Sri Untari Ajak Generasi Muda Jaga Warisan Leluhur dalam Peringatan Prasasti Sangguran

MALANGPARIWARA.COM – Semangat merawat warisan sejarah kembali menggema dalam peringatan Prasasti Sangguran yang digelar para pegiat budaya di Malang Raya.

Melalui pertunjukan seni, tari tradisional, dan edukasi sejarah, kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk menghidupkan kembali ingatan masyarakat terhadap salah satu peninggalan penting masa Jawa Kuno.

Rangkaian acara berlangsung semarak dengan menghadirkan beragam atraksi budaya yang melibatkan komunitas seni dari berbagai wilayah di Malang Raya.

Sejarah tidak hanya disampaikan melalui paparan dan cerita, tetapi juga dikemas dalam bahasa kebudayaan yang lebih dekat dengan masyarakat, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Sri Untari Bisowarno.(Ist)

Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, mengatakan pelestarian peninggalan sejarah tidak cukup dilakukan dengan menjaga artefaknya semata.

Menurutnya, sejarah harus terus dihidupkan melalui kegiatan kebudayaan agar nilai-nilai yang diwariskan para leluhur tetap dikenal dan dipahami oleh masyarakat.

“Warisan sejarah bukan hanya benda masa lalu, tetapi bagian dari identitas kita yang harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Sri Untari menjelaskan bahwa Prasasti Sangguran memiliki nilai historis yang sangat penting bagi kawasan Malang Raya.

Prasasti tersebut berkaitan dengan penetapan wilayah Sangguran pada masa Jawa Kuno dan menjadi salah satu bukti perjalanan panjang peradaban di wilayah tersebut.

Namun hingga kini, peninggalan bersejarah itu masih berada di luar Indonesia.

Menurut Sri Untari, berbagai komunikasi dan upaya terus dilakukan agar Prasasti Sangguran suatu saat dapat kembali ke Tanah Air. Meski demikian, proses pemulangannya memerlukan tahapan yang panjang, termasuk negosiasi dan dukungan berbagai pihak.

Ia menilai kepulangan Prasasti Sangguran bukan sekadar memindahkan sebuah artefak ke tempat asalnya, tetapi juga mengembalikan jejak sejarah kepada masyarakat yang memiliki keterkaitan langsung dengan peninggalan tersebut.

Sambil menunggu terwujudnya harapan itu, para pegiat budaya terus melakukan berbagai langkah edukasi. Salah satunya melalui pembuatan replika Prasasti Sangguran yang ditatah menyerupai bentuk aslinya sebagai media pembelajaran sejarah bagi masyarakat.

Menurut Sri Untari, pendekatan melalui seni dan budaya menjadi cara yang efektif untuk mendekatkan sejarah kepada generasi muda.

Melalui pertunjukan seni, tari, hingga pengenalan peninggalan arkeologi, masyarakat diajak memahami bahwa sejarah merupakan bagian penting dari jati diri bangsa.

Selain Prasasti Sangguran, ia juga menyinggung keberadaan sejumlah prasasti lain di Jawa Timur yang turut memperkaya rekonstruksi sejarah masa Jawa Kuno.

Berbagai temuan tersebut menunjukkan besarnya kekayaan sejarah Jawa Timur yang harus dijaga bersama oleh pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat.

Sri Untari mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus nguri-uri warisan leluhur. Menurutnya, sejarah merupakan sumber pembelajaran yang membentuk karakter bangsa.

“Dari merekalah kita tahu siapa kita,” tutur Sri Untari.

Ia berharap nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kebersamaan, keteguhan, dan kepedulian terhadap budaya dapat terus diwariskan kepada generasi penerus.

Karena itu, pelestarian sejarah tidak berhenti pada menjaga benda-benda peninggalan, tetapi juga merawat pengetahuan, kearifan, dan nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur.

Melalui peringatan Prasasti Sangguran, Sri Untari berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya memahami akar sejarah sebagai pijakan membangun masa depan.

Dengan mengenal sejarahnya sendiri, generasi masa kini diharapkan mampu menjaga jati diri bangsa sekaligus meneruskan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.(Djoko W)