Malangpariwara.com –
Inflasi Kota Malang pada Oktober 2026 tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen.
Meski tekanan harga sejumlah komoditas pangan masih terjadi, laju inflasi bulanan menunjukkan perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, mengatakan inflasi Kota Malang masih terjaga di tengah dinamika pasokan pangan dan perubahan harga sejumlah komoditas strategis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,06 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka tersebut melandai dibandingkan September 2026 yang mencapai 0,27 persen.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Kota Malang berada di level 2,93 persen. Capaian ini lebih rendah dibandingkan Jawa Timur sebesar 3,09 persen dan nasional sebesar 3,23 persen.
Menurut Indra, perkembangan tersebut mencerminkan tekanan harga di Kota Malang yang relatif terkendali dan masih berada dalam sasaran inflasi nasional.
Cabai Merah dan Beras Jadi Penyumbang Inflasi
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi Oktober dengan andil sebesar 0,07 persen. Sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan harga, terutama cabai merah yang memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,06 persen.
Selain cabai merah, kenaikan harga beras menyumbang inflasi sebesar 0,03 persen. Sementara tomat dan cabai rawit masing-masing memberikan andil 0,02 persen, disusul labu siam atau jipang sebesar 0,01 persen.
Indra menjelaskan, kenaikan harga cabai merah dipengaruhi berkurangnya pasokan setelah periode panen raya. Kondisi tersebut diperparah belum meratanya distribusi dari daerah surplus menuju wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
Sementara kenaikan harga beras berkaitan dengan terbatasnya pasokan Gabah Kering Panen (GKP) menjelang berakhirnya musim kemarau.
Tekanan pasokan juga terjadi pada komoditas hortikultura. Keterbatasan air di sejumlah sentra produksi berdampak terhadap hasil panen tomat dan labu siam sehingga memengaruhi ketersediaan barang di pasar.
Harga Emas dan Daging Ayam Redam Inflasi
Di tengah kenaikan harga pangan, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan dan menahan laju inflasi Kota Malang.
Emas perhiasan dan daging ayam ras masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen. Berikutnya semangka sebesar 0,02 persen, serta telur ayam ras dan alpukat masing-masing sebesar 0,01 persen.
Penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan melemahnya harga emas dunia. Adapun harga daging ayam ras dan telur ayam ras turun akibat melimpahnya pasokan di tingkat peternak.
Di sisi lain, permintaan masyarakat yang kembali normal membuat penyerapan pasokan belum berlangsung optimal. Sementara penurunan harga semangka dan alpukat dipengaruhi meningkatnya pasokan seiring berlangsungnya musim panen.
BI dan TPID Perkuat Pengendalian Harga Pangan
Indra menegaskan, stabilitas inflasi tidak terlepas dari sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang melalui implementasi strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Sepanjang Oktober 2026, pengendalian inflasi difokuskan pada pemantauan harga bahan pangan pokok secara berkala serta penguatan ketersediaan komoditas strategis.
Salah satu langkah yang dilakukan melalui penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan menyediakan sejumlah kebutuhan pokok, meliputi beras, gula, tepung, dan minyak goreng.
Pemantauan langsung terhadap pasokan energi juga dilakukan untuk menjaga keterjangkauan harga sekaligus mengendalikan ekspektasi inflasi masyarakat.
Ke depan, Indra menyampaikan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh anggota TPID akan terus memperkuat koordinasi melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) serta optimalisasi strategi 4K.
Fokus kebijakan diarahkan pada penguatan pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga pangan strategis. Komunikasi kepada masyarakat juga terus ditingkatkan agar ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi Kota Malang dalam sasaran nasional 2,5±1 persen.
Lebih dari sekadar menjaga stabilitas harga, pengendalian inflasi menjadi faktor penting untuk melindungi daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.(Djoko W)






