NGAWI, MALANGPARIWARA.COM – Tepung pisang Kabupaten Ngawi didorong naik kelas dari sekadar bahan baku menjadi produk pangan bernilai tambah dan berdaya saing. Upaya itu dilakukan Tim Dosen Berkarya Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) melalui pendampingan teknologi penepungan, diversifikasi produk, hingga penguatan sistem produksi berbasis Good Manufacturing Practices (GMP).
Program Dosen Berkarya Skema A Tahun 2026 tersebut diketuai Prof. Dr. Widya Dwi Rukmi Putri, S.TP., M.P. dengan tema “Diseminasi Teknologi Penepungan dan Diversifikasi Produk Olahan Pisang pada CV Sumber Pangan Lestari Jaya sebagai Produk Unggulan Kabupaten Ngawi.”
Pendampingan menyasar CV Sumber Pangan Lestari Jaya (SPL) di Kabupaten Ngawi.
Tim tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi memulai program dengan memetakan kebutuhan mitra secara langsung, mulai dari proses produksi tepung pisang, kondisi fasilitas, pengendalian mutu hingga peluang pengembangan produk.
Pendekatan lapangan tersebut menjadi penting karena teknologi yang diterapkan harus sesuai dengan kondisi riil industri. Dengan demikian, inovasi tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi dapat dioperasikan mitra dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Prof. Widya mengatakan sinergi perguruan tinggi dan industri diarahkan untuk memperbaiki proses produksi sekaligus membuka peluang pasar baru bagi produk berbasis pisang.
“Melalui sinergi antara tim Dosen Berkarya dan mitra, kami ingin teknologi penepungan pisang tidak hanya mendukung perbaikan proses produksi, tetapi juga menjadi dasar pengembangan produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar lebih luas,” jelasnya.
Tepung Pisang Dikembangkan Menjadi Produk Bebas Gluten
Salah satu hasil penting pendampingan adalah diversifikasi tepung pisang menjadi produk pangan siap olah dan siap konsumsi.
Tim bersama mitra mengembangkan premix pancake berbasis tepung pisang dan cookies tepung pisang bebas gluten.
Langkah tersebut menggeser orientasi usaha dari sekadar menjual bahan baku menjadi pengembangan produk hilir dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Tepung pisang tidak hanya diposisikan sebagai komoditas, tetapi sebagai bahan pangan yang dapat digunakan untuk berbagai produk inovatif, termasuk pangan bebas gluten.
Pengembangan produk juga diperkuat dengan penyusunan buku teknologi pengolahan tepung pisang. Materinya mencakup karakteristik pisang sebagai bahan baku, tahapan produksi tepung, pengendalian mutu hingga pemanfaatannya dalam berbagai produk pangan bebas gluten.
Buku tersebut diharapkan menjadi referensi bagi mahasiswa, peneliti, UMKM maupun pelaku industri dalam mengembangkan pangan berbasis komoditas lokal yang aman, bergizi dan memiliki nilai tambah.
Perkuat GMP untuk Persiapan Pasar Lebih Luas
Inovasi produk kemudian diikuti penguatan sistem produksi. Tim Dosen Berkarya mendampingi CV SPL dalam mempersiapkan pemenuhan dokumen dan penerapan GMP sebagai bagian dari persiapan menuju pasar yang lebih luas, termasuk peluang ekspor.
Setelah evaluasi awal, pendampingan dilanjutkan dengan analisis kesiapan proses dan fasilitas produksi. Pada Agustus 2026, tim kembali melakukan supervisi lapangan di Ngawi untuk mengevaluasi kesiapan fisik fasilitas sekaligus mendukung penyusunan sistem GMP.
Pendampingan tersebut diarahkan untuk membangun proses produksi yang lebih konsisten, higienis dan terstandar. Bagi industri pangan, penguatan aspek tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga mutu produk sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar.
Dengan demikian, peningkatan daya saing tepung pisang tidak hanya ditempuh melalui penciptaan produk baru, tetapi juga melalui pembenahan proses produksi dari hulu hingga hilir.
Dorong Komoditas Lokal Menjadi Produk Unggulan Ngawi
Program Dosen Berkarya FTAB UB juga memiliki keterkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Zero Hunger dan SDG 3 tentang Good Health and Well-being.
Kontribusi terhadap SDG 2 dilakukan melalui pengolahan pisang sebagai komoditas pangan lokal menjadi tepung dan berbagai produk turunannya. Diversifikasi tersebut membuka peluang pemanfaatan sumber pangan lokal secara lebih luas sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
Sementara kontribusi terhadap SDG 3 diwujudkan melalui pengembangan produk bebas gluten serta penguatan pengendalian mutu dan praktik produksi pangan yang baik.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk menghasilkan pangan yang aman dan berkualitas sekaligus memberikan alternatif bagi konsumen.
Kolaborasi UB dengan CV Sumber Pangan Lestari Jaya menunjukkan bahwa hilirisasi pengetahuan perguruan tinggi dapat diarahkan langsung pada kebutuhan industri.
Teknologi penepungan, inovasi produk dan penguatan GMP dipadukan untuk membangun rantai nilai yang lebih kuat.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada pendampingan produksi, tetapi menjadi pijakan bagi tepung pisang dan produk turunannya untuk berkembang sebagai produk unggulan Kabupaten Ngawi yang memiliki nilai tambah, memenuhi standar keamanan pangan, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.( Djoko W)






