MALANGPARIWARA.COM – Ancaman kebakaran hutan di tengah musim kemarau membuat pengelola UB Forest memperkuat sistem deteksi dini.
Tak hanya mengandalkan patroli lapangan, pengelola kini memanfaatkan drone termal Matrice 30T untuk memburu titik panas dari udara sebelum api berkembang dan merembet ke kawasan hutan.
Teknologi tersebut menjadi mata tambahan bagi petugas untuk memantau wilayah UB Forest dan kawasan di sekitarnya.
Ketika sensor menemukan indikasi suhu tidak normal, koordinat lokasi dapat segera diketahui sehingga petugas lapangan bisa langsung melakukan pengecekan dan mengambil tindakan.
Koordinator Bidang Perlindungan dan Pengawasan Kawasan Hutan UB Forest, Dr. Muhammad Yusuf, S.Si., M.Si., mengatakan pengawasan harus diperketat karena kondisi kemarau yang lebih kering meningkatkan potensi kebakaran.
“Kalau ada titik panas, langsung kami datangi untuk cek. Kalau ada titik api, itu kami segera matikan,” kata Yusuf.

Efektivitas pemantauan tersebut terlihat pada patroli 25–27 Agustus 2026. Pengelola UB Forest mendeteksi titik api di wilayah perbatasan barat kawasan.
Lokasi tersebut berada di luar kawasan UB Forest, namun posisinya yang berdekatan dengan hutan membuatnya tetap menjadi ancaman serius.
Pasalnya, api di wilayah perbatasan berpotensi merembet ke kawasan UB Forest apabila terlambat ditangani.
Begitu titik panas terdeteksi, staf lapangan langsung bergerak menuju lokasi. Hasil pengecekan memastikan adanya titik api yang kemudian segera dipadamkan.
“Setelah titik tersebut terdeteksi, staf lapang kami langsung menuju ke daerah tersebut. Ada titik api, langsung kami padamkan,” ujar Yusuf.
Api berhasil dikendalikan sebelum meluas. Pengelola kemudian kembali melakukan pemantauan menggunakan drone untuk memastikan tidak muncul titik panas maupun api susulan.
“Alhamdulillah masih aman. Tidak ditemukan titik api. Teman-teman juga melakukan pengecekan lagi dengan menggunakan drone, tidak ada penemuan titik api,” katanya.
Jangkauan Lebih Luas, Respons Lebih Cepat
Koordinator KJF Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan UB Forest, Rifqi Rahmat Hidayatullah, S.Hut., M.Si., menjelaskan pemanfaatan drone termal menjadi bagian dari strategi memperluas jangkauan patroli.
Patroli konvensional dengan berjalan kaki maupun kendaraan tetap dilakukan. Namun, keterbatasan medan dan luas kawasan membuat pemantauan dari udara dibutuhkan untuk memperoleh gambaran kondisi kawasan secara lebih cepat.
“Drone termal itu kami gunakan untuk patroli deteksi dini kebakaran. Kalau misalkan kita secara konvensional, patroli jalan kaki atau menggunakan motor itu kan jangkauannya terbatas. Kami juga menggunakan drone untuk menjangkau lebih luas dan lebih efektif dan efisien,” ujar Rifqi.
Dalam pemantauan tersebut, drone termal mendeteksi titik panas pada koordinat 7.824301° LS dan 112.572614° BT, dengan ketinggian lokasi sekitar 1.247 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Koordinat yang diperoleh menjadi petunjuk penting bagi petugas untuk menentukan lokasi yang harus segera diperiksa secara langsung.
Menurut Rifqi, Matrice 30T dilengkapi sensor termal yang mampu membaca suhu permukaan. Area dengan suhu lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya dapat ditandai sebagai indikasi awal yang kemudian diperiksa lebih lanjut.
Kemampuan kamera dengan perbesaran juga membantu petugas melihat kondisi lokasi dari jarak tertentu dan membedakan apakah sumber panas tersebut merupakan api atau sumber panas lainnya.
Selain mendeteksi suhu, sistem drone juga memberikan informasi koordinat lokasi.
Yulianto Muji Nugroho, S.Si., Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) UB Forest, mengatakan informasi tersebut mempercepat petugas menentukan titik yang harus didatangi.
“Drone termal yang kami gunakan bisa mengetahui langsung koordinatnya di mana kalau terjadi kebakaran,” ujar Yulianto.
Kemampuan pemantauan dari udara membuat petugas tidak harus langsung menyisir seluruh kawasan secara manual.
Dalam satu penerbangan, Matrice 30T dapat digunakan untuk memantau area sekitar 10 hektare, dengan jarak pemantauan maksimal sekitar 500 meter dan area pemantauan yang disebut mencapai kisaran 60–80 hektare.
Bukan Pengganti Petugas Lapangan
Meski menawarkan kecepatan dan jangkauan lebih luas, drone termal bukan berarti menggantikan patroli lapangan. Perangkat tersebut tetap berfungsi sebagai alat pendukung deteksi dini.
Salah satu keterbatasannya adalah durasi penerbangan yang bergantung pada kapasitas baterai. Sekali penerbangan, drone dapat digunakan sekitar 30 menit. Sementara patroli dijadwalkan dilakukan dua kali dalam sepekan.
“Drone termal ini memang membantu dalam proses deteksi, tetapi durasi penerbangannya terbatas. Sekali terbang paling sekitar 30 menit, sehingga kalau ingin melakukan patroli dalam waktu yang lebih lama tentu membutuhkan baterai lebih banyak,” jelas Yulianto.
Keterbatasan lainnya cukup mendasar: drone hanya mendeteksi, bukan memadamkan.
Artinya, ketika titik api ditemukan, respons tetap berada di tangan petugas di lapangan.
“Drone termal ini hanya membantu mendeteksi titik api dan tidak bisa langsung memadamkan api. Jadi, ketika ditemukan titik api, petugas tetap harus datang ke lokasi untuk melakukan pemadaman,” tegasnya.
Karena itu, sistem mitigasi UB Forest dibangun dengan pola berlapis. Drone digunakan untuk mempercepat deteksi, sedangkan patroli dan petugas lapangan menjadi ujung tombak verifikasi sekaligus penanganan.
Edukasi Warga Jadi Benteng Pertama
Pengelola UB Forest menyadari teknologi tidak cukup untuk menekan risiko kebakaran. Pencegahan juga harus dilakukan dari sumbernya, terutama melalui peningkatan kesadaran masyarakat dan petani yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan.
Aktivitas pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai, terutama ketika vegetasi dalam kondisi kering.
Rifqi mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan api maupun bara sebelum benar-benar dipastikan padam.
“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai aktivitas yang berpotensi menimbulkan api. Kami juga mengimbau agar pembakaran tidak dilakukan secara sembarangan dan api tidak ditinggalkan sebelum benar-benar padam,” ujarnya.
Bara yang masih tersisa, lanjut Rifqi, dapat kembali memicu api dan menyebar ke vegetasi kering di sekitarnya.
Pengelola juga melibatkan petani penggarap dalam menjaga kawasan melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS). Keterlibatan mereka dinilai penting karena aktivitas petani berlangsung dekat dengan kawasan hutan sekaligus dapat menjadi bagian dari sistem kewaspadaan dini.
“Kalau ada insiden semacam titik api atau semacam kebakaran, harapannya juga bisa saling membantu,” kata Yusuf.
Rifqi menegaskan mitigasi kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan teknologi. Drone dapat mendeteksi titik panas lebih cepat, tetapi pencegahan tetap membutuhkan kepedulian manusia.
“Harapannya masyarakat, terutama petani yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan, semakin berhati-hati. Kalau melakukan pembakaran untuk pembersihan lahan, jangan sampai ditinggalkan dan harus dipastikan apinya benar-benar padam,” ujarnya.
Dengan menggabungkan drone termal, patroli lapangan, respons cepat, serta keterlibatan masyarakat, UB Forest berupaya membangun sistem pertahanan berlapis menghadapi ancaman kebakaran.
Deteksi dari udara menjadi langkah awal. Namun, kecepatan petugas bergerak dan kesadaran masyarakat tetap menjadi penentu agar titik panas tidak berubah menjadi kebakaran yang mengancam kawasan hutan lebih luas.(Djoko W)1






