MALANGPARIWARA.COM, TUREN – Sekitar 1.270 siswa SMAN 1 Turen mengikuti pemilihan Ketua OSIS dan Ketua Umum (Pilketos-Pilketum) dengan sistem electronic voting (e-voting), Kamis (17/9/2026).
Untuk pertama kalinya, pesta demokrasi siswa di sekolah tersebut meninggalkan surat suara kertas dan beralih ke perangkat komputer.
Bukan sekadar soal kecepatan menghitung suara. E-voting menjadi eksperimen sekolah untuk menggabungkan praktik demokrasi dengan literasi digital siswa.
Enam komputer digunakan dalam pemungutan suara. Menariknya, sistem tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada pihak luar. Desain laman, grafis dan kebutuhan teknis dikembangkan oleh tim internal SMAN 1 Turen.
Kepala SMAN 1 Turen Agus Harianto mengatakan perangkat komputer yang digunakan merupakan fasilitas baru sekolah yang semula dipersiapkan untuk Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Nasional.
“Ini pertama kalinya kami menggunakan e-voting. Kebetulan perangkatnya juga baru kami terima, yang nantinya akan dipakai untuk TKA dan Asesmen Nasional. Sekarang sebagian perangkat kami manfaatkan terlebih dahulu untuk e-voting,” ujar Agus, Jumat (18/9/2026).
Pemanfaatan perangkat tersebut sekaligus menjadi bentuk optimalisasi fasilitas teknologi sekolah untuk kegiatan pendidikan.
“Desain web dan grafisnya juga dari tenaga kami sendiri. Perangkatnya kami manfaatkan, dan pelaksanaannya didukung tim sekolah,” tambahnya.
Tak Lagi Menunggu Hitung Kertas
Ketua panitia Pilketos-Pilketum, Muhammad Ilham, mengatakan pelaksanaan pemilihan berlangsung lancar. Kehadiran e-voting memberi pengalaman berbeda bagi siswa yang sebelumnya terbiasa mencoblos melalui surat suara.
Panitia juga menggandeng pihak KPU dan Panwasku untuk mendukung proses pemilihan.
“Alhamdulillah, pelaksanaannya berjalan lancar. Mungkin daya tariknya karena anak-anak biasanya menggunakan kertas suara,” kata Ilham.
Dari sisi efisiensi, perubahan paling terasa berada pada tahap penghitungan. Jika sebelumnya panitia membutuhkan waktu untuk menghitung surat suara secara manual, sistem digital memungkinkan hasil diketahui melalui real count.
“Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, e-voting lebih cepat karena hasilnya langsung diketahui melalui real count. Jadi proses penghitungan dan penetapan hasil menjadi lebih efisien,” jelasnya.
Hasil pemilihan menunjukkan calon Ketua OSIS nomor urut 2 meraih suara terbanyak dengan selisih sekitar 250 suara dari kandidat lainnya.
Cepat Pegang HP, Belum Tentu Mahir Komputer
Di sinilah Agus melihat pelajaran yang lebih besar dari sekadar suksesnya e-voting.
Kemampuan siswa beradaptasi dengan sistem digital memang tergolong cepat. Namun, sekolah juga menemukan bahwa kebiasaan menggunakan telepon pintar belum otomatis berbanding lurus dengan kemampuan menggunakan komputer untuk pekerjaan produktif.
Siswa relatif terbiasa mengakses media sosial dan melakukan input sederhana. Sebaliknya, kemampuan menggunakan Excel, makro, aplikasi perkantoran dan pengolahan data yang membutuhkan logika masih perlu diperkuat.
“Anak-anak sebenarnya bagus dan cepat menguasai sistem ini, terutama ketika hanya melakukan input. Namun, ketika masuk pada penggunaan Excel, makro, atau pekerjaan yang membutuhkan logika dan pengolahan data, kemampuan mereka masih perlu ditingkatkan,” ungkap Agus.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa literasi digital tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan gawai.
“Modernisasi itu harus dipahami secara keseluruhan. Anak-anak perlu dibekali kemampuan dasar menggunakan komputer dan aplikasi perkantoran. Sebab, ketika mereka melamar pekerjaan di mana pun, kemampuan tersebut akan menjadi salah satu bekal penting,” tegasnya.
Bagi sekolah, pengalaman e-voting menjadi semacam cermin. Siswa sudah akrab dengan teknologi, tetapi masih membutuhkan penguatan agar teknologi benar-benar menjadi alat produktivitas.
Demokrasi Digital, Toleransi Diuji
Pilketos-Pilketum juga menjadi ruang pembelajaran demokrasi yang tidak berhenti pada pencoblosan.
Agus menilai proses pemilihan memperlihatkan bagaimana siswa belajar menghadapi perbedaan pilihan sekaligus keberagaman agama di lingkungan sekolah.
“Religius bukan berarti hanya untuk mayoritas. Kami ingin seluruh siswa, baik yang beragama Islam, Kristen, Katolik, maupun Buddha, dapat menjalankan keyakinannya dengan baik. Kami tidak ingin ada perbedaan yang menjadi penghalang untuk berjalan bersama,” ujarnya.
Ia juga melihat adanya dukungan cukup besar terhadap kandidat dari kalangan Nasrani. Bagi Agus, dinamika tersebut menunjukkan bahwa pilihan siswa tidak semata-mata ditentukan oleh identitas kelompok.
“Ini menunjukkan bahwa anak-anak kita tidak hanya berpikir dari satu sudut pandang atau kepentingan sesaat. Mereka sudah mulai berpikir secara holistik dan menunjukkan sikap moderasi,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting karena demokrasi sekolah bukan hanya mengajarkan bagaimana memenangkan suara, tetapi juga bagaimana menerima perbedaan setelah suara dihitung.
Ketua Terpilih Dituntut Layani Semua
Ilham mengingatkan ketua terpilih agar tidak terjebak pada kemenangan kelompok pendukungnya. Mandat yang diperoleh melalui pemilihan harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab kepada seluruh siswa.
“Pesan kami, tetap menjadi pemimpin yang amanah. Karena dipilih oleh siswa dengan berbagai keyakinan, pemimpin terpilih harus mampu mewadahi semua perbedaan dan memberikan pelayanan yang adil kepada seluruh siswa,” tuturnya.
Menurutnya, kemenangan bukan akhir dari proses demokrasi, melainkan awal dari pembuktian kepemimpinan.
“Siapa pun yang dipilih, itu merupakan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Ketika menjadi seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang baik, amanah, dan mampu melayani semuanya secara holistik, bukan secara parsial,” tegasnya.
E-voting perdana di SMAN 1 Turen pun meninggalkan pesan lebih luas: digitalisasi bisa mempercepat proses pemilihan, tetapi kualitas demokrasi tetap ditentukan oleh manusia yang menjalankannya.
Sekolah kini memiliki dua pekerjaan sekaligus mengembangkan pemanfaatan teknologi dan memastikan siswa tidak hanya menjadi pengguna perangkat digital, tetapi juga mampu menggunakannya secara produktif, kritis, bertanggung jawab, serta menghargai keberagaman. (Djoko W)






