MALANGPARIWARA.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Universitas Brawijaya (UB). Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) angkatan 2021, Imke Maria Del Rosario Puling, berhasil diterima di Harvard University, Amerika Serikat, untuk menempuh program Master of Medical Science in Clinical Investigation jalur Translational Track.
Tak hanya itu, Imke juga berhasil meraih beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan dijadwalkan mulai menjalani perkuliahan pada Juli 2027.
Program magister yang akan ditempuh Imke berfokus pada penelitian kedokteran, khususnya translational research, yakni bidang yang menjembatani hasil riset laboratorium dengan penerapan dalam praktik klinis.
Melalui pendidikan tersebut, ia menargetkan menjadi seorang physician-scientist, sosok dokter yang mampu menjalankan peran sebagai klinisi sekaligus peneliti.
“Goal akhirnya dari S2 ini adalah menjadi physician-scientist. Jadi saya tetap menjadi dokter sekaligus peneliti, sehingga bisa melihat berbagai permasalahan dari dua perspektif dan memberikan solusi yang lebih komprehensif,” ujar Imke.
Ketertarikannya terhadap dunia riset telah tumbuh sejak awal menjadi mahasiswa di FK UB. Berawal dari keinginan mencoba berbagai aktivitas akademik, Imke kemudian aktif mengikuti kompetisi ilmiah, menyusun systematic review dan meta-analysis, melakukan penelitian laboratorium, penelitian kohort, hingga berkolaborasi dalam berbagai proyek riset bersama dosen.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa penelitian merupakan bidang yang ingin ditekuni secara serius.
“Awalnya hanya ingin mencoba. Namun semakin terlibat dalam penelitian, saya menyadari bahwa saya ingin berkontribusi bagi dunia medis tidak hanya melalui pelayanan klinis, tetapi juga lewat riset,” ungkapnya.
Selama kuliah, Imke juga konsisten membangun portofolio akademik melalui publikasi ilmiah, organisasi kemahasiswaan, pelatihan, serta berbagai kolaborasi penelitian.
Kesempatan mengikuti program pertukaran penelitian di Kagoshima University, Jepang, menjadi salah satu pengalaman yang membuka wawasannya untuk melanjutkan studi di luar negeri.
Menurutnya, setiap kesempatan yang tersedia selama menjadi mahasiswa dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai bekal menuju kampus impiannya.
“Saya benar-benar mengambil semua kesempatan yang ada, mulai dari lomba, publikasi, penelitian bersama dosen, online courses, pelatihan hingga research exchange. Semua pengalaman itu sangat membantu saya hingga akhirnya diterima di Harvard,” katanya.
Imke juga menilai, calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri harus memiliki fokus keilmuan yang jelas sekaligus visi tentang kontribusi yang akan diberikan kepada Indonesia.
Ia memilih mendalami penelitian penyakit jantung bawaan dan kardiovaskular karena melihat masih besarnya kebutuhan pengembangan riset di bidang tersebut.
“Ketika seseorang diberi kesempatan belajar melalui beasiswa, tentu yang ingin dilihat adalah kontribusi apa yang nantinya bisa diberikan kembali untuk Indonesia,” jelasnya.
Perjalanan menuju Harvard University bukanlah proses yang singkat. Imke mengungkapkan dirinya mempersiapkan seluruh proses selama hampir satu tahun, mulai menentukan universitas tujuan, mengikuti tes kemampuan bahasa Inggris, menyusun proposal penelitian, meminta surat rekomendasi, hingga menjalani wawancara.
Ia juga mengakui lingkungan akademik Universitas Brawijaya memiliki peran besar dalam pencapaiannya. Dukungan dosen serta banyaknya kesempatan untuk terlibat dalam penelitian menjadi modal penting dalam membangun rekam jejak akademik.
“Saya merasa jika bukan kuliah di UB, mungkin saya tidak akan mendapatkan banyak exposure seperti ini. Para dosen sangat terbuka mendampingi mahasiswa yang ingin belajar, meneliti, maupun mempublikasikan hasil riset,” ujarnya.
Imke menyampaikan apresiasi kepada sejumlah dosen yang telah membimbingnya, di antaranya Prof. Dr. dr. Loeki Enggar Fitri, M.Kes., Sp.ParK., dr. Valerinna Yogibuana Swastika Putri, Sp.JP(K), FIHA, FAPSC, serta dr. Bayu Lestari, M.Biomed., PhD yang memberikan pendampingan dalam perjalanan akademik hingga proses pendaftaran studi lanjut.
Usai menyelesaikan pendidikan di Harvard University, Imke berkomitmen kembali ke Indonesia untuk mengembangkan riset dan pendidikan kedokteran.
Ia bercita-cita bergabung dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjadi dosen, membangun kelompok riset penyakit jantung bawaan, serta mengabdikan diri sebagai dokter di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menutup pesannya, Imke mengajak mahasiswa Universitas Brawijaya agar berani memanfaatkan setiap peluang yang tersedia dan tidak takut bermimpi besar.
“Tidak usah takut mencoba hal baru. Meski terasa mustahil, semuanya bisa dicapai jika mau berjuang dan mencari kesempatan yang tepat. Saya juga dulu tidak yakin bisa diterima di Harvard, tetapi akhirnya Tuhan memberikan kesempatan itu,” pungkasnya.(Djoko W)







