Tak Peduli Hujan Kapolres Malang Temui Ribuan Aremania dan Aremanita yang Melakukan Aksi Demo

Caption ; Kapolres Malang AKBP I Putu Kholis Temui Demonstran di perempatan Kepanjen ditengah turun hujan.(Djoko W)

Minggu, 27 November 2022

Malangpariwara.com – Ditengah guyuran hujan, Kapolres Malang AKBP Putu Kholis Aryana ikut turun dalam aksi solidaritas ‘Malang Black Sunday’, yang dilakukan ribuan Aremania di simpang empat Kepanjen, Minggu (27/11/22) siang.

Didampingi Kapolsek Kepanjen Kompol Sri Widyaningsih, Kapolres ikut hujan-hujan sebagai wujud empati atas peristiwa stadion Kanjuruhan.

Bahkan di bawah guyuran hujan, Kapolres Malang ikut duduk bersila di tengah jalan untuk doa dan tahlil bersama dengan Aremania.

AKBP Putu Kholis tak meninggalkan tempat dan terus mendampingi Aremania sampai selesai melakukan aksi.

“Saya berdiri di tengah-tengah saudara semuanya, pertama ingin melaksanakan kewajiban moral. Mewakili jajaran Polres Malang dan Polsek memohon maaf sebesar-besarnya atas Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022,” ungkapnya.

Perkembangan penegakkan hukum Tragedi Kanjuruhan kasusnya ditangani Polda Jawa Timur, aspirasi ini disampaikan karena ia melihat dan merasakan, banyak Aremania di Kabupaten Malang memiliki kesempatan yang terbatas dalam mengakses informasi perkembangan kasus.

“Saya sampaikan bahwa proses penegakan hukum Tragedi Kanjuruhan dilakukan dua cluster berbeda. Pertama cluster pidana yang masih terus berjalan dan Polda Jawa Timur sudah menetapkan enam tersangka,” ujarnya.

Keenam orang yang sudah dijadikan tersangka tersebut lanjutnya, telah diproses pidana dan terpisah. Sesuai pengenaan pasal dan perbuatan masing-masing, sehingga diproses dengan berkas berbeda.

“Berkas keenam tersangka ini, yang sebelumnya dikembalikan oleh Kejaksaan sudah dilengkapi dengan penambahan pemeriksaan korban serta saksi-saksi lain. Berkas juga sudah dikirim lagi ke Jaksa Penuntut Umum untuk diteliti. Mari sama-sama untuk terus mengawal,” terang Putu Kholis.

Kemudian proses untuk terduga pelanggar lain, dikatakannya secara bersamaan juga dilakukan proses kode etik profesi Kepolisian. Lebih dari 20 anggota polisi diminta keterangan dan proses masih terus berjalan bersama hukum pidana.

Penyidik menerapkan pasal kepada para tersangka, sudah sesuai dengan alat bukti, kronologis peristiwa dan keterangan korban serta para saksi ahli. Dimana penyidik menerapkan pasal 351 KUHP, 170 KUHP, 359 KUHP, 360 KUHP dan pasal tentang keolahragaan.

“Besok (Senin, red) kami juga akan memfasilitasi dulur-dulur Aremania untuk bertemu dengan Direskrim Polda Jawa Timur untuk mengetahui secara langsung sejauh mana perkembangan kasusnya. Ada sekitar 6 orang perwakilan dari Aremania nantinya,” pungkas Putu Kholis.

Caption : Direktur LIB Hadian Lukita sebelum ditahan saat menemui Ibu Afidah yang mempunyai anak baru berusia dua bulan menjadi yatim,Ibu Afidah harus mengikhlaskan suaminya Firman Nur Abidin meninggal dunia dalam peristiwa stadion Kanjuruhan.(Yon)

Afidatus solikah (26) warga Kepanjen mengaku, suaminya Firman Nur Abidin (32) meninggal dunia saat menyaksikan laga Arema vs Persebaya.

” Anaknya Citra Kayla Putri yang saat ini sudah usia tiga bulan kehilangan ayahnya akibat tembakan gas air mata, “tegasnya.

Semasa hidup suaminya berprofesi sebagai tukang parkir dan menjual dawet dijual di Bumiayu, hasil bekerja biasanya untuk membeli tiket laga Arema lawan Persebaya berkesudahan 2-3.

Harapannya adanya ingin keadilan buat anak saya dan masa depan anak saya masih panjang pak pendidikan biaya sehari” masih panjang dan pelaku diproses secara hukum.

“Saya hanya ingin mendapatkan apa yang anak saya butuhkan untuk saat ini dan seterusnya, pelaku semoga cepat di temukan, salah suami saya apa harus jadi korban seperti ini..padahal dia saat itu posisi ada di tribun di tembaki gas air mata, ” Pungkasnya.(Yon/Djok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.