MALANGPARIWARA.COM – Riset perguruan tinggi dituntut tidak berhenti di laboratorium maupun publikasi ilmiah.
Teknologi berbasis mikroorganisme dan bioproses perlu didorong hingga menghasilkan produk dan solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, industri, sekaligus menjawab tantangan lingkungan.
Pesan itu mengemuka dalam NGOPI SAM (Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media) yang digelar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB) kini berganti FSTeM, Jumat (11/9/2026).
Forum yang digagas Ikatan Alumni FMIPA UB tersebut menghadirkan Guru Besar Departemen Biologi FMIPA UB Prof. Amin Setyo Leksono dan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Rekayasa Genetika Farida Rahayu.
Forum tersebut menjadi ruang temu akademisi, peneliti, alumni dan media untuk membedah perkembangan riset sekaligus memperluas diseminasi inovasi agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Dua narasumber membawa perspektif yang saling melengkapi.

Prof. Amin menyoroti pengembangan pupuk organik cair dan pupuk hayati untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Sementara Farida memaparkan pemanfaatan mikroorganisme dan bioteknologi untuk pangan, energi hingga penyelesaian persoalan lingkungan.
Pupuk Organik Cair, Dari Riset untuk Pertanian
Prof. Amin memaparkan penelitian yang dikembangkan bersama timnya mengenai pupuk organik cair (POC) dan pupuk hayati cair (PHC).
Ia menjelaskan, keduanya memiliki karakter berbeda, namun dapat digunakan bersama pupuk organik padat seperti kompos dan, dalam kondisi tertentu, pupuk sintetis.
POC dibuat dari bahan organik yang telah mengalami proses penguraian, seperti kompos, guano serta limbah buah dan sayuran.
Sementara pupuk hayati memanfaatkan mikroorganisme yang memberikan manfaat bagi tanaman dan tanah.
Pengembangan pupuk berbasis bahan organik dinilai memiliki prospek karena dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan.
Limbah organik yang sebelumnya menjadi persoalan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi.
Tim Prof. Amin juga mengembangkan POC yang diperkaya agen hayati, antara lain Beauveria bassiana dan Streptomyces sp.
Pendekatan ini diarahkan agar pupuk tidak hanya membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman, tetapi juga mendukung pengelolaan tanaman yang lebih ramah lingkungan.
Kebutuhan terhadap pupuk organik, termasuk pupuk organik cair, masih terbuka, khususnya seiring meningkatnya perhatian terhadap pertanian yang lebih berkelanjutan.
Dari Laboratorium Menuju Industri
Bagi Prof. Amin, penelitian tidak cukup berhenti sebagai hasil kajian akademik. Karena itu, inovasi yang dikembangkan bersama timnya mulai diarahkan ke tahap hilirisasi.
Salah satunya melalui kemitraan dengan PT SHIMA di Tulungagung untuk pengembangan dan produksi pupuk organik cair dalam skala industri.
Kerja sama tersebut menjadi jembatan antara hasil penelitian dan kebutuhan masyarakat.
Teknologi yang lahir di kampus diharapkan dapat diproduksi lebih luas dan menjadi alternatif input bagi petani.
Di sisi lain, hilirisasi juga membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk memberikan nilai tambah dari hasil riset, termasuk melalui pemanfaatan kekayaan intelektual dan paten.
Ke depan, Prof. Amin juga mengembangkan gagasan pupuk organik cair berbasis nanomaterial vermikompos.
Inovasi ini memadukan pemanfaatan bahan organik dengan teknologi yang lebih maju untuk menghasilkan formulasi pupuk yang diharapkan semakin efektif dimanfaatkan tanaman.
Farida: Mikroorganisme untuk Energi hingga Lingkungan
Sementara itu, Farida Rahayu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Rekayasa Genetika, memaparkan sejumlah riset yang memanfaatkan mikroorganisme dan bioteknologi untuk menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus menjawab persoalan lingkungan.
Lulusan S1 Biologi FMIPA UB, S2 Fakultas Teknologi Pertanian UB dan doktoral Molecular Biotechnology di Hiroshima University, Jepang, itu menekuni bioteknologi molekuler, mikrobiologi, rekayasa genetika dan bioproses.
Salah satu risetnya adalah pengembangan glutation, senyawa antioksidan yang berpotensi dimanfaatkan di bidang pangan dan bioteknologi.
Farida juga mengembangkan microbial biostimulant untuk membantu pemulihan lahan perkebunan pisang yang terdampak layu Fusarium.
Riset lainnya menyasar pengembangan bakteri lokal untuk produksi bioetanol berbasis biomassa, termasuk yang telah menghasilkan paten terkait desain plasmid DNA untuk bioetanol generasi kedua.
Di bidang lingkungan, Farida mengembangkan potensi bakteri untuk bioremediasi, terutama membantu mengurangi pencemaran logam berat dan menangani limbah tekstil, farmasi, rumah sakit maupun domestik.
Beragam riset tersebut menunjukkan bagaimana mikroorganisme dapat dikembangkan menjadi teknologi yang tidak hanya bernilai secara ilmiah, tetapi juga berpotensi diterapkan pada sektor pertanian, energi, industri dan lingkungan.(Djoko W)







