kampus dituntut mampu melahirkan inovasi, menciptakan peluang kerja baru, sekaligus memastikan ilmu yang dihasilkan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Tantangan itu mulai dijawab Politeknik Negeri Malang (Polinema) dengan mempercepat transformasi menuju kampus digital dan membangun ekosistem perguruan tinggi yang berdampak.

Direktur Polinema, Ir. Supriatna Adhisuwignjo, S.T., M.T., menegaskan transformasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Perubahan teknologi berjalan beriringan dengan perubahan generasi dan pola kebutuhan dunia kerja.
“Seiring perubahan zaman, perubahan era, dan juga perubahan generasi, kita memang dituntut untuk melakukan transformasi. Salah satunya adalah transformasi terkait menjadi kampus digital,” ujar Supriatna usai Rapat Terbuka Senat dan Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-44 Polinema di Graha Polinema, Rabu (9/9/2026).
Transformasi itu tidak sekadar slogan. Polinema tengah menyempurnakan Blueprint Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 2026–2029 sebagai peta jalan pengembangan ekosistem digital kampus.
Implementasinya mulai masuk ke layanan administrasi. E-office Polinema dijadwalkan diluncurkan Kamis (10/9/2026).
Pada saat yang sama, Polinema menyiapkan website baru, memperkuat sistem pembelajaran digital dan membuka ruang penerapan pembelajaran jarak jauh pada sejumlah program studi.
Materi pembelajaran juga diarahkan semakin terkoneksi dengan teknologi melalui e-book, e-journal, Learning Management System (LMS) dan berbagai sistem digital lainnya.
“Kami juga menyiapkan prodi yang bisa menerapkan pembelajaran jarak jauh,” kata Supriatna.
Digitalisasi juga merambah perpustakaan melalui penguatan e-library. Namun, bagi Polinema, kampus digital bukan tujuan akhir.
Ada target yang lebih besar: memastikan teknologi dan kompetensi mahasiswa menghasilkan d mahasiswaampak nyata.
264 Karya Tak Berhenti di Kampus
Polinema mulai mengubah cara memandang karya.
Tugas akhir, proyek pembelajaran dan inovasi mahasiswa didorong agar tidak berhenti sebagai dokumen akademik atau tersimpan di lingkungan kampus.
Buktinya, sebanyak 264 karya mahasiswa telah dihibahkan kepada masyarakat.
Karya tersebut berupa inovasi terapan dan teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan kelompok masyarakat produktif, kelompok sosial, UMKM hingga sektor industri.
“Karya mahasiswa yang sifatnya applied atau terapan dan teknologinya teknologi tepat guna, yang bisa langsung dimanfaatkan, kami hibahkan kepada warga masyarakat yang membutuhkan,” tegas Supriatna.
Langkah ini menjadi bagian dari konsep kampus berdampak yang sedang dibangun Polinema.
Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu membuat produk, tetapi juga harus mampu membaca persoalan nyata dan menerjemahkan kompetensi yang mereka miliki menjadi solusi.
Karya yang memiliki potensi ekonomi bahkan diarahkan menuju komersialisasi riset.
Namun, Supriatna mengakui jalan menuju hilirisasi tidak pendek. Diperlukan ekosistem yang kuat, pendampingan, peningkatan kualitas dan kolaborasi dengan berbagai pihak agar karya mahasiswa tidak berhenti sebagai prototipe
“Kami sedang membangun ekosistem di kampus agar menjadi kampus yang berdampak dan mahasiswa menjadi bagian dari kampus berdampak itu sendiri,” ujarnya.
AI Mengubah Peta Dunia Kerja
Transformasi Polinema mendapat sorotan dari Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A.
Menurutnya, perkembangan digital dan AI telah mengubah kebutuhan dunia kerja. Karena itu, perguruan tinggi harus mulai membaca pekerjaan apa yang akan tumbuh, bukan hanya mempertahankan program pendidikan berdasarkan kebutuhan masa lalu.
“Lulusan dari Polinema diharapkan semakin banyak yang terserap dan menjadi inovator untuk menciptakan pekerjaan baru, startup baru, dan berbagai hal baru di masyarakat,” ujarnya.
Ia melihat aktivitas mahasiswa seperti pengembangan gim, 3D printing, desain dan pembuatan website sebagai ruang yang dapat dikembangkan menjadi inovasi bernilai ekonomi.
Tetapi kemampuan teknis saja tidak cukup. Produk mahasiswa harus terus diasah hingga memenuhi standar yang dibutuhkan industri.
“Kalau sekarang mungkin belum bisa diambil oleh industri, artinya kita perlu terus meningkatkan. Apa yang sudah dilakukan perlu ditingkatkan kualitasnya dan kemudian dikolaborasikan dengan industri,” katanya.
Pesan tersebut menjadi tantangan sekaligus arah baru bagi Polinema
Di tengah era AI yang berpotensi⁵ menghasilkan lulusan yang mampu menguasai teknologi, menciptakan inovasi dan bahkan membuka lapangan pekerjaan baru.

Dies Natalis ke-44 akhirnya bukan sekadar perayaan perjalanan Polinema. Momentum ini menjadi penegasan bahwa transformasi kampus harus menghasilkan sesuatu yang terukur: layanan yang semakin cepat, pembelajaran yang semakin adaptif, inovasi yang semakin dekat dengan industri, dan karya mahasiswa yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.(Djoko W)






