UM Bekali Santri Sumber Putih Kembangkan Talas dan Petai Jadi Produk Usaha

MALANGPARIWARA.COM – Universitas Negeri Malang (UM) mendorong santri Generasi Taqwa Sumber Putih, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, untuk mulai melihat potensi di lingkungan sekitar sebagai peluang usaha.

Upaya tersebut diwujudkan melalui program pemberdayaan kewirausahaan berbasis potensi lokal yang digelar Selasa (18/8/2026).

Sebanyak 37 santri kelas XI dan XII mengikuti kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Remaja Pondok Pesantren melalui Inkubasi Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal untuk Mewujudkan Pesantren Mandiri”.

Program ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Tim UM yang terlibat terdiri dari Dian Rachmawati, Rizza Megasari, Raisa Fitri, Sri Handayani, Rizky Dwi Putri, Restu Agus Dwi Kurniawan, dan Herin Fitriani. Dalam kegiatan tersebut, Generasi Taqwa Sumber Putih menjadi mitra pelaksanaan program.

Kegiatan tidak berhenti pada teori kewirausahaan. Para santri diajak memahami bagaimana sebuah bahan lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Mereka juga mendapatkan pemahaman mengenai cara membaca peluang, menentukan target konsumen, menghitung biaya produksi, membangun merek, membuat kemasan, hingga memasarkan produk.

Santri Diajak Jeli Melihat Potensi Sekitar

Dalam sesi pembekalan, kewirausahaan diperkenalkan sebagai kemampuan untuk menemukan peluang, mengelola sumber daya, berinovasi, serta menciptakan nilai.

Para santri juga diberikan pemahaman bahwa membangun usaha membutuhkan karakter seperti kejujuran, amanah, disiplin, tanggung jawab, kesabaran, dan kemampuan membangun hubungan dengan orang lain.

Lingkungan pesantren sendiri dinilai memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi.

Mulai dari makanan, minuman, jasa, produk kreatif, koperasi, hingga pemasaran berbasis digital.

Santri kemudian diajak memahami bahwa usaha tidak harus dimulai dalam skala besar.

Identifikasi kebutuhan di sekitar, menentukan produk, menghitung modal, menetapkan harga, melakukan promosi, dan mengevaluasi hasil menjadi tahapan yang dapat dilakukan sejak awal.

Talas dan Petai Jadi Bahan Produk Kreatif

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian santri adalah praktik pengolahan bahan pangan lokal. Talas dan petai dipilih sebagai contoh bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah.

Talas diolah menjadi tepung yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kukis.

Sementara petai dikreasikan menjadi bahan untuk produk brownies dan muffin.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa komoditas lokal memiliki peluang lebih besar ketika tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.

Pengolahan, kreativitas, kualitas, kemasan, merek, dan pemasaran dapat meningkatkan nilai ekonominya.

Santri dikenalkan dengan alur sederhana dalam membangun produk, mulai dari membuat, menguji, memberi merek, mengemas, hingga menjual.

Belajar Memahami Selera Konsumen

Selain praktik pengolahan, santri juga mendapatkan pengalaman menilai produk berdasarkan sejumlah aspek, seperti penampilan, aroma, rasa, tekstur, tingkat kesukaan, hingga keinginan konsumen untuk membeli.

Pendekatan ini menanamkan pemahaman bahwa produk yang berhasil dibuat belum tentu otomatis laku di pasar.

Produk harus mampu menjawab kebutuhan dan selera konsumen.
Para peserta juga diajak memikirkan siapa calon pembeli, kebutuhan yang ingin dipenuhi, alasan konsumen memilih produk, harga yang tepat, lokasi pemasaran, hingga bentuk promosi yang efektif.

Dengan demikian, proses produksi tidak berdiri sendiri. Sebuah produk membutuhkan identitas, kemasan yang menarik dan higienis, informasi yang jelas, strategi harga, serta pemasaran yang sesuai dengan sasaran konsumen.

Dari Keterampilan Menjadi Peluang Bisnis

Sebanyak 37 santri mendapatkan pengalaman langsung dalam menggali ide usaha, mengembangkan produk berbahan lokal, serta memahami dasar-dasar pengembangan produk pangan.

Materi yang diberikan mencakup penentuan target pasar, penilaian kualitas produk, pengembangan merek, desain kemasan, penghitungan biaya produksi, penetapan harga jual, hingga strategi pemasaran.

Santri juga diperkenalkan pada konsep biaya produksi per unit dan margin keuntungan sebagai dasar menentukan harga jual.

Dalam pemasaran, mereka dikenalkan dengan berbagai pendekatan sederhana, seperti penggunaan foto dan video produk, storytelling, paket bundling, pemberian sampel, serta pemanfaatan testimoni konsumen.

Menuju Kemandirian Ekonomi Pesantren

Bagi Generasi Taqwa Sumber Putih, program tersebut menjadi salah satu langkah awal untuk membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan pesantren.

Talas dan petai menjadi contoh bahwa bahan yang tersedia di sekitar dapat dikembangkan menjadi produk kreatif apabila dipadukan dengan pengetahuan, inovasi, dan strategi pemasaran.

Ke depan, pengembangan dapat diarahkan pada produksi secara rutin, penyempurnaan resep, peningkatan kualitas, penguatan merek dan kemasan, pencatatan keuangan sederhana, serta pengujian produk kepada konsumen.

Pendampingan berkelanjutan diharapkan dapat membawa kegiatan tersebut dari sekadar praktik pembelajaran menuju embrio usaha produktif yang dikelola pesantren.

Kolaborasi UM dengan Generasi Taqwa Sumber Putih sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam menerapkan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Kampus tidak hanya berperan dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat menjadi mitra masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal.

Bagi santri, kewirausahaan bukan hanya tentang mendapatkan keuntungan. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana melatih kreativitas, keberanian mengambil peluang, kemandirian, kemampuan memecahkan masalah, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dari talas dan petai, para santri belajar bahwa potensi sederhana di sekitar mereka dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi.

Program ini juga mendukung pencapaian SDGs 4 tentang Pendidikan Bermutu melalui pembelajaran berbasis pengalaman, serta SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan keterampilan kewirausahaan dan penciptaan peluang ekonomi bagi generasi muda.

Melalui pembekalan tersebut, UM berharap lahir santri yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menciptakan nilai dari potensi lokal.

Keterampilan, karakter, kreativitas, dan keberanian berinovasi diharapkan menjadi modal menuju pesantren yang semakin produktif dan mandiri.(Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *