MALANGPARIWARA.COM – Limbah minyak jelantah dan biji salak yang selama ini kerap dipandang sebagai sampah justru diolah menjadi produk bernilai guna.
Inovasi tersebut dilakukan Athikah Nadia Nur Baiti, mahasiswi Teknik Lingkungan S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), melalui riset tugas akhirnya.
Athikah memanfaatkan biji salak sebagai bahan adsorben untuk memurnikan minyak jelantah sebelum diolah menjadi bahan baku lilin aromaterapi.
Riset tersebut mengantarkannya menjadi lulusan terbaik Program Studi Teknik Lingkungan S-1 pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026, dengan raihan IPK 3,59.
Penelitian berjudul “Pengaruh Adsorben Biji Salak Teraktivasi H3PO4 terhadap Pemurnian Minyak Jelantah sebagai Bahan Baku Lilin Aromaterapi” itu berangkat dari persoalan sederhana yang ditemuinya di lingkungan sekitar.
“Minyak jelantah di rumah sering kali langsung dibuang ke sungai dan mencemari lingkungan. Dari situ saya tergerak memanfaatkan biji salak yang belum banyak dimanfaatkan menjadi arang aktif untuk memurnikan minyak sisa tersebut,” ujar Athikah.
Dalam risetnya, biji salak yang kaya selulosa diolah menjadi arang aktif. Prosesnya dimulai dengan mengeringkan biji salak selama sekitar sepekan, kemudian disangrai dan dimasukkan ke mesin furnace hingga berubah menjadi arang.
Arang tersebut selanjutnya dihaluskan dan diaktivasi menggunakan larutan asam fosfat (H3PO4). Proses aktivasi dilakukan untuk meningkatkan kemampuan adsorben dalam menyerap kotoran dan mengurangi bau pada minyak jelantah.
Penelitian yang dibimbing Candra Dwiratna Wulandari, ST., MT., dan Vitha Rachmawati, ST., MT., itu kemudian diuji melalui sejumlah parameter laboratorium.
Hasilnya, penggunaan 30 gram arang aktif biji salak untuk setiap 100 mililiter minyak jelantah menjadi formula dengan hasil pemurnian paling optimal.
Efisiensi penyisihan kadar air mencapai 81 persen, sedangkan bilangan asam dapat ditekan hingga 97 persen.
Minyak jelantah yang telah dimurnikan kemudian diolah bersama bahan lilin dan pewangi menjadi lilin aromaterapi.
Produk tersebut mampu menghasilkan nyala api stabil, tidak mengeluarkan asap hitam, serta memiliki waktu pembakaran yang lebih lama.
Gigih Membiayai Riset dari Berjualan
Prestasi Athikah tidak hanya lahir dari aktivitas akademik. Di balik penelitian tersebut terdapat perjuangan untuk membiayai kebutuhan riset secara mandiri.
Alumnus SMA Panjura Malang itu memilih berwirausaha dengan memproduksi abon udang rebon beraroma kecombrang melalui merek ANNB Mart.
Resep yang digunakan berasal dari keluarganya, sementara tanaman kecombrang untuk kebutuhan produksi ditanam sendiri di pekarangan rumah.
Produk tersebut dipasarkan dengan sistem pre-order (PO) melalui media sosial hingga platform TikTok.
“Hasil dari jualan abon sangat membantu menambah uang saku dan menutup biaya riset laboratorium. Dari dulu saya memang suka berdagang,” kata Athikah.
Selain menjalani perkuliahan dan riset, Athikah aktif dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL). Ia juga pernah bergabung dengan UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM) VCC ITN Malang.
Bagi Athikah, penelitian tersebut bukan sekadar tugas akhir untuk menyelesaikan studi.
Riset itu menjadi pengalaman menerapkan ilmu Teknik Lingkungan untuk mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat.
Setelah mengikuti Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026 pada Sabtu, 19 September 2026, Athikah berharap dapat melanjutkan karier profesional di bidang Teknik Lingkungan sekaligus mengembangkan usaha mandirinya.(Djoko W)






