Gus Shampton Tantang Santri Kota Malang Produktif Menulis, Humor Jadi Media Dakwah dan Literasi

Berita3 views

Malangpariwara.com – Tradisi keilmuan pesantren tidak cukup hanya diwariskan melalui lisan.

Gagasan, pemikiran, dan pengetahuan harus ditulis agar tetap hidup dan dapat dipelajari lintas generasi.

Pesan inilah yang ditekankan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Dr. H. Shampton Masduki, S.Ag., saat membuka Lomba Menulis Cerita Humor Santri di MAN 2 Kota Malang.

Di hadapan para pengasuh ma’had, guru, dan santri, Gus Shampton mengajak kalangan pesantren kembali menguatkan tradisi literasi sebagai bagian penting dari pengembangan keilmuan Islam.

Menurutnya, kemajuan peradaban Islam tidak terlepas dari kebiasaan para ulama mendokumentasikan ilmu melalui karya tulis.

Ia mengingatkan kembali ungkapan hikmah qayyidul ‘ilma bil kitab, yang berarti ikatlah ilmu dengan tulisan.

Tradisi tersebut telah melahirkan banyak ulama Nusantara yang pemikiran dan karya-karyanya menjadi rujukan hingga tingkat internasional.Salah satunya Syekh Nawawi Banten.

Karya-karya ulama asal Nusantara tersebut dipelajari di berbagai lembaga pendidikan Islam dunia. Bahkan, ulama Nusantara pernah mendapat kepercayaan mengajar di Masjidil Haram karena kedalaman ilmu dan otoritas keilmuannya.

“Nusantara dahulu sangat dikenal di seantero dunia berkat kedalaman ilmu dan kitab-kitab karya ulamanya. Tulisan karya ulama kita, seperti Syekh Nawawi Banten, bahkan dipelajari hingga kampus-kampus luar negeri,” ungkapnya.

Gus Shampton menjelaskan, keberlangsungan khazanah keilmuan Islam selama berabad-abad juga ditopang tradisi penulisan dan pencatatan yang kuat.

Baik pemikiran dalam Mazhab Syafi’i maupun periwayatan hadis dapat diwariskan karena ilmu tidak hanya disampaikan, tetapi juga didokumentasikan dan dijaga ketepatan isinya.

Karena itu, ia menilai kemampuan menulis perlu menjadi perhatian serius madrasah dan pesantren. Santri tidak cukup hanya menjadi pembaca dan penerima ilmu, tetapi juga harus didorong menjadi penulis yang mampu menghasilkan karya intelektual.

Menariknya, lomba kali ini mengangkat cerita humor santri. Gus Shampton melihat tema tersebut memiliki kedekatan dengan kehidupan pesantren yang lekat dengan tradisi guyonan, tetapi tetap sarat pesan dan nilai kehidupan.

Menurutnya, humor bukan sekadar hiburan. Jika dikemas dengan baik, cerita jenaka dapat menjadi media menyampaikan nasihat, mencairkan suasana, sekaligus menyampaikan kritik dan menyikapi persoalan secara bijaksana.

“Santri itu kaya dengan humor. Banyak persoalan rumit bisa terselesaikan dengan guyon yang sarat makna. Potensi ini menjadi sarana yang sangat menarik bila diasah ke dalam karya tulisan yang bernas,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran ustadz, guru, dan pembina ma’had dalam mendampingi proses kreatif santri.

Pembimbingan, pemeriksaan, dan koreksi terhadap tulisan diperlukan agar gagasan yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahan pemahaman.

“Jangan sampai kesalahan penulisan membuat makna ilmu bergeser. Melalui gelaran literasi dan lomba menulis ini, kita dorong madrasah dan pesantren di Kota Malang menjadi pelopor lahirnya penulis andal,” tegasnya.

Gus Shampton berharap pesantren tidak hanya dikenal sebagai tempat mencetak generasi yang menguasai ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat lahirnya karya tulis dan pemikiran yang memberi kontribusi bagi masyarakat.

“Pesantren harus terus makmur dan menonjol karena karya intelektual serta keilmuannya,” tandasnya.

Pembukaan lomba ditandai dengan pembacaan Ummul Qur’an, Surat Al-Fatihah, secara bersama-sama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan buku hasil karya tulis santri sebagai bagian dari penguatan tradisi literasi di lingkungan madrasah dan pesantren.(Djoko W)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *