Arief Wahyudi, S.H: Muktamar NU ke-35 di Jombang Jadi Mesin Ekonomi Rakyat, UMKM hingga Ojek Kebanjiran Rezeki

JOMBANG, MALANGPARIWARA.COM – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tak hanya menjadi panggung menentukan arah perjalanan organisasi lima tahun ke depan.

Di balik hiruk-pikuk forum Muktamar, ribuan masyarakat justru merasakan dampak ekonomi secara langsung.

Arus kedatangan warga dari berbagai daerah membuat Jombang berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi.

Mobil, bus hingga rombongan sepeda motor terus berdatangan. Posko pelayanan bermunculan di berbagai titik, dibuka oleh sejumlah lembaga dan organisasi yang ikut mengambil bagian dalam menyukseskan hajatan besar Nahdliyin tersebut.

Wakil Ketua MWC NU Klojen yang juga Anggota Fraksi PKB DPRD Kota Malang, Arief Wahyudi, melihat fenomena tersebut sebagai bukti bahwa kekuatan sosial NU memiliki daya ungkit ekonomi yang sangat besar.

“Antusias masyarakat Indonesia untuk ikut menyukseskan agenda lima tahunan Nahdlatul Ulama luar biasa. Hampir seluruh lembaga dan organisasi besar yang ada di Indonesia membuka posko pelayanan di Jombang,” ujar Arief, Minggu(30/8/26).

Ia menyebut, masyarakat datang dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan mobil pribadi, bus, hingga berombongan menggunakan sepeda motor dari berbagai daerah.

Menurut Arief, derasnya mobilisasi massa tersebut secara otomatis menciptakan perputaran uang di tengah masyarakat.

Bukan hanya sektor formal yang bergerak, tetapi pelaku usaha kecil yang berada di sekitar lokasi Muktamar ikut mendapatkan manfaat.

“Rombongan yang hadir luar biasa banyak. Saya temui ada yang datang berombongan naik mobil, bus, termasuk rombongan bersepeda motor dari berbagai daerah,” katanya.

Dampaknya terasa pada ribuan pelaku UMKM. Pedagang makanan, minuman, usaha jasa, hingga transportasi lokal mendapat limpahan konsumen. Bahkan para pengemudi ojek ikut merasakan meningkatnya permintaan selama kegiatan berlangsung.

“Muktamar mampu menggerakkan ekonomi ribuan UMKM, termasuk ojek yang mendapatkan rezeki berlimpah sepanjang gelaran acara,” tegas Arief.

Jangan Berhenti di Muktamar
Bagi Arief, fenomena ekonomi tersebut jangan hanya dilihat sebagai efek sesaat sebuah acara besar.

Justru, menurutnya, NU perlu menangkap momentum itu sebagai model pemberdayaan ekonomi yang bisa direplikasi hingga ke struktur organisasi paling bawah.

Kekuatan NU yang memiliki jaringan luas dari tingkat pusat hingga ranting dan anak ranting, menurutnya, merupakan modal sosial yang sangat besar untuk membangun ekonomi kerakyatan.

“Semoga semangat pergerakan ekonomi kerakyatan ini terus mampu dibina dan menjadi salah satu program kegiatan dari pusat sampai ke tingkat ranting dan anak ranting,” harapnya.

Ia menilai, jika setiap agenda NU mampu dikaitkan dengan pemberdayaan UMKM dan ekonomi lokal, maka manfaat organisasi tidak berhenti pada forum-forum struktural.

NU bisa hadir secara nyata dalam kehidupan ekonomi masyarakat.
Pesan penting dari Muktamar Tambakberas, kata Arief, bukan semata siapa yang nantinya memimpin NU atau bagaimana arah organisasi ditetapkan.

Ada pekerjaan lebih besar yang juga harus dijawab: bagaimana kekuatan besar Nahdliyin diterjemahkan menjadi kesejahteraan bagi masyarakat.
Sebab ketika jutaan warga NU bergerak, yang seharusnya ikut bergerak bukan hanya organisasi, tetapi juga ekonomi rakyat.(Djoko W)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *