BOJONEGORO, MALANGPARIWARA.COM – Kehadiran Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, di tengah peringatan Harlah ke-20 Pondok Pesantren Modern Al-Fatimah, Bojonegoro, Minggu (13/9/2026), langsung menyedot perhatian para santri.
Sejumlah santri bergegas menghampiri senator yang akrab disapa Ning Lia tersebut. Mereka bersalaman, menyapa hingga meminta foto bersama. Dengan ramah, Ning Lia melayani satu per satu sambil sesekali terlibat dalam obrolan ringan.
Suasana spontan itu mencairkan rangkaian perayaan dua dekade perjalanan Al-Fatimah. Bagi Ning Lia, antusiasme para santri bukan sekadar sambutan, tetapi juga mencerminkan suasana pendidikan pesantren yang mampu membangun kedekatan emosional dengan para santrinya.
“Santrinya bahagia sekali. Ini menunjukkan bahwa pesantren adalah wajah pendidikan kita. Ada proses edukasi yang bukan hanya memberikan ilmu, tetapi juga menyentuh hati para santri,” ujar Ning Lia.
Ia juga mengapresiasi perkembangan Pondok Pesantren Modern Al-Fatimah yang dinilainya tidak hanya terlihat dari pembangunan fasilitas, tetapi juga dari kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai pendidikan dan pembentukan karakter.
Menurut Ning Lia, tantangan pesantren saat ini adalah mampu memahami dinamika kehidupan generasi muda.
Lingkungan pendidikan, kata dia, perlu membuat santri nyaman belajar sekaligus mendorong mereka berani memiliki mimpi dan cita-cita besar.
“Pesantren ini memahami kebutuhan zaman. Mereka membaca apa yang dibutuhkan masyarakat dan apa yang diperlukan agar santri terus memiliki cita-cita. Ini yang menurut saya luar biasa,” katanya.
Memasuki usia 20 tahun, Ning Lia berharap Al-Fatimah terus berkembang bukan hanya secara kelembagaan, tetapi juga semakin luas dalam memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita mendoakan Pondok Pesantren Al-Fatimah senantiasa berkah, sukses dan jaya, serta terus memberikan pengabdian yang luar biasa untuk bangsa. Semoga reputasinya terus terjaga dan menjadi salah satu pesantren percontohan di Indonesia,” tuturnya.
Rangkaian Harlah ke-20 juga ditandai dengan peluncuran kolaborasi KBIHU Al-Fatimah bersama PT Insan Madani Wisata (Imawa Tour & Travel). Ning Lia turut melakukan prosesi pemotongan balon sebagai simbol dimulainya kolaborasi tersebut.
Kerja sama itu diarahkan untuk memperkuat pelayanan, bimbingan dan pendampingan kepada masyarakat dalam menjalankan ibadah haji dan umrah.
Pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Modern Al-Fatimah, Dr. KH. Tamam Syaifuddin, M.Si., mengatakan usia 20 tahun menjadi momentum penting bagi pesantren untuk memperkuat kiprah pendidikan sekaligus pengabdiannya kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, lembaga pendidikan Pondok Pesantren Modern Al-Fatimah sudah lengkap, mulai kelompok bermain, RA, MI, MTs, MA, SMP dan SMA, hingga perguruan tinggi Institut Agama Islam Al-Fatimah,” ujar KH Tamam.
Menurutnya, pengembangan Al-Fatimah tidak berhenti pada pendidikan formal. Pesantren juga terus memperluas ruang pengabdian kepada masyarakat, salah satunya melalui pelayanan haji dan umrah yang dikembangkan bersama KBIHU Al-Fatimah dan PT Imawa.
“Kita akan melayani umat agar perjalanan ibadah haji dan umrahnya lancar dan barokah,” katanya.
KH Tamam berharap Harlah ke-20 menjadi energi baru bagi Al-Fatimah untuk membangun kemandirian sekaligus meningkatkan prestasi santri dan pesantren.
“Ini momentum untuk bangkit, membangun kemandirian dan prestasi pondok pesantren. Pondok pesantren harus mandiri dan menjadi pilar Jawa Timur, Gerbang Baru Nusantara bersama pondok pesantren,” tegasnya.
Peringatan Harlah ke-20 tersebut turut dihadiri Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Sri Wahyuni, S.Kep., Ns., Anggota DPR RI Fraksi Golkar Eko Wahyudi, pengusaha asal Pamekasan H. Khairul Umam atau yang akrab disapa Haji Her, keluarga besar pesantren, alumni, wali santri serta tamu undangan.
Di tengah kemeriahan perayaan dua dekade Al-Fatimah, antusiasme para santri menyambut Ning Lia menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian. Mereka tidak hanya datang untuk bersalaman, tetapi juga mengabadikan perjumpaan melalui foto bersama.
Momen sederhana itu sekaligus memperlihatkan ruang interaksi yang cair antara tokoh publik dan generasi muda pesantren di tengah perayaan perjalanan panjang Al-Fatimah.(Djoko W)






