Polinema Kenalkan Budidaya BSF kepada Peternak Lele Tulusbesar, Ubah Sampah Organik Menjadi Pakan dan Pupuk

MALANGPARIWARA.COM – Sampah organik tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), tim Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengenalkan budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot kepada kelompok peternak lele di Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan bertajuk ā€œIntegrasi Budidaya Black Soldier Fly dalam Rantai Nilai Ekonomi Desa melalui Pakan Ternak dan Pupuk Organikā€ ini diikuti oleh lima anggota kelompok peternak lele yang menjadi mitra dalam program PPM.

Kegiatan dibuka oleh Noor Isnaini Azkiya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Sekretaris Desa Tulusbesar, Rendra Agus Wahyudi, serta perwakilan Polinema, Mochammad Agung Indra Iswara.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Pelaksana PPM, Cucuk Evi Lusiani, menyampaikan materi mengenai teknik budidaya BSF, mulai dari proses penetasan telur, pemeliharaan larva, pemanfaatan sampah organik sebagai sumber nutrisi, hingga proses biokonversi.

Peserta diperkenalkan pada berbagai jenis bahan organik yang dapat dimanfaatkan sebagai substrat pertumbuhan larva, seperti sisa sayuran, buah, nasi, serta bahan makanan tertentu yang sesuai untuk kebutuhan budidaya BSF.

ā€œBiokonversi merupakan proses ketika larva BSF memakan sampah organik yang sesuai sebagai sumber nutrisi untuk tumbuh. Dengan cara ini, sampah dapat berkurang sekaligus menghasilkan biomassa larva yang bernilai guna,ā€ jelas Cucuk Evi Lusiani.

Bagi kelompok peternak lele, maggot memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku pakan karena mengandung protein dan lemak.

Namun, penggunaannya perlu dikombinasikan dengan bahan pakan lainnya agar kandungan nutrisi yang diberikan tetap sesuai dengan kebutuhan ikan.

Selain menghasilkan larva atau maggot, proses budidaya BSF juga menghasilkan kasgot, yaitu residu dari kegiatan budidaya yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Dengan demikian, budidaya BSF mampu menghasilkan dua produk bernilai guna, yakni maggot sebagai bahan pakan dan kasgot sebagai pupuk organik.

Materi pelatihan juga memperkenalkan bahwa budidaya BSF dapat dimulai dari skala kecil dengan memanfaatkan peralatan yang relatif sederhana.

Proses biokonversi sendiri dapat berlangsung sekitar 7 hingga 18 hari, tergantung pada kondisi budidaya serta jenis bahan organik yang digunakan.

Melalui kegiatan ini, Polinema mendorong masyarakat Desa Tulusbesar untuk mulai memandang sampah organik sebagai sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan.

Konsep yang diperkenalkan pun sederhana, yaitu sampah organik dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan larva BSF, kemudian larva dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, sedangkan residunya berpotensi digunakan sebagai pupuk organik.

Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya membantu mengurangi volume sampah organik, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha dan peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat desa.

Kegiatan diakhiri dengan pengisian kuesioner, penutupan, serta ramah tamah antara tim PPM Polinema dan para peserta.

Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan ekonomi sirkular berbasis masyarakat, khususnya melalui integrasi pengelolaan sampah organik, budidaya BSF, penyediaan bahan pakan ikan, serta pemanfaatan pupuk organik di Desa Tulusbesar.

Melalui inovasi sederhana yang dapat diterapkan di tingkat masyarakat, Polinema terus mendorong lahirnya berbagai solusi berbasis teknologi dan pemberdayaan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

ā€œDari sampah menjadi sumber daya, dari budidaya menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Tulusbesar,” pungkas Cucuk Evi Lusiani.(Djoko W)

http://polinema.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *