Malangpariwara.com – Universitas Negeri Malang (UM) semakin memperkuat daya saing di tingkat internasional.
Hal ini ditandai dengan keberhasilan UM melesat ke peringkat 430 Asia dalam QS Asia University Rankings (AUR) 2027, sekaligus memperluas jejaring dan kemitraan global melalui partisipasinya dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali.
Dalam pemeringkatan terbaru yang diumumkan QS Quacquarelli Symonds pada 3 November 2026 tersebut, UM mencatat peningkatan signifikan di tiga level pemeringkatan.
Di tingkat nasional, UM naik dari peringkat 25 menjadi 18. Di Asia Tenggara, posisinya meningkat dari peringkat 101 menjadi 82. Sementara di tingkat Asia, UM melesat dari peringkat 537 ke posisi 430.
Kenaikan tersebut menunjukkan penguatan daya saing UM, terutama dalam memperluas pengakuan akademik di kawasan Asia.
Capaian ini sekaligus menjadi modal penting bagi universitas untuk meningkatkan reputasi dan memperkuat posisinya dalam persaingan pendidikan tinggi global.
Momentum peningkatan peringkat tersebut beriringan dengan keikutsertaan UM dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 yang berlangsung pada 3–5 November 2026 di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali.
Forum internasional yang diselenggarakan QS Quacquarelli Symonds itu dihadiri lebih dari 1.600 peserta dari kalangan pimpinan perguruan tinggi, akademisi, industri, dan pemerintah dari kawasan Asia Pasifik serta berbagai negara.
UM mengirimkan dua delegasi, yakni Kepala Subdirektorat Pemeringkatan, Ir. Nurul Hidayat, S.Si., M.Si., Ph.D., dan Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi, Achmad Taufani Irawan, S.Pd., M.T.
Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari strategi UM dalam memahami perkembangan pemeringkatan universitas dunia, memperluas koneksi akademik internasional, sekaligus membuka peluang kerja sama yang dapat mendukung peningkatan rekognisi institusi.
Selama tiga hari pelaksanaan, delegasi UM mengikuti berbagai sesi dan diskusi mengenai perkembangan pendidikan tinggi global.
Pembahasan mencakup metodologi pemeringkatan universitas, kemitraan lintas negara, penguatan riset, hingga pengembangan inovasi di lingkungan perguruan tinggi.
Salah satu perhatian utama adalah pendalaman metodologi dan kriteria QS World University Rankings. Pemahaman tersebut menjadi bahan evaluasi bagi UM untuk menyusun langkah strategis dalam meningkatkan performa institusi berdasarkan indikator pemeringkatan internasional.
Tidak hanya mengikuti forum diskusi, delegasi UM juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog dengan pimpinan perguruan tinggi, akademisi, mitra industri, serta tim QS.
Pertemuan itu menjadi ruang bertukar pengalaman, mempelajari praktik baik, dan menjajaki potensi kolaborasi lintas negara.
UM juga memperkenalkan profil, perkembangan, serta berbagai capaian institusi kepada komunitas pendidikan tinggi internasional.
Langkah ini penting untuk memperluas eksposur UM sekaligus membangun kepercayaan mitra terhadap kapasitas akademik dan riset universitas.
Kepala Subdirektorat Pemeringkatan UM, Nurul Hidayat, mengatakan forum tersebut memberikan perspektif baru mengenai arah perkembangan pemeringkatan perguruan tinggi di kawasan Asia Pasifik.
“Forum ini memberikan gambaran baru tentang arah pemeringkatan universitas di Asia Pasifik. Wawasan serta jejaring yang telah diperoleh akan kita terjemahkan menjadi strategi nyata untuk terus meningkatkan rekognisi global UM,” ujarnya.
Tantangan: Mengubah Jejaring Menjadi Kolaborasi Nyata
Peningkatan posisi dalam pemeringkatan internasional dan perluasan jejaring global menjadi dua modal yang perlu berjalan beriringan.
Tantangan berikutnya bagi UM adalah memastikan capaian tersebut tidak berhenti pada peningkatan angka pemeringkatan, tetapi berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan, produktivitas riset, inovasi, dan tata kelola institusi.
Sebagai tindak lanjut keikutsertaan dalam forum tersebut, UM menyiapkan sosialisasi hasil kegiatan, penyusunan strategi peningkatan peringkat, serta penguatan tata kelola data pemeringkatan.
Penguatan data menjadi salah satu aspek penting karena capaian dalam pemeringkatan internasional membutuhkan dukungan informasi institusi yang akurat, terukur, dan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap indikator kinerja dapat dievaluasi dan ditingkatkan secara lebih terarah.
Upaya tersebut juga sejalan dengan komitmen UM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui penguatan kerja sama internasional dan pertukaran pengetahuan, UM mendorong implementasi Target 17.6 serta Target 17.16 yang menitikberatkan pada pengembangan kemitraan multipihak.
Selain itu, partisipasi dalam forum pendidikan tinggi internasional turut mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama melalui pertukaran wawasan dan praktik baik untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi.
Penguatan jejaring riset dan kolaborasi dengan mitra industri juga berkontribusi terhadap SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Dengan capaian peringkat 430 Asia, UM memiliki peluang lebih besar untuk memperluas pengakuan internasional. Namun, konsistensi peningkatan mutu akademik, penguatan riset, serta keberhasilan membangun kolaborasi produktif akan menjadi penentu keberlanjutan daya saing universitas.
UM berharap jejaring yang terbangun dalam QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 dapat berkembang menjadi kemitraan konkret dan berkelanjutan. Dengan demikian, peningkatan peringkat bukan sekadar prestasi institusi, melainkan juga cerminan kemajuan kualitas pendidikan tinggi dan kontribusi UM di tingkat global.(Djoko W)






