MALANGPARIWARA.COM – Ikatan Alumni (IKA) Kimia Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (STeM) Universitas Brawijaya terus memperkuat sinergi dengan kampus untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap bersaing di dunia industri.
Melalui berbagai program pembinaan, pelatihan, hingga forum berbagi pengalaman, alumni hadir sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Ketua Alumni Fakultas STeM Universitas Brawijaya, Yudiono, S.Si., menegaskan bahwa prospek karier lulusan Kimia UB sangat luas.
Menurutnya, keahlian di bidang kimia menjadi kebutuhan hampir di seluruh sektor industri, mulai dari industri pangan, pertanian, peternakan, manufaktur, hingga industri berbasis material.
“Lulusan Kimia tidak hanya berkarier di industri kimia. Hampir semua sektor membutuhkan kompetensi mereka karena proses produksi modern tidak bisa dilepaskan dari ilmu kimia,” ujar Yudiono.
Ia menjelaskan, berbagai industri seperti pengolahan makanan, pembuatan cat, ban, furnitur, hingga industri manufaktur lainnya memerlukan tenaga profesional yang memahami karakteristik bahan, proses produksi, dan pengendalian mutu.
Kondisi tersebut menjadikan peluang kerja lulusan Kimia UB tetap terbuka lebar di tengah perkembangan industri yang semakin pesat.
Menurut Yudiono, salah satu tantangan yang masih dihadapi mahasiswa adalah minimnya pemahaman mengenai dunia kerja. Karena itu, IKA Kimia UB berkomitmen menghadirkan informasi yang lebih dekat dengan realitas industri agar mahasiswa mampu mempersiapkan diri sejak masih berada di bangku kuliah.
“Alumni memiliki pengalaman langsung di dunia kerja. Pengalaman itu kami bagikan agar mahasiswa memahami profesi yang bisa mereka tekuni, kompetensi yang dibutuhkan perusahaan, hingga tantangan yang akan dihadapi setelah lulus,” katanya.
Melalui program Ngobrol Bersama Alumni, mahasiswa memperoleh kesempatan berdialog langsung dengan alumni yang telah berkarier di berbagai perusahaan nasional maupun multinasional.
Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperluas wawasan mahasiswa mengenai dinamika dunia profesional.
Selain penguasaan ilmu pengetahuan, Yudiono menilai kemampuan nonteknis atau soft skills kini menjadi faktor penentu dalam persaingan kerja.
Kepemimpinan, komunikasi, kemampuan bekerja sama, hingga manajemen dinilai menjadi kompetensi yang banyak dicari oleh perusahaan.
“Penguasaan ilmu menjadi modal utama, tetapi kemampuan memimpin, berkomunikasi, dan bekerja dalam tim sering kali menjadi pembeda ketika seseorang memasuki dunia industri,” ungkapnya.
Tak berhenti pada diskusi, IKA Kimia UB juga memberikan pelatihan kompetensi secara gratis bagi mahasiswa. Salah satu program unggulannya adalah pelatihan Sistem Manajemen Mutu yang menghadirkan alumni berpengalaman sebagai auditor, trainer, dan praktisi industri.
Ke depan, program tersebut akan diperluas dengan materi lain yang relevan dengan kebutuhan industri, seperti sistem manajemen lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga sistem jaminan produk halal.
Melalui kolaborasi berkelanjutan antara alumni dan kampus, Yudiono berharap lulusan Kimia UB mampu menjadi sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan teknologi, memiliki kompetensi profesional, serta siap memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan berbagai sektor industri.
“Sinergi alumni dan kampus harus terus diperkuat agar lulusan Kimia UB memiliki daya saing tinggi dan mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang,” pungkasnya.( Djoko W)






