MALANGPARIWARA.COM – Pemenuhan mineral menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan, pertumbuhan, hingga produktivitas ternak. Namun, pemberian pakan tambahan yang praktis dan mudah dikonsumsi masih menjadi tantangan bagi sebagian peternak.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Herbaminblock, suplemen pakan berbentuk blok yang memadukan mineral dengan bahan herbal untuk ternak ruminansia, khususnya sapi dan kambing.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Pugoh Mulyo Utomo bersama lima anggota tim lainnya.
Mahasiswa angkatan 2024 itu mengatakan, ide Herbaminblock muncul dari kepedulian tim terhadap pentingnya pemenuhan mineral sekaligus pemanfaatan bahan herbal dalam mendukung kesehatan ternak.
“Kami melihat bahwa mineral dan bahan herbal juga penting untuk menunjang kebutuhan ternak, sehingga kami mencoba mengembangkan mineral block yang dikombinasikan dengan bahan herbal,” jelas Pugoh.
Herbaminblock dirancang dengan mengutamakan kepraktisan. Bentuknya yang padat memungkinkan ternak mengonsumsinya secara bertahap.

Produk tersebut dibuat dari sejumlah bahan, antara lain mineral atau premix, garam, molases, bahan herbal, serta bahan pengikat.
Dalam proses pembuatannya, molases berfungsi sebagai perekat agar seluruh bahan dapat menyatu dan menghasilkan blok yang padat.
Setelah dicetak, blok kemudian dikeringkan hingga mencapai kadar air dan tekstur yang sesuai sebelum dikemas dan siap digunakan.
Selain menjadi sumber mineral tambahan, Herbaminblock dikembangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Produk ini diharapkan dapat membantu mencegah kekurangan mineral, mendukung proses pencernaan dan pertumbuhan, menjaga kesehatan gigi serta kondisi tubuh ternak.
“Setelah membentuk block, dikeringkan sampai kadar air dan teksturnya sesuai, kemudian pakan dikemas dan siap digunakan,” tutur Pugoh.
Pengembangan Herbaminblock tidak berjalan tanpa tantangan. Tim harus menemukan komposisi bahan yang tepat sekaligus menghasilkan bentuk blok yang cukup padat, tidak mudah hancur, tetapi tetap mudah dikonsumsi ternak.
Karakteristik setiap bahan yang berbeda membuat proses formulasi harus dilakukan secara cermat.
Kondisi tersebut juga perlu disesuaikan dengan fasilitas dan waktu yang tersedia selama proses perkuliahan.
Beruntung, pengembangan inovasi tersebut mendapat pendampingan dari dosen pembimbing.
Pendampingan dilakukan mulai dari penyusunan formulasi, proses pembuatan hingga evaluasi secara berkala sehingga Herbaminblock dapat dikembangkan secara lebih terarah.
Tak berhenti pada tahap pengembangan, Herbaminblock juga telah menjalani uji coba awal secara langsung pada ternak sapi. Pengujian tersebut dilakukan untuk melihat tingkat penerimaan ternak, terutama ketertarikan dan konsumsi terhadap produk.
“Setelah kami uji coba langsung pada sapi, menunjukkan ketertarikan ternak untuk mengonsumsi blok ini dan setelah seminggu percobaan terjadi peningkatan nafsu makan pada ternak,” ungkap Pugoh.
Ke depan, tim berencana mengembangkan Herbaminblock menjadi produk yang dapat dipasarkan kepada peternak. Harga yang direncanakan sebesar Rp25.000 per kemasan.
Dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., mengapresiasi inisiatif Pugoh dan tim dalam mengembangkan inovasi tersebut.
Menurutnya, Herbaminblock menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa dapat mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan menjadi produk yang memiliki potensi manfaat bagi dunia peternakan.
Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan produk pakan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan ternak, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan solusi yang praktis dan berpotensi dikembangkan secara komersial.(Djoko W)






