MALANGPARIWARA.COM — Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) tidak ingin sekadar mencetak sarjana hukum.
Fakultas ini membidik lahirnya jurist yang memiliki kompetensi kuat, berintegritas, adaptif, sekaligus mampu menembus persaingan profesi hukum di level global.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) FH UMM Tahun Akademik 2026/2027 yang berlangsung di Teater Dome UMM, Selasa (8/9/2026).
Ratusan mahasiswa baru mengikuti rangkaian awal perjalanan akademiknya dengan mengusung tema “Mewujudkan Lingkungan Intelektual FH UMM yang Green and Clean melalui Semangat Kolaboratif demi Terwujudnya Jurist Progresif.”
Dekan FH UMM, Prof. Dr. Tongat, S.H., M.Hum., membuka langsung rangkaian orientasi tersebut. Di hadapan mahasiswa baru, Tongat mengingatkan bahwa memilih pendidikan tinggi hukum tidak semestinya berhenti pada pertanyaan apakah sebuah perguruan tinggi berstatus negeri atau swasta.
Menurutnya, akreditasi dan rekam jejak mutu justru menjadi indikator penting yang harus diperhatikan calon mahasiswa.
“Bersyukur sekali Saudara masuk sebuah institusi yang pengakuannya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat internasional. Fakultas Hukum UMM sudah terakreditasi Unggul di tingkat nasional dan sudah terakreditasi di tingkat internasional,” ujar Tongat.
Ia menilai capaian tersebut menjadi modal penting FH UMM untuk menghadapi kompetisi pendidikan tinggi hukum, khususnya di Malang Raya.
Dari lebih dari 40 perguruan tinggi di kawasan Malang Raya, hanya sekitar 12 hingga 13 institusi yang memiliki fakultas hukum. Persaingan tersebut membuat kualitas dan konsistensi mutu menjadi faktor yang tidak bisa ditawar.
Fondasi 62 Tahun

Tongat menegaskan, reputasi FH UMM bukan hasil yang dibangun secara instan. Fakultas Hukum merupakan salah satu fakultas tertua di lingkungan UMM dan telah hadir sejak awal perjalanan universitas pada 1964.
Kini memasuki usia 62 tahun, FH UMM memiliki fondasi kelembagaan yang panjang. Namun, usia bukan alasan untuk berhenti berbenah. Perubahan dunia hukum, perkembangan teknologi, serta kebutuhan industri dan profesi menuntut lulusan hukum memiliki kemampuan yang terus berkembang.
Jejak menjaga mutu tersebut bahkan telah terlihat jauh sebelum sistem akreditasi nasional berjalan seperti sekarang.
Pada 1983, FH UMM telah memperoleh status “disamakan” dengan fakultas hukum pada perguruan tinggi negeri. Ketika sistem akreditasi mulai diterapkan, FH UMM mengikuti proses akreditasi pada 1985 dan berhasil meraih Akreditasi A.
Predikat tersebut dipertahankan melalui berbagai evaluasi hingga kemudian dikonversi menjadi Akreditasi Unggul.
“Bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi, acuan utamanya bukan sekadar melihat apakah perguruan tinggi tersebut negeri atau swasta, tetapi perhatikanlah status akreditasinya,” tegasnya.
Bagi FH UMM, rekam jejak tersebut bukan sekadar deretan predikat. Akreditasi menjadi pijakan untuk memastikan proses pendidikan tetap berkualitas sekaligus relevan dengan kebutuhan dunia hukum yang terus berubah.
Green and Clean Jadi Titik Awal
Pembukaan Pesmaba menjadi pintu masuk bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih jauh lingkungan akademik, budaya kampus, sekaligus karakter pendidikan hukum yang akan mereka jalani.
Tema Green and Clean juga tidak ditempatkan sekadar sebagai slogan kegiatan. Nilai tersebut diarahkan untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menumbuhkan karakter, kolaborasi, dan kepemimpinan mahasiswa.
Di sisi lain, pihak rektorat dan fakultas memastikan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) bagi mahasiswa baru segera didistribusikan pada September ini.
Dengan pembacaan lafaz basmalah, rangkaian Pesmaba FH UMM Tahun Akademik 2026/2027 resmi dimulai.
Dari momentum inilah ratusan mahasiswa baru memulai perjalanan panjangnya sebagai calon sarjana hukum.
Tantangannya bukan hanya lulus dengan gelar akademik, tetapi mampu tumbuh menjadi jurist progresif yang kompeten, berintegritas, dan siap bersaing di tengah dunia profesi hukum yang semakin terbuka secara global.(Djoko W)







