MALANGPARIWARA.COM – Pendanaan InsaInTek menjadi pijakan Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) dalam mendorong hilirisasi teknologi pengolahan limbah organik berbasis Black Soldier Fly (BSF) atau maggot di Malang Raya.
Melalui Center of Excellence (CoE) Community Based Sustainable Agribusiness (CBSA), FTAB UB membangun ekosistem ekonomi sirkular yang menghubungkan sumber limbah organik, pembudidaya maggot, pengguna hasil olahan BSF, pelaku usaha hingga pemerintah.
Langkah tersebut diperkuat melalui Forum Kolaborasi Multipihak bertajuk “Membangun Ekosistem Ekonomi Sirkular Berbasis Maggot Black Soldier Fly (BSF)” di Aula Gedung A FTAB UB, Kamis (27/8/2026).
Forum ini mempertemukan sekitar 70 peserta dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelaku usaha, peternak, pembudidaya ikan hingga pengambil kebijakan.

Wakil Dekan FTAB UB Bidang Akademik, Endrika Widyastuti, S.Pt., M.Sc., MP., Ph.D., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program CoE CBSA yang memperoleh dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui program InsaInTek.
“FGD ini melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, dan pengusaha. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah penggunaan Black Soldier Fly atau maggot untuk pengolahan sampah,” ujarnya.
Menurut Endrika, limbah organik dari dapur SPPG menjadi salah satu sumber bahan baku potensial. Sisa makanan dari proses pengolahan maupun makanan yang dikembalikan dari sekolah dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot.
“Kalau sampah organik langsung dibuang, dapat menimbulkan bau. Maggot bisa menguraikan sampah organik dan sisa makanan dengan baik,” jelasnya.
Namun, FTAB UB melihat persoalan maggot tidak berhenti pada teknologi budidayanya. Tantangan yang lebih besar adalah membangun ekosistem yang mampu memastikan ketersediaan bahan baku, keberlanjutan produksi dan kepastian pasar.

Ketua CoE CBSA FTAB UB, Dr. Dodyk Pranowo, STP., M.Si., mengatakan pendanaan tersebut diarahkan untuk membawa teknologi yang telah dikembangkan perguruan tinggi agar dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Kami mendapatkan amanah dari Kementerian untuk melakukan hilirisasi teknologi yang sudah dikembangkan oleh tim kami di CoE-CBSA,” katanya.
Karena itu, rangkaian program tidak hanya berupa penelitian. FTAB UB menggelar FGD multipihak, sekolah lapang, pameran, pendampingan dan berbagai kegiatan untuk mempertemukan seluruh mata rantai ekosistem BSF.
Dodyk mengatakan Malang Raya dipilih sebagai wilayah percontohan karena ekosistem pelaku dan sumber limbah organiknya cukup beragam.
“Kami ingin menyatukan dan membentuk ekosistem ini supaya bisa tumbuh di Kota Malang. Mulai dari hulunya, produksi, teknologi pemanfaatan, sampai kebijakan,” ujarnya.
Rantai tersebut dimulai dari pihak yang menghasilkan limbah organik, kemudian masuk ke proses budidaya BSF. Maggot yang dihasilkan selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak maupun ikan, sedangkan residu budidayanya atau kasgot dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pupuk organik.
Dengan pola tersebut, limbah tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan, tetapi kembali masuk ke rantai produksi dan menciptakan nilai tambah ekonomi.
SPPG Jadi Model Ekonomi Sirkular
Guru Besar Teknik Lingkungan Agroindustri FTAB UB sekaligus Ketua UPT Green Campus UB, Prof. Sri Suhartini, STP., M.Env.Mgt., Ph.D., mengatakan salah satu implementasi program akan difokuskan pada pemanfaatan limbah makanan dari dapur SPPG.

“Teknologinya relatif sederhana dan sudah banyak diimplementasikan. Yang ingin kami tambahkan adalah bagaimana melakukan intervensi teknologi kepada SPPG sehingga dapat menjadi model,” ujarnya.
FTAB UB mendorong terbentuknya sistem tertutup (closed-loop system), mulai dari penetasan telur BSF, budidaya maggot, pemanfaatan limbah makanan, hingga siklus reproduksi lalat BSF untuk menghasilkan telur kembali.
Model tersebut memungkinkan limbah organik dari dapur tidak langsung dibuang, tetapi menjadi input bagi proses produksi berikutnya.
Maggot juga dapat diolah lebih lanjut melalui proses pengeringan, pemisahan lemak, penepungan hingga formulasi pelet dengan tambahan nutrisi.
UB sebelumnya telah mengembangkan berbagai jenis pakan berbasis maggot untuk ikan nila, lele, lobster, pet food hingga ayam. Dalam program ini, pemanfaatannya diarahkan terutama untuk pakan ikan lele dan nila serta pakan ayam.
Dodyk menambahkan, salah satu persoalan yang hendak diatasi melalui pembentukan ekosistem adalah rantai pasok.
Di satu sisi terdapat penghasil limbah organik yang belum memiliki teknologi pengolahan. Di sisi lain, pembudidaya maggot membutuhkan pasokan bahan baku secara konsisten. Persoalan berikutnya adalah memastikan hasil produksi memiliki pasar.
“Para peternak dan pembudidaya ikan mungkin belum mendapatkan informasi terkait pemanfaatan maggot. Kami mencoba menyatukan seluruh rantai pelaku tersebut melalui FGD multipihak,” katanya.
FTAB UB menargetkan lahirnya community champion, yakni masyarakat yang mampu menjadi penggerak pengembangan budidaya dan pemanfaatan maggot di wilayahnya.
Program tersebut juga melibatkan masyarakat sekitar kampus melalui Kampung Lingkar Kampus (KLK), UPT UB Green Campus serta Dinas Lingkungan Hidup.
Melalui dukungan pendanaan InsaInTek dan penguatan CoE CBSA, FTAB UB menempatkan Malang Raya sebagai ruang uji pengembangan ekonomi sirkular berbasis BSF.
Bukan sekadar mengubah sampah menjadi maggot, tetapi membangun satu rantai nilai dari limbah makanan, produksi BSF, pakan, pupuk hingga pasar agar teknologi perguruan tinggi benar-benar berujung pada manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat.(Djoko W)







